RSS

[tulisan iseng] Coba-Coba Gadget Baru: Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019

Oke, jadi ini pertama kalinya aku bikin postingan pakai Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019 yang dikombinasikan dengan Bluetooth Keyboard (tanpa merk). Hahaha.

Praktis juga ternyata ngetik pakai bluetooth keyboard dan tab gini. Setidaknya berat kombinasi kedua barang ini lebih ringan daripada netbook ukuran 13”.

Macem mana sih? Kira-kira begini penampakannya:

Sebenernya kemarin nggak terlalu kepikiran buat beli Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019 ini. Cuman, pas kapan itu jalan ke Mall Kelapa Gading, nggak sengaja mampir ke gerai Samsung dan megang ini gadget. Nggak tau kenapa tiba-tiba terbersit rasa ingin memiliki. *tsaelaahh.. Hahahaa.

Cukup lama mikir-mikir sampai pada akhirnya aku memutuskan buat beli Tab ini. Alasannya? Yah, namanya alasan mah bisa diada-adain ya. Hahaha..

Pertama, aku lagi pengen menggalakkan budaya membaca lagi. Salah satunya dengan berlangganan Gramedia Digital. Cukup bayar Rp 89.000 per bulan, udah bisa download dan baca semua buku terbitan Gramedia yang ada di platform tersebut. Well, meskipun nggak semua pengarang buku favoritku ada di situ sih, tapi setidaknya “ada alasan” buat beli Tab ini. Kan kalo baca di HP berasa kurang mantep gitu. Hahaha.

Kedua, pengen juga mengobarkan kembali semangat buat nulis! Nah, ini dia yang juga jadi salah satu pertimbangan. Kenapa? Karena dengan punya Tab dan Bluetooth Keyboard begini, bawaannya jadi lebih ringkas aja. Kalo lebih ringkas, kan bisa dibawa sebagai bawaan sehari-hari. Kalau udah jadi bawaan sehari-hari, (semoga aja) hasrat buat baca dan nulis semakin gede. Hihi.

Ketiga, Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019 ini ada S Pen-nya. Sebenernya aku pun juga bukan seseorang yang demen nggambar gitu sih, atau bahkan dibilang sama sekali nggak bakat ngegambar. Tapi, dengan bekal S Pen ini, aku jadi nemuin lagi “hobi” yang dulu pernah kujalani pas jaman SMA, yaitu (ala-ala) nulis kaligrafi. Bukan kaligrafi tulisan Arab ya, tapi lebih kepada tulisan latin gitu. Macem buat nulis nama di sertifikat. Sekarang jadi ada alasan lagi buat belajar lebih banyak “handwriting”. Hehehe.

Yah, begitulah.. Namanya juga alasan, pasti akan dicari-cari buat pembenaran. Hahaha.

Jadi, sebenernya apa inti dari postingan ini? Nggak ada sih, cuman iseng aja sok-sokan bikin postingan pertama pake kedua device ini.. 😀 Yah, semoga alasan-alasan di atas bukan cuma jadi alasan aja ya. Aamiin..

Baiklah kalau begitu, see you around!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 26, 2019 inci such a simple life

 

Tag: ,

[review] Mantan Manten (2019)

Oke, entah kenapa, akhir-akhir ini hasrat buat nonton di bioskop lagi tinggi-tingginya. Nggak jarang (terutama weekend) memutuskan untuk marathon nonton, bahkan sampai tiga film sekaligus dalam sehari.. 😀

Setelah hari Sabtu kemaren aku (ketiduran) nonton SHAZAM, hari ini aku nonton film Indonesia yang berjudul MANTAN MANTEN. Awalnya aku emang nggak terlalu excited nonton film yang dirilis tanggal 4 April 2019 kemarin ini. Well, setidaknya nggak se-excited waktu mau nonton CRITICAL ELEVEN ataupun ANTOLOGI RASA. Tapi emang ya, yang namanya Social Media itu sungguh dahsyat. Tiba-tiba aja aku pengen banget nonton film ini, bukan karena film ini dimainin sama Atiqah Hasiholan dan Arifin Putra, tapi karena aku liat di IG Story dua orang temen yang bilang kalau film ini layak ditonton.

Sebenernya bukannya skeptis ya, tapi pas liat jumlah layar yang nayangin film ini nggak sebanding sama layar yang nayangin SHAZAM, PET SEMATARY, ataupun DUMBO, rada-rada mikir juga sih. Film baru dirilis tanggal 4 April 2019, tapi tanggal 6 April 2019 udah harus “rela” berbagi layar sama film-film lain. Sayang sekali sebenernya. Bahkan, di CGV AEON Mall Jakarta Garden City, film ini cuma tayang dua show hari ini, jam 11.25 & 20.05.

Oke, rada kepanjangan sih prolognya. Hahaha. Langsung aja deh.

Mantan Manten

Foto diambil dari: https://www.21cineplex.com

Jadi, Gaes, film MANTAN MANTEN ini sebenernya bukan film drama percintaan yang bakal bikin penontonnya bilang, “Ahh, so sweet” atau bikin cewek-cewek pada klepek-klepek macem film DILAN. Trust me, jangan “tertipu” sama posternya yang dominan warna pink. Film MANTAN MANTEN ini menceritakan tentang kehidupan pasangan kekasih Surya (Arifin Putra) dan Yasnina (Atiqah Hasiholan). Di awal-awal film, penonton udah disuguhkan dengan scene pelamaran Surya ke Yasnina, lengkap dengan kegugupan Surya pas mau ngelamar, yang mungkin emang sering terjadi di kehidupan nyata.

Semuanya berjalan dengan menyenangkan dan mulus, sampai pada akhirnya Yasnina tersandung kasus yang melibatkan ayahnya Surya, Iskandar (Tyo Pakusodewo), yang pada akhirnya membuat Yasnina kehilangan segalanya; harta, karir, bahkan pertunangannya dengan Surya pun pada akhirnya juga dipertaruhkan.

Konflik yang dibangun di dalam film ini memang tidak terlalu kuat, tapi aku kasih dua jempol buat chemistry antara Atiqah Hasiholan sama Tutie Kirana (sebagai pemeran Marjanti, seorang paes manten di Tawangmangu). Keduanya bermain dengan begitu apiknya. Siapa itu Marjanti? Plot selengkapnya bisa dibaca di sini ya.

Dan seperti yang kubilang sebelumnya tadi, jangan tertipu sama posternya yang dominan warna pink. Film ini bukan tentang film drama yang penuh bunga-bunga ataupun yang berakhir bahagia seperti kebanyakan film romantis lainnya. Justru, film ini lebih menitikberatkan pada keikhlasan untuk melepas orang yang disayang.

Salah satu adegan yang paling kusuka dari film ini adalah ketika Marjanti berkata, “Cerita orang itu beda-beda. Jangan memakai pengalaman satu orang untuk membandingkan dengan diri sendiri. Nanti kita jadi susah bersyukur.” Buatku, kalimat ini sungguh-sungguh dalem dan mak jleb.

Mood penonton kaya emang sengaja dibikin naik turun di film ini. Ada lucunya gara-gara Si Dodit (berperan sebagai Darto), ada sedihnya, scene yang agak absurd juga ada, dan yang bikin mewek pun juga nggak cuman satu scene doang. Hahaha.

Salah satu scene yang bikin “nahan napas” biar nggak sesenggukan tu pas Budhe Marjanti bilang, “Duh, Gusti, nyuwun ngapuro.” Hati tu langsung berasa nyesss, berasa langsung keinget dosa sendiri. Wkekeke. Scene ini emang nggak lama, tapi efeknya cukup dalem.

Dan endingnya, duh, emang bener sih kata Mbak Audian Laili di sini, senyum ikhlas Atiqah bikin ambyar byar byar. Untungnya yang bikin ambyar ini bukan scene yang di ending banget, jadi pas lampu studio udah nyala lagi mungkin nggak gitu keliatan sembab matanya. Hahaha.

Btw, sebagai orang Jawa, aku sangat-sangat terkesan dengan film ini. Kenapa? Karena film MANTAN MANTEN ini dibumbui dengan unsur budaya Jawa yang cukup kental, terutama adat dan tradisi pernikahan Jawa. Pas nonton tu sempet terbersit (sedikit) keinginan buat cepetan nikah. Hahaha. Penyebabnya adalah ketika ada salah satu tokoh yang sempat mengurungkan niat dan pengen membatalkan pernikahannya karena khawatir dengan apa yang akan ia dan suaminya hadapi setelah menikah nanti. Dan dengan “anggunnya” tokoh Yasnina bisa meyakinkan dia untuk tetap melangsungkan pernikahannya. Emang bener kata Budhe Marjanti, “Semua masalah selalu ada jalan keluarnya”.

Oya, seperti halnya yang kulakukan setelah nonton film A Star Is Born, aku pun langsung donlot soundtrack film MANTAN MANTEN ini. Ya, lagu “Ikat Aku di Tulang Belikatmu” yang dinyanyikan sama Sal Priadi di film ini emang dalem banget. Bener-bener pas sama filmnya. Kaya mana lagunya, cek di video di bawah ini yah.


Overall, film ini memang bukan film drama percintaan yang sempurna, tapi ceritanya kuat dan ngena banget. Akting Atiqah dan Tutie Kirana bener-bener luar biasa. Jadi, sebelum film ini turun layar, segera tonton ya, Guys!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2019 inci review, such a simple life

 

Tag: , , , , , , ,

[fiksi 200 kata] Tara Namanya

“Duluan, Say!”

“Daahh!” Tara melambaikan tangannya sambil tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang berderet rapi.

Ia lirik jam tangan mungil yang melingkar di tangan kanannya. Jam 11.50 malam. Dilihatnya sekeliling, sepi. Tak seperti biasa, seakan-akan kendaraan pun jarang melintas di jalanan tempat ia berada sekarang. Ia peluk tas jinjingnya lebih erat ke dada, takut ada orang yang berniat jahat padanya.

Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat gerombolan lelaki berlari ke arahnya. Ia mulai panik. Ia berusaha lari sekuat tenaga, mencoba menyelamatkan diri. Sayang, sepatu yang baru ia beli minggu lalu itu justru memperlambat langkahnya. Tanpa pikir panjang ia lepas sepatu hak tingginya dan terus berlari. Naas, tiba-tiba kakinya terkilir. Ia terjatuh.

“Mau ke mana kamu?!” Ternyata segerombol lelaki itu sudah di depan matanya.

Ia merengek ketika beberapa lelaki itu mulai menyeretnya.

“Jangaannn. Tolong!”

Kawanan lelaki itu tak menggubris, malah terus menyeretnya. Sebagian tertawa keras.

“Diam kamu!” bentak salah satu lelaki yang berjaket hitam.

“Jangan bawa saya, Pak,” ujarnya lirih, takut membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Ia semakin memberontak ketika salah satu lelaki itu mendorongnya ke atas mobil.

“Ampun, Pak. Jangan..”

Ia terus meronta, sampai-sampai wig pirang sebahunya terlepas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2018 inci such a simple life

 

[fiksi200kata] Sepotong Kisah Dalam KRL

Aku meliriknya sepintas. Ia yang berkacamata itu langsung membuang muka, seperti sedang berpura-pura melihat rute KRL yang kami tumpangi. Kualihkan pandangan kembali ke layar ponsel, berharap ada pesan masuk, tapi ternyata nihil. Kutengadahkan kepala sambil memejamkan mata, menikmati lantunan lagu “All I Ask of You” dalam versi live orchestra yang terdengar mendayu-dayu melalui headset. Tak terasa senyum tipis tersungging di wajahku, membayangkan aku sedang berada di gedung opera megah nan klasik, The Royal Albert Hall, London.

Sambil menghela nafas, mataku tiba-tiba terbuka dan secara refleks melihat ke arahnya kembali. Ia tampak salah tingkah, kemudian mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Secara tak sadar ia membasahi bibir, lantas menggigitnya. Berkali-kali ia kedipkan mata, mungkin berharap supaya aku segera memalingkan pandanganku darinya.

Entah pikiran apa yang merasukiku, tiba-tiba aku bangkit berdiri, berjalan ke arahnya. Kusapa dirinya sambil mengulurkan tanganku dan mengajaknya bersalaman.

“Turangga,” kataku, sambil terus mengulurkan tanganku.

Tampak keraguan dari sikapnya, tapi perlahan ia mendongakkan kepala, melihatku.

Ia tersenyum simpul.

“An…”

Mendadak aku terkesiap di tempat dudukku. Kepalaku masih menengadah, mataku melirik ke kanan dan ke kiri. Kutegakkan badan dan kuedarkan pandang. Kulihat orang-orang bergegas masuk ke dalam kereta yang tampak lengang.

Oh, shoot! Lagi-lagi aku terlelap sampai ke stasiun pemberhentian terakhir!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 27, 2018 inci bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , ,

[review] Bohemian Rhapsody (2018)

Okay, setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, akhirnya review tentang film “Bohemian Rhapsody” ini (semoga) jadi pembuka keinginan buat rajin nge-blog lagi. Hahaha. Aamiin.. 😀

Kenapa sih tiba-tiba aku pengen nge-review film ini? Karena, ya nggak bisa dipungkiri lagi kalo film ini tu jadi salah satu film favoritku seeepanjang masa.. Bukan lebay ya, tapi memang selain film Up, Les Miserables, sama The Greatest Showman, film Bohemian Rhapsody ini setidaknya udah kutonton sebanyak empat kali di bioskop. Hihi. *dan kemungkinan ke depannya bakalan nonton lagi dan lagi.. ;D

Btw, mungkin postingan ini bukan ke review sih jadinya, tapi lebih ke pendapat pribadiku tentang biopik band Queen ini. Hehe.

Well, buat yang belum tau film ini tu ceritanya macem mana, kamu bisa baca sinopsis filmnya di sini ya.

Okay, kalau kamu liat jajaran film favoritku di atas tadi, tiga di antaranya adalah film musikal. Hehehe. Ya, emang dasarnya aku suka banget sama film-film musikal sih, entah itu hanya sebagai selingan ataupun jadi dialog yang dinyanyikan (kaya di film Les Miserables). Walaupun, nggak semua film musikal kutonton berkali-kali juga.. 😀

Awalnya kenapa aku tertarik buat nonton film ini karena sebelumnya aku udah suka sama lagu Bohemian Rhapsody, yang menurutku sangat unik. Lagu tanpa reffrain, lagu yang menggabungkan beberapa genre sekaligus, dan lagu dengan durasi yang cukup panjang di masanya. Terlebih, Marching Band Pupuk Kaltim Bontang dulu juga pernah bawain lagu ini di salah satu repertoire pagelarannya di GPMB 2004. Dan waktu itu, MB PKT Bontang bawain lagu ini dengan flawless, tanpa cela.. Keren!

Anyway, balik lagi ke film Bohemian Rhapsody. Salah satu hal yang bikin aku pengen nonton film ini lagi dan lagi adalah karena lagu-lagunya yang bener-bener bikin pengen terus-terusan sing-along. Dari sekian banyak lagu yang ditampilin di film ini, sebenernya cuman ada beberapa aja sih yang kutau, kaya Bohemian Rhapsody (pastinya), Love of My Life, We Will Rock You, sama We Are The Champion. Hahaha. Well, aku memang bukan fans fanatiknya Queen, cuman suka aja sama beberapa lagu mereka. Tapi abis nonton filmnya, aku jadi tau beberapa lagu lain, dan bahkan langsung suka, kaya lagu Radio Ga Ga sama Don’t Stop Me Now.

Yang bikin makin kesengsem sama film ini tu pas bagian konser di Live Aid 1985 sih. Sumpah, berasa banget hype-nya.. Macem lagi nonton beneran.. *okay, ini lebay sih. Hahaha.* Buatku, karena tau kalau di film ini bakalan ada adegan lagi konser, makanya dari pertama kali nonton langsung milih di studio yang pake audio system Dolby Atmos. Nonton pertama di Gading XXI yang pake Dolby Atmos, trus yang kedua di Starium CGV Bella Terra, yang ketiga di Starium CGV Grand Indonesia, trus yang keempat di Satin CGV Mall of Indonesia. Dari keempat studio tadi, yang paling joss gandhos top markotop adalah di Starium CGV Grand Indonesia. Sumpah, audio-nya berasa banget, apalagi pas konser Live Aid di bagian akhir filmnya. Dan di situlah aku ngerasa merinding liat adegan konsernya. Gilaaa, berasa banget hype-nya.. Next, harus cobain nonton di IMAX. Hihi. Mungkin bakalan nggak jauh beda sama Starium sih, tapi selaluuu aja ada alasannya buat nonton film ini lagi dan lagi.

Daaaan, setelah kedua kali nonton, aku baru kepikir buat cari lagu2nya di Joox. Ada? Ada banget! Nggak perlu mikir2 lagi, langsung dah kudonlot lagu2nya di situ.. Hihi. Mayan buat denger2 di kantor atau kalau lagi di perjalanan. Btw, setelah nonton keempat kalinya, aku iseng cari penampilan Queen di Live Aid 1985, dan ternyata ada! Duhh, girangnya bukan maen.. Hahaha. Bisa liat kaya gimana sih penampilan aslinya Queen di konser itu. Dan aku baru tau dong kalo ternyata audio yang dipake di film Bohemian Rhapsody pas adegan konser Live Aid itu bener-bener rekaman asli dari konsernya Queen tahun 1985 lalu. WOW!!

Btw, film ini tu bener-bener bisa mengkreasikan kembali penampilan Queen di Live Aid 1985.. Sumpah, detaiiill banget. Mulai dari aksi panggung Rami Malek sebagai pemeran Freddie Mercury, tata panggung yang dibuat semirip mungkin dengan tata panggung aslinya, bahkan, paper cup Pepsi yang ditaruh di atas piano Freddie pun juga menyerupai kondisi aslinya. Dan, penampilan Rami Malek di konser ini bener-bener patut diacungi jempol! Gaya bernyanyinya, gerakan bibirnya, sampai ke pose di akhir salah satu lagu yang dibawakan pun mirip banget sama Freddie Mercury. Good job!!

Overall, film ini emang sangat pantas buat ditonton. Oya, bukannya mau endorse atau gimana ya, tapi kamu bakalan lebih dapetin hype dari film ini kalo nonton di Starium CGV Grand Indonesia. Trust me.. Udah layarnya gede, suaranya dahsyat pula.. 😀 Atau, kalau enggak, minimal carilah studio XXI yang pake audio Dolby Atmos.. Hehehe.

Jadi, kalau kamu penasaran sama filmnya, cuss, langsung tonton sebelum turun layar! 😀

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 6, 2018 inci entertainment, review

 

Tag: , , , , ,

[Review] Noe Coffee & Kitchen: Sebuah Cafe Mungil nan Menarik di Kawasan Mahasiswa

Jadi begini ceritanya, sebelumnya aku ada obrolan sama temen Fiksimini, Mas Teddy Andika, buat bikin project blog ala-ala. Rencananya sih buat warming up ntar bikin project nulis bareng (yang entah kapan). Jadilah diputuskan bahwa hari Rabu kemaren adalah deadline posting #Fiksi200Kata di blog kami. Berhubung kalo ngetik di rumah idenya suka ndak nongol-nongol, akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah, mau ngetik sambil nongkrong-nongkrong ganteng.

Awalnya sempet bingung mau ke mana, secara kalo lagi jaman Lebaran gini Jogja ampun-ampunan macetnya. Pas udah muter-muter beberapa waktu, sempet kecetus buat ke Lawas Cafe-nya Adhistana Hotel. Usut punya usut, ternyata Lawas Cafe belum nyediain colokan lagi karena denger-denger lagi ada renovasi di lantai dua.

Akhirnya keliling-keliling lah tu ya ke mana-mana aja, yang tentunya sambil menghindari kemacetan. Udah muter-muter, akhirnya nemu Noe Coffee & Kitchen di Jl. Wahidin Sudirohusodo (selatan Galeria Mall). Eh, sorry, kebiasaan ngomong gaya orang Jawa, nunjukin tempat atau arah pake arah mata angin. Hehehe. Pokoknya, kalau dari arah Jl. Solo, di perempatan Galeria Mall tinggal belok kiri, trus Noe Coffee & Kitchen ini terletak di sebelah kiri.

Sebenernya cafe ini tu bukan jadi pilihan utama buat jadi venue kegiatan ngetik-mengetik ini. Cuman, pas lagi di perempatan Galeria dari arah UKDW, kok liat ada cafe unik yang sangat eye-catching dari luar. Sempet muter ke arah Bethesda-Gramedia, akhirnya aku memutuskan buat nyobain Coffee Shop satu ini.

IMG_5435

Pas sampai di sana, suasana cukup ramai. Hampir sebagain besar kursi terisi. Well, berarti pilihanku tepat buat mampir ke Coffee Shop ini. Pas liat ke dalem, interiornya sangat instagram-able banget. Tipikal cafe-cafe hiets masa kini lah. Hehe. Trus pas liat sekeliling, yes, ada beberapa colokan yang emang disediakan sama cafe ini buat mengakomodir orang-orang kaya aku yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahasa kerennya sih Berproses Kreatif. Hahaha.

IMG_5434

IMG_5436

Jadi, kalau kita ke Noe Coffee & Kitchen ini, kita harus pesen makanan dan minuman langsung di kasir. Karena, kulihat emang staffing Noe Coffee & Kitchen ini sangat efektif. Nggak terlalu banyak orang, tapi cukup untuk mengakomodir kebutuhan pelayanan di cafe ini.

IMG_5437

Kebetulan kemarin aku ngabisin waktu sekitar LIMA jam, dari jam 20.30 sampai sekitar jam 1.30 (hahahaha). Dua tiga jam pertama kebetulan ada temenku yang ikutan, jadi ngobrol ndak brenti, sedangkan niatan utamanya (baca: berposes kreatif bikin #Fiksi200Kata) agak terabaikan. Wkekeke.

Btw, ini kenapa aku jadi ngomongin urusan pribadi yak, orang mau review cafenya.. Hahaha.

Selama lima jam aku ngendon di Noe Coffee & Kitchen ini, kuamati, rata-rata pengunjung menhabiskan waktu sekitar 1-2 jam. Dan bener aja, mungkin karena dari luar cafe ini udah sangat eye-catching, pengunjung datang dan pergi, ndak brenti. Hampir sebagian besar kursi selalu terisi.

IMG_5438

IMG_5439

Nah, yang aku suka dari cafe ini, buat aku yang emang cari tempat buat ngetik dll, cafe ini tu sangat nyaman. Sangat nyaman dalam artian:

  1. Harga cukup terjangkau (kemaren aku pesen Iced Lychee Tea 18rb, Iced Cappuccino 23rb, Snack Platter (french fries, crispy tofu, chicken pop corn, sausage) 32rb)
  2. Interiornya super ketjeh
  3. Staffnya ramah, nggak rese sama orang-orang yang kaya aku, yang ngabisin sekian jam di situ. Hahaha. *piss
  4. Colokan bertebaran
  5. Free wifi (Sayangnya kemarin ndak sempet ngetes berapa kecepatan wifinya. Kayaknya sih masih oke juga buat streaming kok).
  6. Jam operasional sampai larut malam, yaitu jam 02.00 (last order sekitar jam 01.00).

Buatku yang baru pertama kali ke sana, sangat sangat puas dengan semuanya. Everything was okay. Not perfect, but so memorable. Likelihood to return? Definitely! This place is awesome for me.. Good job, Noe Coffee & Kitchen.

Oya, berhubung sekarang jamannya mah dikit-dikit-upload-dikit-dikit-upload ya, pas lagi aku post video suasana Noe Coffee & Kitchen di Instagram Live-ku, ada beberapa temen yang cukup tertarik trus tanya-tanya itu di mana. Well, selamat datang di era social media! 😀

Duh, ini ya, udah lama ndak nulis di blog aja, sekalinya nulis segini panjang. Hahaa. Maafkan yess.. :* Udah ah, segitu dulu aja. Yang pasti, kalo kamu lagi cari tempat nongkrong yang oke di sekitara kawasan mahasiswa, Noe Coffee & Kitchen ini bisa jadi pilihan yang tepat! Okay, sekian review ala-ala dariku. Hahaha..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 29, 2017 inci review, yummy..!!

 

Tag: , , , , , ,

Asuransi? Yay or Nay?

Guys, pernah ndak kamu ngerasa males ngangkat telpon dari nomor tak dikenal (terutama nomor telpon kantor; 021, 022, dll)? Jujur, aku sih seringnya males ngangkat telpon kecuali dari temen atau keluarga yang emang nomornya udah aku simpen di hape.. Hehe. Gimana tidak? Kebanyakan dari telpon2 itu kalo bukan dari kartu kredit, nawarin pinjaman dana, atau nawarin asuransi. 

Bukannya mau mendiskreditkan profesi telemarketing asuransi ya, tapi kadang2 telpon mereka agak-agak terasa mengganggu menurutku. Ya memang tuntutan pekerjaan juga sih, mereka punya target untuk closing nasabah asuransi lewat telpon. 

Nah, sebenernya aku mau cerita tentang hal positif dan tentunya menyenangkan dari “Asuransi” ini. 

Jadi, suatu ketika, ada telpon masuk dari asuransi Cigna, nawarin produk Cigna Eazycare. Awalnya aku udah tolak tapi mereka tetep bersikeras biar aku ndengerin omongan mereka. Kadang2 agak jengah juga, terutama pas lagi ribet kerjaan. 

Sempet nolak beberapa kali, akhirnya pas kerjaannya lagi lowong, aku coba dengerin lah penjelasan si Telemarketer. Setelah dijelasin panjang lebar, tetep aja mental. Aku ndak mau ambil produk mereka, dengan alasan takut tertipu, dll. 

Sampe suatu ketika, mereka telpon lagi untuk ke sekian kalinya, nawarin produk yang sama. Sebenernya aku cukup tertarik pada kali keberapa mereka njelasin produk Cigna Eazycare itu. Akhirnya dengan pertimbangan ini itu, aku “iseng” coba ikutan Cigna Eazycare Gold. Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah di-cover-nya empat perawatan gigi dengan asuransi tersebut: perawatan akar gigi, scaling, pencabutan gigi, sama pencabutan gigi bungsu. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di sini. Singkat cerita, akhirnya aku ambil asuransi itu dengan premi sekitar 300rb an / bulan. 

Jalan sekitar empat bulan, gigi bungsuku ternyata bolong. Aktivitas sehari2ku bener2 keganggu sama si bungsu yang lagi begonoh beginih itu. Huhu. Setelah coba tanya2 ke Customer Care-nya, aku beraniin buat periksa gigi pake asuransi sistem cashless ini. 

And, here it is… 


Berhubung giginya masih sakit (banget) dan emang harus dicabut, akhirnya sama dokternya cuma dikasih obat sama disuruh rontgen gigi. Emang dasarnya perawatan gigi tu mahal ya, cuma buat konsultasi sama dokter (yang cuma lima menit, dibanding sama nunggunya yang hampir dua jam), obat, sama rontgen gigi, abis sekitar 500rb an. Dan ternyata semuanya itu di-cover sama asuransi Cigna Eazycare Gold. Yay! 

Walaupun, ujung2nya ndak jadi cabut gigi gara2 perkiraan harganya sampe abis sekitar 3,5juta an, sedangkan yang di-cover buat cabut gigi bungsu cuman 1jt. Sebenernya sih lumayan ya bisa ngurangi biaya sampe 1jt an gitu, cuma ya dasarnya emang lagi “sayang” aja ama uang, akhirnya aku batalin cabut gigi pake asuransi ini. Agak2 ntar dikit aja, cabutnya pake BPJS! ;D

Well, sebagian orang yang nyebut asuransi itu mubazir atau cuman buang2 uang, mungkin karena emang mereka alhamdulillah-nya jarang pake tu asuransi, jadi kesannya cuman bayar bayar doang. Tapi kalo pas ada kasus kaya aku gini, aku ngerasa sangat dimudahkan sih. Hehe. 

Cuman, balik lagi, kalo mau ambil asuransi lewat telemarketing, emang musti tanya detail sih. Takutnya ujung2nya ngerasa “dibohongin” aja. 

Jadi, menurutmu Asuransi itu “Yay” atau “Nay”? Menurutku sih “Yay!” ;D 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2016 inci such a simple life

 

Tag: , , , , ,

(Menunggu Pengumuman) CCIP AMINEF 2015

Well, sebenernya aku agak sungkan buat nulis tentang CCIP AMINEF 2015 di blog ini. Pertama, segimanapun aku ngarepnya dapet beasiswa ini, tapi sampe saat ini aku masih berada dalam tahap menunggu pengumuman untuk interview. Kedua, ya karena emang masih dalam tahap menunggu, jadinya ngerasa kalo misalnya aku udah nulis postingan tentang CCIP AMINEF 2015 trus ternyata ndak lolos, ada rasa “malu” aja sih. Hehe.

Tapi, yasudahlah, apapun hasilnya nanti, pasrah aja.. Yang penting udah berusaha maksimal, dan sekarang tinggal berdoa aja sambil nunggu dapet e-mail dari AMINEF untuk panggilan interview.. Boleh tolong dibantu mengamini? AAMIIN.. 😀

Sebenernya aku nulis ini juga terinspirasi dari blog tetangga, yang nulis tentang penantian panggilan interview juga. Dan ternyata, tulisan di blognya itu malah jadi wadah untuk berkomunikasi antar sesama pelamar beasiswa CCIP AMINEF ini. Hehe. Soalnya, ndak tau kenapa, sampe saat ini, ndak ada satupun tulisan atau bahkan twit tentang pengalaman nunggu pengumuman CCIP AMINEF 2015 yang berhasil kutemukan di seantero google *halah*.

Kalau berdasarkan tulisan-tulisan yang kubaca sebelumnya, pengumuman untuk interview CCIP AMINEF ini memang sekitar 3-4 minggu setelah deadline, which is, harusnya sekitar tanggal 20an e-mail tersebut udah diterima sama kandidat yang lolos ke tahap interview. Tapi, mungkin CCIP AMINEF tahun ini sedikit berbeda. Karena, biasanya deadline CCIP AMINEF itu tiap tanggal 1 November, tapi untuk tahun ini dimundurin jadi tanggal 1 Desember 2014. Dan karena emang bulan Desember tu bulan tutup tahun dan bulan banyak libur, mungkin, bisa jadi, pengumumannya emang sedikit dimundurin.. *menghibur diri* 😀

Btw, saking ngarepnya dapet beasiswa ini, sampe-sampe kapan itu aku sempet mimpi nglewatin kesempatan berharga buat interview CCIP AMINEF hanya gara-gara ndak baca e-mail. Yang harusnya interview hari Jumat, tapi aku baru baca e-mail itu di hari Sabtunya. Kan ngenes.. Hahaha. Udah gitu, aku sampe nangis kekejer pula di mimpi itu sambil ngomong ke manajerku, “Mbaaak, aku kan udah nunggu-nunggu kesempatan ini dari tahun 2011, masa kelewat gitu aja? Huwaaa!!” XD Kadang suka ketawa sendiri kalo inget sama mimpi itu.. Dan alhasil, sekarang seeetiap hari pasti buka e-mail, bahkan sampe ngecek ke folder Spam. Hahahaha.

Well, yang bisa dilakuin sekarang ya cuman pasrah sambil terus berdoa pagi, siang, sore, malem, setelah sholat.. Kalau ikut program ini emang baik buatku, keluargaku, dan masa depanku, aku minta didekatkan, dan tentunya juga minta dimudahkan untuk meraih mimpi itu. Tapi kalau emang ndak baik, ya minta diikhlasin aja. Hehehe. Cliche, but it’s true.. Yang udah dilakukan kemarin-kemarin emang udah maksimal, dan sekarang saatnya masrahin diri. Percaya aja bahwa apapun hasilnya nanti, pasti emang itulah yang terbaik buatku.. 🙂

Udah ah, malah jadi ngelantur tulisannya.. Hehe.

Just wait and see.. *mringis* 😀

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2014 inci such a simple life

 

Tag: , ,

Ça Me Met En Colère !

Je n’aime pas les personnes que passer beaucoup de temps dans l’ATM.

Comme ce matin, quand j’etait à l’aeroport. J’ai du prendre un vol en 8h50, mais j’ai du prendre l’argent en l’ATM. Il y avait une femme que passer beaucoup de temps dans l’ATM quand j’ai eu un peu de temps.

Ça me met en colere !

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 26, 2014 inci such a simple life

 

Aksi Kotak Oranye 2014

Howaaaahh, udah lama banget ndak update blog.. X_X *sapu-sapuin dikit ah* ;D

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama vakum, akhirnya hari ini aku berniat untuk update blog juga. Hehe. Dan, alasan apa lagi selain Aksi Kotak Oranye yang bisa bikin aku seniat ini buat langsung aku post di blog? 😀

photo

 

Jadi, awalnya tu aku tau Aksi Kotak Oranye sebenernya udah dari tahun lalu, liat di postingan-postingannya Mbak Galuh di Path. Waktu itu ya biasa aja liatnya, cuman sempet komen, “Wih, keren nih!”, tapi trus ya udah. Hehe. Nah, pas kemaren kebetulan mudik buat ikutan pilpres, ketemulah aku sama Mbak Galuh lagi, di Jogja. Eh, pas dia njelasin tentang Aksi Kotak Oranye kok aku langsung bilang, “Mbok aku diajakin yang di Jakarta!”. 

Dan, ndak lama setelah itu, “resmilah” aku jadi salah satu tim Aksi Kotak Oranye Jakarta, bantuin Mbak Galuh ama Thia di (kami menyebutnya) tim Komunikesyen.. ;D 

Pas ketemu sama temen-temen panitia yang lain di Jakarta, ndak tau kenapa, walaupun aku banyak diam *seperti biasa*, tapi aku langsung klik sama mereka. Obrolan dari meeting pun berlanjut di grup Whatsapp. Dan entah gimana, saking excited-nya, aku justru jarang megang akun Path pribadi. Haha. Jadi, selama beberapa hari justru akun Path Kotak Oranye Aksi-lah yang standby di HP-ku.. Yah, walaupun beberapa kali sempet salah akun sih! #pfft

Dan sejak aku jadi panitia di Aksi Kotak Oranye Jakarta, aku coba ikutan “ngomporin” temen-temen di sekitarku buat ikutan donasi buat Aksi Kotak Oranye. Dan alhamdulillah, respons dari temen-temen cukup positif. Sempet pernah hari apa gitu, aku sampe bela-belain “jemput bola” ke beberapa temen yang mau donasi. Alhamdulillah, setelah ke sana-sini dalam satu malem itu bisa ngumpulin beberapa ratus ribu dari beberapa donatur berbeda. Hehe. Sebenernya bukan nominal uang yang aku kumpulin yang bikin seneng, tapi semangat temen-temen buat berbagi tu lho. Luar biasa!! 🙂

Berhubung tanggal 23 Juli malem kemaren aku udah mudik ke Jogja, otomatis aku ndak bisa bantuin tim Aksi Kotak Oranye Jakarta buat packing, dll. Sebenernya pengen banget bisa bantuin, tapi ya gimana lagi? Hehe. Sampe Jogja, aku sama Mbak Galuh dan tim Jogja, mulai merapatkan barisan buat mbahas mekanisme distribusi di Jogja. *halah* Alhamdulillah, dengan bantuan dari temen-temen Jogja, semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Dan, tanggal 26 Juli 2014 tadi, secara serentak seluruh tim Aksi Kotak Oranye mendistribusikan seluruh donasi di 3 kota: Jakarta, Jogja, dan Bali.

photo 4 photo 1_2 photo 5_1 photo 4_1 photo 2_1 photo 1_1Beneran deh, walaupun capek, panas, lelah, tapi semua itu ndak menyurutkan semangat seluruh tim Aksi Kotak Oranye buat berbagi. Dari semua kota, total donasi yang terkumpul mencapai Rp 50jutaan dan ratusan toples/kaleng kue. Kesemuanya itu akhirnya dikonversikan ke dalam paket-paket kue sejumlah 764 paket (Jakarta), 111 paket (Jogja), dan 173 paket (Bali). Bener-bener luar biasa semangat dari tim Aksi Kotak Oranye untuk mengumpulkan donasi. Bahkan, sampai H-1 sebelum distribusi pun masih aja ada donasi yang mengalir. Subhanallah.. :’)

Donasi yang terkumpul tahun ini jauh melebihi total donasi tahun lalu. Bukannya membandingkan, tapi ternyata animo donasi ke Aksi Kotak Oranye semakin besar. Awalnya sama sekali ndak kebayang bisa mencapai ke angka itu. Alhamdulillah, banyak pihak yang mau membantu kami–tim Aksi Kotak Oranye–untuk mewujudkan misi kami, yaitu berdonasi dalam bentuk paket kue lebaran, karena setiap orang berhak merasakan indahnya suasana lebaran.. 🙂

Sekali lagi, aku mewakili seluruh panitia atau tim Aksi Kotak Oranye, mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya untuk seluruh donatur yang sudah berkenan menyisihkan sebagian dari rejekinya untuk disalurkan ke orang-orang yang membutuhkan. Dan tak lupa, kami juga ngucapin terima kasih buat semua volunteer yang udah mau berpanas-panasan bantu tim Aksi Kotak Oranye untuk mendistribusikan semua donasi yang telah masuk. 

Dan terutama, terima kasih untuk seluruh tim Aksi Kotak Oranye atas kesempatan yang diberikan untuk bisa berbagi kebahagiaan di bulan Ramadhan ini. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa berbagi itu menyusahkan, tapi buat kami, berbagi itu menyenangkan.. 🙂 

photo 2_2Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah terlibat dalam Aksi Kotak Oranye 2014. Semoga semuanya mendapatkan berkah dari Allah SWT.. 

Dan semoga, rasa ingin berbagi ini tak hanya cukup sampai di sini. *kemudian mendadak serius* #eh? 😀

Ayo tebar #1001berkah #Ramadhan bersama #AksiKotakOranye!! 

 

 

Tag: , ,

[review] The Secret Life of Walter Mitty

Hari Kamis kemarin, sambil nunggu jalanan Jakarta sepi lagi, aku akhirnya mutusin buat nonton. Awalnya bingung, mau nonton Pukulan Maut apa Walter Mitty ini. Akhirnya, karena anginnya cukup gede, dan takut ujan, aku milih nonton Walter Mitty, yang cuman jalan kaki ke bioskopnya.. 😀

Jadi, film ini tu bercerita tentang seorang pegawai di sebuah majalah bernama “LIFE” yang terancam dipecat gara-gara perusahaan akan mengubah format majalah LIFE ini menjadi digital. Untuk lebih jelasnya, baca sinopsis dari 21cineplex.com di bawah ini ya: *bilang aja males ngetik. ahhahaa*

Sebagai seorang yang bekerja di sebuah majalah ternama Life, Walter Mitty (Ben Stiller) malah terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Walter tidak pernah melakukan petualangan sedikitpun dalam kehidupannya. Yang bisa dilakukannya hanyalah berimajinasi. 

Berawal dari sebuah foto lama milik Sean O’Connell (Sean Penn), Walter memutuskan untuk merubah hidupnya dengan melakukan petualangan ekstrim. Ia berusaha menemukan Sean O’Connell dan melakukan perjalanan yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya. Berhasilkah Walter menemukannya? lalu apakah petualangan itu nyata atau Walter kembali berimajinasi?

Film Walter Mitty ini adalah salah satu film yang bisa bikin aku melek dari awal sampai selesai. Secara, biasanya kan suka tiba-tiba ketiduran, atau ngantuk gara-gara filmnya agak-agak kurang menarik. Hehe. 

Salah satu yang aku inget dan menurutku sangat menarik dari film ini adalah motto dari Majalah LIFE itu sendiri:

To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.

Motto itu yang akhirnya jadi “panduan” buat si Walter Mitty untuk memperjuangkan pekerjaannya.

Menurutku, film ini ringan, menarik, dan inspiring. Dan yang pasti, ya itu tadi, ndak bikin ngantuk. Hehe. Selain itu, scene-scene yang ditampilkan di film ini juga bagus. Hampir ndak ada goofs yang ketangkep mataku. Bahkan, pas adegan di ruang “negatif foto” aja yang kupikir bakalan berpotensi ada goofs gara-gara nampilin jam dinding, ternyata endak. 😀 Well, goofs sih tetep ada, cuman ndak fatal-fatal amat lah.. Hehe. 

Beberapa adegan memang bikin penonton ketawa, terutama pas Walter Mitty-nya ngalamun. Emang dasar ya tu orang, ngalamunnya suka dahsyat. Hahaha. 

Sempet sih ada adegan yang bikin “Yaaahhh.. :(“, tapi ternyata endingnya kece! Bahkan sempet bikin aku ber-“Oohhh” ria.. 😀 So touching.. :’) 

Buat yang belum nonton, tonton deh sebelum ilang dari peredaran. Soalnya filmnya worthed buat ditonton. Durasinya pun cukup lama, 110an menit. 

Daftar pemainnya pun cukup kece. Selain Ben Stiller (yang jadi pemeran utama sekaligus sutradara), ada Sean Penn, Adam Scott, Paul Fitzgerald, sama Kristen Wiig juga. *Ini semua cuman googling. Padahal aslinya juga ndak gitu familiar sama film-film mereka.. XD*

Pokoknya, selagi filmnya masih diputer di bioskop, segerain nonton deh.. Dijamin ndak ada adegan aneh-aneh.. Hehe. 

Overall, aku kasih nilai 8/10 buat film ini. Ringan, lucu, ndak bosenin, dan tentunya inspiratif. 

Good job, Ben Stiller! 🙂

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2014 inci entertainment

 

Tag: , , , , , , ,

Jogja Marching Concert 2013: Konser Pamitnya Marching Band-Marching Band Jogja ke #GPMB2013

Beuh, udah lama banget ndak update blog. Jadi mau malunya selangit.. *halah* XD

Mumpung pas lagi pengen, dan emang ada waktu, dan kebetulan waktunya juga pas, mau bikin posting tentang Marching Band ah.. 😀 Kebetulan kan minggu depan ada Grand Prix Marching Band, jadi biar euforia-nya lebih berasa. Hehe.

Jadi, seminggu yang lalu, aku sengaja ambil cuti ke Jogja, salah satu tujuannya adalah buat nonton Jogja Marching Concert 2013. Yah, emang ndak kupungkiri, aku kepikiran buat ambil cuti ke Jogja abis liat salah satu postingan temen tentang Jogja Marching Concert 2013 di akun Pathnya. Jadilah, saat itu juga aku ngajuin form cuti, trus langsung cari tiket kereta.. ;D

Image

Sebenernya sih aku ndak perlu repot2 ke Jogja buat nonton JMC 2013 ini, toh juga ntar pas di GPMB bakalan bisa liat mereka juga. Oh iya, jadi JMC 2013 ini tu ternyata semacam Konser Pamit-nya beberapa Marching Band Jogja yang mau ikutan GPMB 2013. Secara biasanya kan konser pamit sendiri-sendiri, dan bahkan kadang jadwal konser pamitnya bentrok satu sama lain, jadinya Keluarga Marching Band Jogja (atau entah apa itu namanya) sepakat buat ngadain konser pamit bareng-bareng. Ya intinya biar penikmat Marching Band di Jogja—yang mungkin ndak bisa nonton GPMB—bisa nonton beberapa Marching Band Jogja yang mau tanding di GPMB. Dan kelima Band itu adalah Marching Band UGM, Marching Band Citra Derap Bahana UNY, Drum Corps UMY, Marching Band UII, dan Marching Band Saraswati ISI Jogja.

Ada satu hal yang menarik dari JMC 2013 kemarin, yaitu keikutsertaan MB Saraswati ISI Jogja. Jadi, MB ini tu baru lahir sekitar tahun 2012. Dengan penuh percaya dirinya, MB Saraswati ini berani ikutan GPMB 2013. Sebuah langkah besar yang patut diacungi jempol! Salut untuk keberanian dan semangat mereka! 🙂

Mungkin aku mau kasih opiniku tentang JMC 2013 kemarin ya. Secara keseluruhan, JMC 2013 ini jadi semacam mini GPMB, lengkap dengan parking lot dan ticketing-nya.. 😀 Bener-bener emang panitia JMC 2013 kali ini, kok ya ndak dari dulu gitu diadain konser pamit keroyokan gini. Hehehe.

JMC 2013 dibuka dengan penampilan MB Saraswati ISI Jogja. Secara umum, sebenernya paket yang dibawain sama MB Saraswati ISI ini cukup menarik. Ada beberapa lagu klasik yang dibawain. Penampilan dari CG-nya pun juga ada “cerita-nya”. Tapi satu hal yang agak disayangkan, player-nya sendiri kurang disiplin dengan display dan permainan musiknya. Contohnya, pada saat display off, beberapa player masih gerak-gerak, mbenerin posisi displaynya. Padahal hal ini setauku sangat-sangat mengurangi penilaian display. Udah gitu, beberapa playernya juga masih tengak-tengok pas display. Semacam kurang yakin. Coba kalo mereka lebih yakin dan disiplin, pasti lebih bisa dinikmati kok.

Abis itu, MB UGM tampil di urutan kedua. MB UGM tu salah satu MB yang kutunggu di JMC 2013, secara aku dulunya jebolan MB UGM.. Hehehe. Paket yang dibawain MB UGM di GPMB 2013 nanti judulnya “Papua: Mutiara Hitam Dari Timur”. Secara keseluruhan sih aku kurang bisa ndapetin feel Papua-nya, walau di beberapa movement berasa Papua banget. Ndak tau juga kenapa, dapet feel Papua-nya cuman sekitar 60% an. *sotoy* XD

Bukannya mentang-mentang aku jebolan MB UGM, trus aku bilang “MB UGM kece” ya, tapi emang malem itu MB UGM tampil cukup gemilang. Musiknya jelas, CG-nya cukup rapi, koreonya pun menarik. Cuman, yah, dari pertengahan ke belakang masih kurang agak rapi. Mungkin karena emang belum dipoles sih. Hehehe.

Abis MB UGM, giliran CDB UNY yang tampil. Eh, CDB UNY bukan ya? Aku lupa. Hahahhaa. *toeng* XD

Udah, ndak usah urut aja deh mbahasnya.. Hehee.

CDB UNY, menurutku, salah satu pesaing terberat MB UGM. CDB UNY ini bawain paket lagu-lagu Rock. Dari pandanganku sih penampilan CDB UNY berasa banget Rock-nya. Dari CG-nya, musiknya, dll. Brass-nya banyak main timing, dan kalau missed dikit aja, pasti udah amburadul tuh. Hehehe. Cuman, brass-nya CDB UNY kece! Lumayan bisa mainin timingnya dengan apik. Tapi sayangnya, di beberapa part, brass-nya banyak yang over power. Didengernya jadi kurang enak, padahal lagunya udah asik. Dan aku paling suka sama endingnya yang super kece!! Hahaha. Semua pemain musik mengelilingi CG yang ada di tengah lapangan, trus semua CG nglempar flag-nya ke luar lingkaran itu. Dan endingnya dibikin semacam pertunjukan musik rock yang cadas dan sangar.. 😀 MB UGM musti ati-ati nih sama CDB UNY. Bener-bener terlihat seri! Hehe.

Selanjutnya, MB UII. Buatku MB UII sebenernya punya konsep yang menarik, paketnya “Tribute to Sheila On 7”. Siapa sih yang ndak kenal Sheila On 7? 😀 Cuman, sayangnya penampilan mereka belum sepenuhnya kelar kayaknya. Soalnya, di lagu pertama *entah itu pre-show atau gimana*, mereka main tanpa display. Dan pas mereka main display, sayang banget kalo penampilan mereka itu kurang rapi..  Padahal kalo misalnya mereka main lebih rapi, bisa jadi memorable banget kaya paket Dewa 19-nya MB PKT dulu. Dan satu hal lagi, CG-nya MB UII sekarang entah kenapa kok kurang menggigit, ndak kaya dulu-dulu. Padahal, dulu CG-nya nomor 1 di Jogja. Tapinya ya, hal yang paling aku suka dari MB UII adalah pemanasannya selalu pake lagu Shalawat.. :’)

Yang terakhir, DC UMY. Mereka tahun ini bawain paket “Memoir of Tsunami Aceh”. Kostumnya lucu!! Hhhee. Jadi, pemain musiknya tu pake pakain putih-putih, trus pake peci, trus pake lapisan sarung gitu di luaran celananya. Duh, gimana mendeskripsikannya ya? Pokoknya kain sarungnya dilipet sekitar sedengkul gitu deh. Hehehe. Secara keseluruhan, aku sendiri nunggu-nunggu penampilan yang bisa menyentuh, tapi ternyata kok nanggung endingnya. Ternyata, setelah tanya sana-sini, paketnya emang belum kelar sepenuhnya. Jadi, mari kita liat di GPMB nanti gimana aksinya.. 🙂 Oya, di awal penampilannya, CG DC UMY mbentuk shaf-shaf di bagian belakang lapangan, nglakuin gerakan-gerakan sholat.. :’)

Overall sih selama JMC 2013 kemarin aku paling suka sama MB UGM dan CDB UNY. Abis JMC 2013 kemarin sih mereka ada karantina lagi, dan biasanya bakalan ada sesuatu yang berbeda pas sampe di GPMB nanti. Jadi, kita liat aja, gimana penampilan band-band Jogja di Istora nanti. Can’t hardly wait!! ;D

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2013 inci such a simple life

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

[review] 3Sum

Baiklah, setelah seeeeeekian lama ndak bikin movie review, akhirnya aku “memberanikan” diri buat bikin review film 3Sum ini.. ;D

Jadi, langsung aja deh ke review-nya.. Hehe.

Kayaknya film omnibus tu masih jadi “trend” di kalangan filmmaker. Setelah kemaren ada Sinema Purnama, Dilema, dll, di awal tahun 2013 ini ada film 3Sum. Film 3Sum ini lebih kepada 3  film yang saling tidak berhubungan tentang cinta, kehidupan, dan kematian *merujuk pada sinopsis di 21 cineplex sih ;D* Ketiga film itu adalah Insomnights, Rawa Kucing, dan Impromptu.

Insomnights bercerita tentang seorang Morty (Winky Wiryawan) yang harus berhadapan dengan gangguan insomnia yang dideritanya. Segmen ini merupakan hasil kolaborasi antara Witra Asliga dan Andri Cung. Secara keseluruhan, film ini digarap dengan apik. Suspense-nya kerasa, bikin penonton penasaran plus terhenyak dengan twist yang diberikan di ending. Buat aku, segmen Insomnights ini pada awalnya bikin excited, tapi pas udah mulai muncul “makhluk2 itu” *yang sebenernya cuman ada di fantasi si Morty*, jadi bikin “males”. Bukan berarti segmen ini jelek dan mbosenin lho ya, tapi lebih ke akunya yang lagi males nonton film ber-“makhluk” gitu. Hehe.

Ending dari cerita ini sebenernya udah mulai ketebak di tengah segmen, tapi aku tetep nunggu sebenernya endingnya bakal gimana. Dan ternyata bener sih, endingnya sesuai dengan prediksiku. Hehe. Gimana hubungannya sama tunangannya, gimana dia musti menghadapi insomnia-nya yang terus berkelanjutan, dan apa yang ada di balik kejadian-kejadian aneh waktu dia mengalami insomnia, semua dijawab tuntas di endingnya. Mungkin bagi sebagian orang segmen ini agak terasa “bikin males”. Ada beberapa orang yang bilang alur maju-mundur di segmen Insomnights ini mbingungin dan musti mikir. Hehehe.

Next, segmen Rawa Kucing (Andri Cung) bercerita tentang kehidupan di Rawa Kucing pada tahun 1980an. Di segmen ini pemain-pemainnya berakting dengan apik menurutku *walau ada beberapa yang agak “kelebihan” dikit*. Ayin (Aline Adita) yang hobi foya-foya dan hura-hura musti menghadapi beberapa masalah pelik, yang ternyata pada akhirnya akan membawanya kepada cinta sejatinya, Willy (Natalius Chendana). Segmen ini selain menyuguhkan kisah percintaan, konflik keluarga, lengkap dengan unsur komedi di dalamnya. Penggambaran tahun 1980an pada segmen ini juga sangat kental, dilihat dari coloringnya, termasuk outfit dari pemain-pemainnya.

Acungan jempol patut diberikan buat Natalius Chendana. Meskipun dia berakting sebagai orang bisu yang terpaksa menjadi gigolo karena tuntutan ekonomi keluarga, karakternya cukup kuat di segmen ini. Begitu pula dengan Aline Adita. Atau bahkan semua pemain di segmen ini. Mereka bermain begitu pas dengan porsi masing-masing. Kesan drama dari segmen ini juga begitu terasa menurutku. Dan ada satu scene yang cukup mengena buatku, ketika Willy ngasih sandal jepitnya ke Ayin pas di pasar. Sederhana, tapi bikin, “Ooh”. Hehe.

Segmen terakhir, Impromptu (William Chandra). Segmen ini bercerita tentang dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argobie) dan Lina (Hannah Al-Rashid). Genre action yang diusung segmen ini cukup menarik. Satu, penggambaran sosok Amin dan Lina sebagai pembunuh bayaran yang baru terkuak di ending cerita. Dua, isu perampokan *dan pemerkosaan* oleh sekelompok orang yang mengaku polisi dengan modus razia narkoba diangkat secara gamblang.

Buatku, penggambaran cerita di segmen Impromptu ini cukup mengesankan. Satu hal yang agak disayangkan, entah kenapa bagian perkelahian di segmen ini kurang menggigit. Berasa ada yang kurang gitu. Mungkin salah satunya dikarenakan pergerakan kamera yang kurang dinamis. Jadi pas adegan perkelahian tu kurang mantep. Hehe. But overall, segmen ini berhasil menyuguhkan kisah pembunuh bayaran secara elegan dan berkelas. Pemilhan setting tempat juga cukup menyokong kekuatan cerita.

Secara keseluruhan, film 3Sum ini bisa dibilang menjadi salah satu film Indonesia yang layak ditonton. Tiga genre, tiga cerita berbeda, dalam satu film. Setidaknya, 3Sum menyiratkan semakin berkembangnya perfilman Indonesia yang bukan hanya dipegang orang-orang itu aja.

Oya, waktu aku nonton film 3Sum ini, tumben-tumbenan aku nggak terlalu perduli dengan dialog, quote, scoring, ataupun sinematografinya. *padahal biasanya sok-sokan mengkritisi, juga memuji, detail film-film yang kutonton. hehe* Udah terlalu fokus sama cerita yang disuguhkan.. 😀 Dan tentunya aku ndak ketiduran dong pas nonton film ini.. Hihi.

Well, film ini setidaknya bisa menjadi barometer semakin majunya perfilman Indonesia. Banyak filmmaker2 baru yang punya idealisme tinggi untuk “memperbaiki” citra perfilman Indonesia di negri sendiri. Buat kamu yang pada penasaran film 3Sum itu seperti apa, bisa liat trailer di bawah ini:

PS:
Abis nonton film ini, ada aja komen dari temen via twitter, “3Sum tu film apaan sih? Esek-esek yah?”. Otaknya perlu dicuci trus dikasih pemutih rasanya.. XD

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

(Cerita di Balik Nonton Film) Dredd

Setelah sekian lama vakum dari kegiatan nonton-menonton di bioskop, akhirnya kemaren Sabtu *secara ndak sengaja* aku nonton film Dredd ini. Awalnya sih sama sekali ndak kepikiran buat nonton tu film, secara ndak gitu tertarik juga. Eh, tiba2 si @sidhancrut kontak kalo dia lagi di Kuningan City sama @dbrahmantyo juga, mau midnite nonton film ini. Waktu itu aku lagi nonton konser Mozart Night di Aula Simfonia, yang notabene baru kelar sekitar jam 10 an.

Akhirnya, mungkin juga karena sifat impulsif yang kadang-kadang berlebihan, aku langsung nyusul ke Kuningan City buat ikutan nonton midnite. Dan ternyata, sampe sana, udah ada @defickry juga, sama temen2 yang lain.. Lumayan lah, ikutan nonton sekali, dapet temennya banyak kali.. XD

Dan akhirnya jam 23.50 kami bersembilan mulai nonton Dredd. Aku sih berharapnya cuman satu, ndak ketiduran selama nonton film ini, secara sebelumnya udah sangaaaat ngantuk. Hehee.

Kalo di 21cineplex sih sinopsisnya begini:

Masa depan, dunia berubah menjadi gurun. Di pantai timur terletak satu kota mega metropolis dimana para penjahat menguasai jalan-jalan. Satu-satunya keadilan dikenal sebagai ’Judges.’ Mereka memegang seluruh kekuasaan hakim, juri dan algojo

Hakim Dredd (Karl Urban) adalah tim elit penegak hukum Amerika. Ia terkenal dan ditakuti di seluruh kota dimana ia harus menyingkirkan kejahatan setiap harinya. Kali ini, sebuah epidemi obat berbahaya, SLO-MO, menyebarluas. Untuk menghentikan kelompok-kelompok yang terlibat jual beli obat tersebut, Dredd bekerjasama dengan Cassandra Anderson (Olivia Thirlby), seorang cenayang handal. Mereka menemukan bahwa Ma-Ma (Lena Headey) – sang penyalur obat terlarang – mengendalikan klan kejam dan mereka harus menghentikannya. Perang antara Ma-Ma klan dan Judges pun tidak dapat dihindari

Awal nonton, emang seru.. Kejar-kejaran penjahat, dan segala macemnya. Di awal sih ada beberapa scene yang awalnya bikin agak bingung, kenapa ada adegan kejar-kejaran yang di slow motion-kan plus ada efek-efek sparkling gitu. Ternyata efek itu tu karena obat terlarang bernama Slo-Mo yang diedarkan sama klan Ma-Ma. Kata beberapa temen sih emang efeknya kayaknya bakalan bagus kalo ditonton versi 3D-nya. Hehe.

Nah, mulai pertengahan, ada kejanggalan yang kerasa banget. Bukan cuman aku aja yang ngerasain, tapi temen-temen yang lain juga. Komentarnya sama, “Kok jadi berasa The Raid banget ya?”. Dan emang, film ini tu alur cerita dan premis-nya mirip banget sama The Raid. Ceritanya tentang pemberantas kejahatan *aelah* yang masuk ke gedung tinggi penuh mafia. Dia harus naik ke lantai-lantai yang di situ udah nunggu penjahat-penjahat yang bakal menghalangi jalannya buat sampai ke otak mafia, si Ma-Ma itu tadi. Trus akhirnya malah pada bilang, “Oh, mungkin saking mirip ceritanya, jadi judulnya juga mirip, Dredd – Dered *The Raid*:. Hehe. Tapi emang kok, kalo udah pernah nonton The Raid trus nonton Dredd, langsung berasa kemiripannya.. ;D

Overall sih film ini layak buat ditonton.. Seru! Tapiii, buat orang yang ndak terlalu suka film-film brutal, mending mikir dua kali deh buat nonton film ini. Hehe. Soalnya ya emang sadis dan brutal. Darah ada di mana-mana, kepala pecah, otak berhamburan, manusia dikuliti, dll. Sampe dengan kasiannya, si @rudibachtiar jadi korban, dipukulin @fabulou5i gara-gara filmnya sadis. Hihi. Etapinyalagi, walaupun film ini seru dan banyak action di mana-mana, tetep aja aku sempet ketiduran di tengah2 film.. -________-” *my bad*

Buat aku sih filmnya lumayan oke.. 7,5 / 10 lah. Yang agak “mengganggu” ya cuman kemiripan cerita antara Dredd sama The Raid sih. Hehe. Kalo untuk detail filmnya, aku kebetulan kurang merhatiin, secara ngantuk gitu juga.. Hehe.

Yang jelas, bagian yang lebih seru tu ya abis filmnya kelar, kita pada lanjut makan di Nasi Uduk Gaul, belakang Mega Kuningan.. Hahaha. Jam 1an gitu masih aja rame, pun makanannya juga enak, murah. Tapi ya itu, masa malem2 gitu makan nasi uduk, trus apa kabar perutku..?? Hmm..

Kalo penasaran ama filmnya, coba cek dulu trailernya di bawah ini.. 🙂

 

[fiksi200kata] Siapa Dia? -2

Entah mengapa malam ini aku merasa sangat bahagia. Pertemuan dengan seseorang tadi setidaknya bisa mengubah hariku yang sebelumnya terasa membosankan menjadi lebih menyenangkan. Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kami memutuskan untuk segera pulang. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahku, aku melenggang penuh suka cita dari restoran itu ke halte bis di dekatnya. Pertemuan yang singkat tadi benar-benar terasa mengesankan buatku. Dan semoga memang dia juga merasakan hal yang sama.

Sembari berjalan, kupasang headset di telingaku. Kuputar lagu-lagu cinta dari handphone-ku, sambil sesekali aku bergumam mengikuti si vokalis bernyanyi. Sampai suatu ketika aku merasa ada sesuatu yang aneh di belakangku. Aku tak menyadari bahwa mungkin sudah sejak tadi aku diikuti seseorang. Aku tak melihatnya, hanya saja ada suara langkah kaki yang terus saja mengikutiku.

Kupercepat langkahku untuk bisa segera sampai ke halte. Ada perasaan was-was yang tiba-tiba menyergapku. Aku harus bergegas!

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke halte. Setidaknya, di sini aku lebih merasa aman.

Kulihat, orang itu melintas di depanku. Ia tampak serius. Sesaat, mata kami beradu. Aku salah tingkah, segera kubuang pandanganku.

Dari kejauhan aku mengamati gerak-geriknya. Ketika akhirnya bisnya datang, aku sengaja menengok ke arahnya. Pandangan kami kembali bertemu, kali ini ia tersenyum.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2012 inci bermain dengan kata-kata

 

Bahagia Itu Sederhana

Kalimat ini mungkin udah sering kebaca di timeline twitter kamu.. Biasanya sih kalimat singkat ini dijadiin hestek semacam #GalauItuSederhana, #BegoAdalah, dll.. *kalo hestek terakhir sih biasanya aku yang pake gara2 kebodohan diri sendiri. Hahaha*

Well, balik ke judul tadi, kenapa tiba2 pengen nulis tentang #BahagiaItuSederhana? Bukannya mau sok bijak ya, tapi ada satu kejadian yang tadi kualami, yang bikin aku senyum, dan bilang “Bahagia itu sederhana”. Hehe.

Yah, tadi sehabis sholat Taraweh, aku jalan ke supermarket bentar buat belanja sedikit keperluan harian. Pas mau nyebrang *lewat jembatan penyebrangan*, aku jalan di belakang seorang ibu-ibu tua dan seorang anak kecil, entah itu anak atau cucunya. Aku emang sengaja jalan pelan2 di belakang mereka, tanpa ada maksud untuk mendahului. Aku melihat mereka tampak asyik jalan sambil ngobrol, entah membicarakan apa.

Oya, ibu-ibu tadi memakai pakaian yang sederhana, dengan jilbab berlogo partai pemberian caleg semasa kampanye. Sedangkan si anak kecil *yang kutaksir berumur sekitar 7 tahun* memakai semacam seragam olahraga, jilbab warna oranye, dan membawa karung beras.. Ya, si anak kecil tadi, didampingi ibu atau neneknya, sepertinya memang berniat memulung malam ini.. Sebenernya aku trenyuh melihat mereka, melihat si anak kecil yang seharusnya masih menikmati masa kecilnya tapi udah harus ikut memulung buat bantu-bantu keluarganya.. :’)

Dan, kenapa judul postingan ini “Bahagia Itu Sederhana”? Tak lain adalah karena aku melihat betapa bahagianya si anak kecil ketika menemukan barang-barang terbuang yang bisa ia pungut. Dua kali aku melihat ia memungut, bungkus rokok dan botol plastik. Senyum dan tawanya begitu tulus, bahkan hanya dengan menemukan barang-barang yang sudah dibuang dan dianggap nggak berguna buat orang lain pun ia sebegitu merasa senangnya. Waktu si anak kecil nemu botol plastik, ia memungut botol itu sambil bersorak, seakan-akan dia nemu sesuatu yang sangat berharga. Dan mungkin memang bahkan satu botol plastik pun bisa menjadi barang yang sangat berharga untuk si anak kecil itu tadi.

Sejenak aku berpikir, betapa sederhananya hal yang bisa membuat anak kecil itu tadi merasa bahagia. Mustinya, kita sebagai orang yang lebih dewasa, mempunyai lebih banyak alasan untuk merasa bahagia kan? Kuncinya sih menurutku cuman satu, bersyukur.. Ketika kita merasa bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang, kita akan merasa baik-baik saja dengan itu, dan tanpa mengeluhkan banyak hal, kebahagiaan akan datang begitu saja dalam hidup kita.. *sok bijak* Hihi..

Ngomong-ngomong masalah syukur, jadi inget Surat Ar-Rahman yang mengulang-ulang ayat “Fa bi ayyii ‘ala irabbikumaa tukadzibaan” yang berarti “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Ayat itu simpel, tapi sungguh mengena. Tuhan udah kasih kita banyak hal untuk disyukuri, tapi kadang kita lupa. Padahal, dengan bersyukur dan menerima apa yang ada, hidup kita bakal terasa sangat jauh lebih menyenangkan. Well, aku ngomong gini bukan karena aku juga udah pandai bersyukur atau lebih (sok) tau dari orang lain, cuman pengen ngingetin diri sendiri juga untuk lebih banyak bersyukur.

Jadi, tunggu apa lagi? Belajar bareng-bareng untuk lebih banyak bersyukur yuk! 🙂

 

Tag: , , , , , , ,

Culture Shock??

Bulan ini adalah bulan ketujuh aku tinggal dan kerja di Jakarta. Selama 26 tahun sebelumnya, aku tinggal bareng ortu di Jogja. Dan selama itu pula aku masih tergantung sama orang tua, termasuk tiap bulan Ramadhan. Aku ndak perlu mikirin cari makan sahur di mana, ndak perlu mikirin takut telat bangun sahur, karena ya selama itu pula ada orang tua yang nyiapin sahur, bangunin, dll. Dan berhubung tujuh bulan terakhir ini aku udah cabut dari Jogja buat kerja di Jakarta, mau ndak mau aku harus belajar mandiri, termasuk di bulan Ramadhan kali ini.

Ramadhan ini adalah bulan puasa pertama aku sendiri, di luar Jogja.. Tanpa orang tua yang nyiapin sahur, bangunin sahur, dll. Ramadhan kali ini aku harus nyiapin makan sahur sendiri, harus bisa bangun sahur sendiri *walau masih aja dibangunin sama ortu via telpon sih. Hehehe*.

Well, kenapa judul dari tulisan ini “Culture Shock”? Perbedaan kultur sehari-hari antara Jakarta sama Jogja emang udah kupersiapkan dari awal, jadi sebenernya ndak terlalu jadi masalah buatku. Jadi, apa dong yang kumaksud dengan Culture Shock di sini? Sebenernya bukan culture shock yang gimana-gimana gitu sih. Hehehe. Cuman, ya ada beberapa perbedaan antara suasana puasa di sini sama di Jogja..

Hal pertama yang bikin aku kaget adalah bahwa di Jakarta, terutama di deket kosku, ndak ada pengingat Imsak dari masjid.. Secara biasanya kalo di Kauman Jogja kan pas Imsak pasti ada yang ngingetin dari masjid, jadinya bisa siap2 untuk menyudahi makan dll. Lha di sini, meskipun udah tau waktu imsak itu jam berapa, tapi tetep aja was-was, kalo2 ternyata jamku beda sama jam masjid. Hehe. Dan setelah kutanya ke beberapa temen, ternyata emang di Jakarta jarang banget ada peringatan Imsak dari masjid.. Jadi, katanya, waktu Imsak cuman diketahui dari jam atau dari tivi.. *mringis* *belom punya tivi* ;D

Itu tadi perbedaan masalah “peringatan” Imsak.. Ada lagi yang kedua, masalah itungan rakaat taraweh.. Biasanya, kalo di Jogja, sebelum taraweh ada ceramah dulu, dan sebelum sholat taraweh, disebutin, berapa rakaat tarawehnya dan dibagi menjadi berapa kali. Kalo di masjid deket kosku, abis sholat Isya cuman ada semacam pengantar dari takmir masjidnya tentang jumlah infaq dll, abis itu langsung lanjut Taraweh.. Kukira awalnya di sini juga cuman 8 rakaat yang dibagi menjadi 4 sholat (per 2 rakaat), ternyata 18 rakaat.. Pantesan kok lumayan cepet sholatnya. Dan yang bikin heran, abis rakaat kedelapan, banyak jamaah yang pulang. Ya udah, kupikir waktu itu emang cuman delapan rakaat, trus yang lain ndak ikutan sholat witir.. Ternyata..?? Deng deeeenng.. Masih lanjut taraweh!! Dan berhubung aku ndak tau, akhirnya niat yang diucapkan sebelum sholat jadi amburadul.. Lanjutan sholat Taraweh kuniatin sholat Witir.. T.T

Suasana Ramadhan di sini emang agak beda sama suasana Ramadhan di Jogja, terutama di Kauman.. tapi walau bagaimanapun, yang penting niat untuk berpuasa dan cari pahala sebanyak-banyaknya sih.. hehe. Dan jujur aja, godaan buat ndak sholat Taraweh di sini sangaaaaat gede..!! Huhu. Musti dikuat-kuatin imannya biar kalo endak sholat Taraweh di masjid, setidaknya masih tetep semangat buat sholat Taraweh di kos.. *amiiinn*
Pokoknya, harus selalu semangat..!! Bismillah, puasa pertama jauh dari ortu bakalan lancar dan baik-baik saja.. Amin amin amin.. 🙂

 

Tag: , , , , , , , , , ,