RSS

[tulisan iseng] Coba-Coba Gadget Baru: Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019

Oke, jadi ini pertama kalinya aku bikin postingan pakai Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019 yang dikombinasikan dengan Bluetooth Keyboard (tanpa merk). Hahaha.

Praktis juga ternyata ngetik pakai bluetooth keyboard dan tab gini. Setidaknya berat kombinasi kedua barang ini lebih ringan daripada netbook ukuran 13”.

Macem mana sih? Kira-kira begini penampakannya:

Sebenernya kemarin nggak terlalu kepikiran buat beli Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019 ini. Cuman, pas kapan itu jalan ke Mall Kelapa Gading, nggak sengaja mampir ke gerai Samsung dan megang ini gadget. Nggak tau kenapa tiba-tiba terbersit rasa ingin memiliki. *tsaelaahh.. Hahahaa.

Cukup lama mikir-mikir sampai pada akhirnya aku memutuskan buat beli Tab ini. Alasannya? Yah, namanya alasan mah bisa diada-adain ya. Hahaha..

Pertama, aku lagi pengen menggalakkan budaya membaca lagi. Salah satunya dengan berlangganan Gramedia Digital. Cukup bayar Rp 89.000 per bulan, udah bisa download dan baca semua buku terbitan Gramedia yang ada di platform tersebut. Well, meskipun nggak semua pengarang buku favoritku ada di situ sih, tapi setidaknya “ada alasan” buat beli Tab ini. Kan kalo baca di HP berasa kurang mantep gitu. Hahaha.

Kedua, pengen juga mengobarkan kembali semangat buat nulis! Nah, ini dia yang juga jadi salah satu pertimbangan. Kenapa? Karena dengan punya Tab dan Bluetooth Keyboard begini, bawaannya jadi lebih ringkas aja. Kalo lebih ringkas, kan bisa dibawa sebagai bawaan sehari-hari. Kalau udah jadi bawaan sehari-hari, (semoga aja) hasrat buat baca dan nulis semakin gede. Hihi.

Ketiga, Samsung Galaxy Tab A 8.0 2019 ini ada S Pen-nya. Sebenernya aku pun juga bukan seseorang yang demen nggambar gitu sih, atau bahkan dibilang sama sekali nggak bakat ngegambar. Tapi, dengan bekal S Pen ini, aku jadi nemuin lagi “hobi” yang dulu pernah kujalani pas jaman SMA, yaitu (ala-ala) nulis kaligrafi. Bukan kaligrafi tulisan Arab ya, tapi lebih kepada tulisan latin gitu. Macem buat nulis nama di sertifikat. Sekarang jadi ada alasan lagi buat belajar lebih banyak “handwriting”. Hehehe.

Yah, begitulah.. Namanya juga alasan, pasti akan dicari-cari buat pembenaran. Hahaha.

Jadi, sebenernya apa inti dari postingan ini? Nggak ada sih, cuman iseng aja sok-sokan bikin postingan pertama pake kedua device ini.. 😀 Yah, semoga alasan-alasan di atas bukan cuma jadi alasan aja ya. Aamiin..

Baiklah kalau begitu, see you around!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 26, 2019 in such a simple life

 

Tag: ,

[review] Mantan Manten (2019)

Oke, entah kenapa, akhir-akhir ini hasrat buat nonton di bioskop lagi tinggi-tingginya. Nggak jarang (terutama weekend) memutuskan untuk marathon nonton, bahkan sampai tiga film sekaligus dalam sehari.. 😀

Setelah hari Sabtu kemaren aku (ketiduran) nonton SHAZAM, hari ini aku nonton film Indonesia yang berjudul MANTAN MANTEN. Awalnya aku emang nggak terlalu excited nonton film yang dirilis tanggal 4 April 2019 kemarin ini. Well, setidaknya nggak se-excited waktu mau nonton CRITICAL ELEVEN ataupun ANTOLOGI RASA. Tapi emang ya, yang namanya Social Media itu sungguh dahsyat. Tiba-tiba aja aku pengen banget nonton film ini, bukan karena film ini dimainin sama Atiqah Hasiholan dan Arifin Putra, tapi karena aku liat di IG Story dua orang temen yang bilang kalau film ini layak ditonton.

Sebenernya bukannya skeptis ya, tapi pas liat jumlah layar yang nayangin film ini nggak sebanding sama layar yang nayangin SHAZAM, PET SEMATARY, ataupun DUMBO, rada-rada mikir juga sih. Film baru dirilis tanggal 4 April 2019, tapi tanggal 6 April 2019 udah harus “rela” berbagi layar sama film-film lain. Sayang sekali sebenernya. Bahkan, di CGV AEON Mall Jakarta Garden City, film ini cuma tayang dua show hari ini, jam 11.25 & 20.05.

Oke, rada kepanjangan sih prolognya. Hahaha. Langsung aja deh.

Mantan Manten

Foto diambil dari: https://www.21cineplex.com

Jadi, Gaes, film MANTAN MANTEN ini sebenernya bukan film drama percintaan yang bakal bikin penontonnya bilang, “Ahh, so sweet” atau bikin cewek-cewek pada klepek-klepek macem film DILAN. Trust me, jangan “tertipu” sama posternya yang dominan warna pink. Film MANTAN MANTEN ini menceritakan tentang kehidupan pasangan kekasih Surya (Arifin Putra) dan Yasnina (Atiqah Hasiholan). Di awal-awal film, penonton udah disuguhkan dengan scene pelamaran Surya ke Yasnina, lengkap dengan kegugupan Surya pas mau ngelamar, yang mungkin emang sering terjadi di kehidupan nyata.

Semuanya berjalan dengan menyenangkan dan mulus, sampai pada akhirnya Yasnina tersandung kasus yang melibatkan ayahnya Surya, Iskandar (Tyo Pakusodewo), yang pada akhirnya membuat Yasnina kehilangan segalanya; harta, karir, bahkan pertunangannya dengan Surya pun pada akhirnya juga dipertaruhkan.

Konflik yang dibangun di dalam film ini memang tidak terlalu kuat, tapi aku kasih dua jempol buat chemistry antara Atiqah Hasiholan sama Tutie Kirana (sebagai pemeran Marjanti, seorang paes manten di Tawangmangu). Keduanya bermain dengan begitu apiknya. Siapa itu Marjanti? Plot selengkapnya bisa dibaca di sini ya.

Dan seperti yang kubilang sebelumnya tadi, jangan tertipu sama posternya yang dominan warna pink. Film ini bukan tentang film drama yang penuh bunga-bunga ataupun yang berakhir bahagia seperti kebanyakan film romantis lainnya. Justru, film ini lebih menitikberatkan pada keikhlasan untuk melepas orang yang disayang.

Salah satu adegan yang paling kusuka dari film ini adalah ketika Marjanti berkata, “Cerita orang itu beda-beda. Jangan memakai pengalaman satu orang untuk membandingkan dengan diri sendiri. Nanti kita jadi susah bersyukur.” Buatku, kalimat ini sungguh-sungguh dalem dan mak jleb.

Mood penonton kaya emang sengaja dibikin naik turun di film ini. Ada lucunya gara-gara Si Dodit (berperan sebagai Darto), ada sedihnya, scene yang agak absurd juga ada, dan yang bikin mewek pun juga nggak cuman satu scene doang. Hahaha.

Salah satu scene yang bikin “nahan napas” biar nggak sesenggukan tu pas Budhe Marjanti bilang, “Duh, Gusti, nyuwun ngapuro.” Hati tu langsung berasa nyesss, berasa langsung keinget dosa sendiri. Wkekeke. Scene ini emang nggak lama, tapi efeknya cukup dalem.

Dan endingnya, duh, emang bener sih kata Mbak Audian Laili di sini, senyum ikhlas Atiqah bikin ambyar byar byar. Untungnya yang bikin ambyar ini bukan scene yang di ending banget, jadi pas lampu studio udah nyala lagi mungkin nggak gitu keliatan sembab matanya. Hahaha.

Btw, sebagai orang Jawa, aku sangat-sangat terkesan dengan film ini. Kenapa? Karena film MANTAN MANTEN ini dibumbui dengan unsur budaya Jawa yang cukup kental, terutama adat dan tradisi pernikahan Jawa. Pas nonton tu sempet terbersit (sedikit) keinginan buat cepetan nikah. Hahaha. Penyebabnya adalah ketika ada salah satu tokoh yang sempat mengurungkan niat dan pengen membatalkan pernikahannya karena khawatir dengan apa yang akan ia dan suaminya hadapi setelah menikah nanti. Dan dengan “anggunnya” tokoh Yasnina bisa meyakinkan dia untuk tetap melangsungkan pernikahannya. Emang bener kata Budhe Marjanti, “Semua masalah selalu ada jalan keluarnya”.

Oya, seperti halnya yang kulakukan setelah nonton film A Star Is Born, aku pun langsung donlot soundtrack film MANTAN MANTEN ini. Ya, lagu “Ikat Aku di Tulang Belikatmu” yang dinyanyikan sama Sal Priadi di film ini emang dalem banget. Bener-bener pas sama filmnya. Kaya mana lagunya, cek di video di bawah ini yah.


Overall, film ini memang bukan film drama percintaan yang sempurna, tapi ceritanya kuat dan ngena banget. Akting Atiqah dan Tutie Kirana bener-bener luar biasa. Jadi, sebelum film ini turun layar, segera tonton ya, Guys!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2019 in review, such a simple life

 

Tag: , , , , , , ,

[fiksi 200 kata] Tara Namanya

“Duluan, Say!”

“Daahh!” Tara melambaikan tangannya sambil tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang berderet rapi.

Ia lirik jam tangan mungil yang melingkar di tangan kanannya. Jam 11.50 malam. Dilihatnya sekeliling, sepi. Tak seperti biasa, seakan-akan kendaraan pun jarang melintas di jalanan tempat ia berada sekarang. Ia peluk tas jinjingnya lebih erat ke dada, takut ada orang yang berniat jahat padanya.

Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat gerombolan lelaki berlari ke arahnya. Ia mulai panik. Ia berusaha lari sekuat tenaga, mencoba menyelamatkan diri. Sayang, sepatu yang baru ia beli minggu lalu itu justru memperlambat langkahnya. Tanpa pikir panjang ia lepas sepatu hak tingginya dan terus berlari. Naas, tiba-tiba kakinya terkilir. Ia terjatuh.

“Mau ke mana kamu?!” Ternyata segerombol lelaki itu sudah di depan matanya.

Ia merengek ketika beberapa lelaki itu mulai menyeretnya.

“Jangaannn. Tolong!”

Kawanan lelaki itu tak menggubris, malah terus menyeretnya. Sebagian tertawa keras.

“Diam kamu!” bentak salah satu lelaki yang berjaket hitam.

“Jangan bawa saya, Pak,” ujarnya lirih, takut membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Ia semakin memberontak ketika salah satu lelaki itu mendorongnya ke atas mobil.

“Ampun, Pak. Jangan..”

Ia terus meronta, sampai-sampai wig pirang sebahunya terlepas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2018 in such a simple life

 

[fiksi200kata] Sepotong Kisah Dalam KRL

Aku meliriknya sepintas. Ia yang berkacamata itu langsung membuang muka, seperti sedang berpura-pura melihat rute KRL yang kami tumpangi. Kualihkan pandangan kembali ke layar ponsel, berharap ada pesan masuk, tapi ternyata nihil. Kutengadahkan kepala sambil memejamkan mata, menikmati lantunan lagu “All I Ask of You” dalam versi live orchestra yang terdengar mendayu-dayu melalui headset. Tak terasa senyum tipis tersungging di wajahku, membayangkan aku sedang berada di gedung opera megah nan klasik, The Royal Albert Hall, London.

Sambil menghela nafas, mataku tiba-tiba terbuka dan secara refleks melihat ke arahnya kembali. Ia tampak salah tingkah, kemudian mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan. Secara tak sadar ia membasahi bibir, lantas menggigitnya. Berkali-kali ia kedipkan mata, mungkin berharap supaya aku segera memalingkan pandanganku darinya.

Entah pikiran apa yang merasukiku, tiba-tiba aku bangkit berdiri, berjalan ke arahnya. Kusapa dirinya sambil mengulurkan tanganku dan mengajaknya bersalaman.

“Turangga,” kataku, sambil terus mengulurkan tanganku.

Tampak keraguan dari sikapnya, tapi perlahan ia mendongakkan kepala, melihatku.

Ia tersenyum simpul.

“An…”

Mendadak aku terkesiap di tempat dudukku. Kepalaku masih menengadah, mataku melirik ke kanan dan ke kiri. Kutegakkan badan dan kuedarkan pandang. Kulihat orang-orang bergegas masuk ke dalam kereta yang tampak lengang.

Oh, shoot! Lagi-lagi aku terlelap sampai ke stasiun pemberhentian terakhir!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 27, 2018 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , ,

[review] Bohemian Rhapsody (2018)

Okay, setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, akhirnya review tentang film “Bohemian Rhapsody” ini (semoga) jadi pembuka keinginan buat rajin nge-blog lagi. Hahaha. Aamiin.. 😀

Kenapa sih tiba-tiba aku pengen nge-review film ini? Karena, ya nggak bisa dipungkiri lagi kalo film ini tu jadi salah satu film favoritku seeepanjang masa.. Bukan lebay ya, tapi memang selain film Up, Les Miserables, sama The Greatest Showman, film Bohemian Rhapsody ini setidaknya udah kutonton sebanyak empat kali di bioskop. Hihi. *dan kemungkinan ke depannya bakalan nonton lagi dan lagi.. ;D

Btw, mungkin postingan ini bukan ke review sih jadinya, tapi lebih ke pendapat pribadiku tentang biopik band Queen ini. Hehe.

Well, buat yang belum tau film ini tu ceritanya macem mana, kamu bisa baca sinopsis filmnya di sini ya.

Okay, kalau kamu liat jajaran film favoritku di atas tadi, tiga di antaranya adalah film musikal. Hehehe. Ya, emang dasarnya aku suka banget sama film-film musikal sih, entah itu hanya sebagai selingan ataupun jadi dialog yang dinyanyikan (kaya di film Les Miserables). Walaupun, nggak semua film musikal kutonton berkali-kali juga.. 😀

Awalnya kenapa aku tertarik buat nonton film ini karena sebelumnya aku udah suka sama lagu Bohemian Rhapsody, yang menurutku sangat unik. Lagu tanpa reffrain, lagu yang menggabungkan beberapa genre sekaligus, dan lagu dengan durasi yang cukup panjang di masanya. Terlebih, Marching Band Pupuk Kaltim Bontang dulu juga pernah bawain lagu ini di salah satu repertoire pagelarannya di GPMB 2004. Dan waktu itu, MB PKT Bontang bawain lagu ini dengan flawless, tanpa cela.. Keren!

Anyway, balik lagi ke film Bohemian Rhapsody. Salah satu hal yang bikin aku pengen nonton film ini lagi dan lagi adalah karena lagu-lagunya yang bener-bener bikin pengen terus-terusan sing-along. Dari sekian banyak lagu yang ditampilin di film ini, sebenernya cuman ada beberapa aja sih yang kutau, kaya Bohemian Rhapsody (pastinya), Love of My Life, We Will Rock You, sama We Are The Champion. Hahaha. Well, aku memang bukan fans fanatiknya Queen, cuman suka aja sama beberapa lagu mereka. Tapi abis nonton filmnya, aku jadi tau beberapa lagu lain, dan bahkan langsung suka, kaya lagu Radio Ga Ga sama Don’t Stop Me Now.

Yang bikin makin kesengsem sama film ini tu pas bagian konser di Live Aid 1985 sih. Sumpah, berasa banget hype-nya.. Macem lagi nonton beneran.. *okay, ini lebay sih. Hahaha.* Buatku, karena tau kalau di film ini bakalan ada adegan lagi konser, makanya dari pertama kali nonton langsung milih di studio yang pake audio system Dolby Atmos. Nonton pertama di Gading XXI yang pake Dolby Atmos, trus yang kedua di Starium CGV Bella Terra, yang ketiga di Starium CGV Grand Indonesia, trus yang keempat di Satin CGV Mall of Indonesia. Dari keempat studio tadi, yang paling joss gandhos top markotop adalah di Starium CGV Grand Indonesia. Sumpah, audio-nya berasa banget, apalagi pas konser Live Aid di bagian akhir filmnya. Dan di situlah aku ngerasa merinding liat adegan konsernya. Gilaaa, berasa banget hype-nya.. Next, harus cobain nonton di IMAX. Hihi. Mungkin bakalan nggak jauh beda sama Starium sih, tapi selaluuu aja ada alasannya buat nonton film ini lagi dan lagi.

Daaaan, setelah kedua kali nonton, aku baru kepikir buat cari lagu2nya di Joox. Ada? Ada banget! Nggak perlu mikir2 lagi, langsung dah kudonlot lagu2nya di situ.. Hihi. Mayan buat denger2 di kantor atau kalau lagi di perjalanan. Btw, setelah nonton keempat kalinya, aku iseng cari penampilan Queen di Live Aid 1985, dan ternyata ada! Duhh, girangnya bukan maen.. Hahaha. Bisa liat kaya gimana sih penampilan aslinya Queen di konser itu. Dan aku baru tau dong kalo ternyata audio yang dipake di film Bohemian Rhapsody pas adegan konser Live Aid itu bener-bener rekaman asli dari konsernya Queen tahun 1985 lalu. WOW!!

Btw, film ini tu bener-bener bisa mengkreasikan kembali penampilan Queen di Live Aid 1985.. Sumpah, detaiiill banget. Mulai dari aksi panggung Rami Malek sebagai pemeran Freddie Mercury, tata panggung yang dibuat semirip mungkin dengan tata panggung aslinya, bahkan, paper cup Pepsi yang ditaruh di atas piano Freddie pun juga menyerupai kondisi aslinya. Dan, penampilan Rami Malek di konser ini bener-bener patut diacungi jempol! Gaya bernyanyinya, gerakan bibirnya, sampai ke pose di akhir salah satu lagu yang dibawakan pun mirip banget sama Freddie Mercury. Good job!!

Overall, film ini emang sangat pantas buat ditonton. Oya, bukannya mau endorse atau gimana ya, tapi kamu bakalan lebih dapetin hype dari film ini kalo nonton di Starium CGV Grand Indonesia. Trust me.. Udah layarnya gede, suaranya dahsyat pula.. 😀 Atau, kalau enggak, minimal carilah studio XXI yang pake audio Dolby Atmos.. Hehehe.

Jadi, kalau kamu penasaran sama filmnya, cuss, langsung tonton sebelum turun layar! 😀

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 6, 2018 in entertainment, review

 

Tag: , , , , ,

[Review] Noe Coffee & Kitchen: Sebuah Cafe Mungil nan Menarik di Kawasan Mahasiswa

Jadi begini ceritanya, sebelumnya aku ada obrolan sama temen Fiksimini, Mas Teddy Andika, buat bikin project blog ala-ala. Rencananya sih buat warming up ntar bikin project nulis bareng (yang entah kapan). Jadilah diputuskan bahwa hari Rabu kemaren adalah deadline posting #Fiksi200Kata di blog kami. Berhubung kalo ngetik di rumah idenya suka ndak nongol-nongol, akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah, mau ngetik sambil nongkrong-nongkrong ganteng.

Awalnya sempet bingung mau ke mana, secara kalo lagi jaman Lebaran gini Jogja ampun-ampunan macetnya. Pas udah muter-muter beberapa waktu, sempet kecetus buat ke Lawas Cafe-nya Adhistana Hotel. Usut punya usut, ternyata Lawas Cafe belum nyediain colokan lagi karena denger-denger lagi ada renovasi di lantai dua.

Akhirnya keliling-keliling lah tu ya ke mana-mana aja, yang tentunya sambil menghindari kemacetan. Udah muter-muter, akhirnya nemu Noe Coffee & Kitchen di Jl. Wahidin Sudirohusodo (selatan Galeria Mall). Eh, sorry, kebiasaan ngomong gaya orang Jawa, nunjukin tempat atau arah pake arah mata angin. Hehehe. Pokoknya, kalau dari arah Jl. Solo, di perempatan Galeria Mall tinggal belok kiri, trus Noe Coffee & Kitchen ini terletak di sebelah kiri.

Sebenernya cafe ini tu bukan jadi pilihan utama buat jadi venue kegiatan ngetik-mengetik ini. Cuman, pas lagi di perempatan Galeria dari arah UKDW, kok liat ada cafe unik yang sangat eye-catching dari luar. Sempet muter ke arah Bethesda-Gramedia, akhirnya aku memutuskan buat nyobain Coffee Shop satu ini.

IMG_5435

Pas sampai di sana, suasana cukup ramai. Hampir sebagain besar kursi terisi. Well, berarti pilihanku tepat buat mampir ke Coffee Shop ini. Pas liat ke dalem, interiornya sangat instagram-able banget. Tipikal cafe-cafe hiets masa kini lah. Hehe. Trus pas liat sekeliling, yes, ada beberapa colokan yang emang disediakan sama cafe ini buat mengakomodir orang-orang kaya aku yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahasa kerennya sih Berproses Kreatif. Hahaha.

IMG_5434

IMG_5436

Jadi, kalau kita ke Noe Coffee & Kitchen ini, kita harus pesen makanan dan minuman langsung di kasir. Karena, kulihat emang staffing Noe Coffee & Kitchen ini sangat efektif. Nggak terlalu banyak orang, tapi cukup untuk mengakomodir kebutuhan pelayanan di cafe ini.

IMG_5437

Kebetulan kemarin aku ngabisin waktu sekitar LIMA jam, dari jam 20.30 sampai sekitar jam 1.30 (hahahaha). Dua tiga jam pertama kebetulan ada temenku yang ikutan, jadi ngobrol ndak brenti, sedangkan niatan utamanya (baca: berposes kreatif bikin #Fiksi200Kata) agak terabaikan. Wkekeke.

Btw, ini kenapa aku jadi ngomongin urusan pribadi yak, orang mau review cafenya.. Hahaha.

Selama lima jam aku ngendon di Noe Coffee & Kitchen ini, kuamati, rata-rata pengunjung menhabiskan waktu sekitar 1-2 jam. Dan bener aja, mungkin karena dari luar cafe ini udah sangat eye-catching, pengunjung datang dan pergi, ndak brenti. Hampir sebagian besar kursi selalu terisi.

IMG_5438

IMG_5439

Nah, yang aku suka dari cafe ini, buat aku yang emang cari tempat buat ngetik dll, cafe ini tu sangat nyaman. Sangat nyaman dalam artian:

  1. Harga cukup terjangkau (kemaren aku pesen Iced Lychee Tea 18rb, Iced Cappuccino 23rb, Snack Platter (french fries, crispy tofu, chicken pop corn, sausage) 32rb)
  2. Interiornya super ketjeh
  3. Staffnya ramah, nggak rese sama orang-orang yang kaya aku, yang ngabisin sekian jam di situ. Hahaha. *piss
  4. Colokan bertebaran
  5. Free wifi (Sayangnya kemarin ndak sempet ngetes berapa kecepatan wifinya. Kayaknya sih masih oke juga buat streaming kok).
  6. Jam operasional sampai larut malam, yaitu jam 02.00 (last order sekitar jam 01.00).

Buatku yang baru pertama kali ke sana, sangat sangat puas dengan semuanya. Everything was okay. Not perfect, but so memorable. Likelihood to return? Definitely! This place is awesome for me.. Good job, Noe Coffee & Kitchen.

Oya, berhubung sekarang jamannya mah dikit-dikit-upload-dikit-dikit-upload ya, pas lagi aku post video suasana Noe Coffee & Kitchen di Instagram Live-ku, ada beberapa temen yang cukup tertarik trus tanya-tanya itu di mana. Well, selamat datang di era social media! 😀

Duh, ini ya, udah lama ndak nulis di blog aja, sekalinya nulis segini panjang. Hahaa. Maafkan yess.. :* Udah ah, segitu dulu aja. Yang pasti, kalo kamu lagi cari tempat nongkrong yang oke di sekitara kawasan mahasiswa, Noe Coffee & Kitchen ini bisa jadi pilihan yang tepat! Okay, sekian review ala-ala dariku. Hahaha..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 29, 2017 in review, yummy..!!

 

Tag: , , , , , ,

Asuransi? Yay or Nay?

Guys, pernah ndak kamu ngerasa males ngangkat telpon dari nomor tak dikenal (terutama nomor telpon kantor; 021, 022, dll)? Jujur, aku sih seringnya males ngangkat telpon kecuali dari temen atau keluarga yang emang nomornya udah aku simpen di hape.. Hehe. Gimana tidak? Kebanyakan dari telpon2 itu kalo bukan dari kartu kredit, nawarin pinjaman dana, atau nawarin asuransi. 

Bukannya mau mendiskreditkan profesi telemarketing asuransi ya, tapi kadang2 telpon mereka agak-agak terasa mengganggu menurutku. Ya memang tuntutan pekerjaan juga sih, mereka punya target untuk closing nasabah asuransi lewat telpon. 

Nah, sebenernya aku mau cerita tentang hal positif dan tentunya menyenangkan dari “Asuransi” ini. 

Jadi, suatu ketika, ada telpon masuk dari asuransi Cigna, nawarin produk Cigna Eazycare. Awalnya aku udah tolak tapi mereka tetep bersikeras biar aku ndengerin omongan mereka. Kadang2 agak jengah juga, terutama pas lagi ribet kerjaan. 

Sempet nolak beberapa kali, akhirnya pas kerjaannya lagi lowong, aku coba dengerin lah penjelasan si Telemarketer. Setelah dijelasin panjang lebar, tetep aja mental. Aku ndak mau ambil produk mereka, dengan alasan takut tertipu, dll. 

Sampe suatu ketika, mereka telpon lagi untuk ke sekian kalinya, nawarin produk yang sama. Sebenernya aku cukup tertarik pada kali keberapa mereka njelasin produk Cigna Eazycare itu. Akhirnya dengan pertimbangan ini itu, aku “iseng” coba ikutan Cigna Eazycare Gold. Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah di-cover-nya empat perawatan gigi dengan asuransi tersebut: perawatan akar gigi, scaling, pencabutan gigi, sama pencabutan gigi bungsu. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di sini. Singkat cerita, akhirnya aku ambil asuransi itu dengan premi sekitar 300rb an / bulan. 

Jalan sekitar empat bulan, gigi bungsuku ternyata bolong. Aktivitas sehari2ku bener2 keganggu sama si bungsu yang lagi begonoh beginih itu. Huhu. Setelah coba tanya2 ke Customer Care-nya, aku beraniin buat periksa gigi pake asuransi sistem cashless ini. 

And, here it is… 


Berhubung giginya masih sakit (banget) dan emang harus dicabut, akhirnya sama dokternya cuma dikasih obat sama disuruh rontgen gigi. Emang dasarnya perawatan gigi tu mahal ya, cuma buat konsultasi sama dokter (yang cuma lima menit, dibanding sama nunggunya yang hampir dua jam), obat, sama rontgen gigi, abis sekitar 500rb an. Dan ternyata semuanya itu di-cover sama asuransi Cigna Eazycare Gold. Yay! 

Walaupun, ujung2nya ndak jadi cabut gigi gara2 perkiraan harganya sampe abis sekitar 3,5juta an, sedangkan yang di-cover buat cabut gigi bungsu cuman 1jt. Sebenernya sih lumayan ya bisa ngurangi biaya sampe 1jt an gitu, cuma ya dasarnya emang lagi “sayang” aja ama uang, akhirnya aku batalin cabut gigi pake asuransi ini. Agak2 ntar dikit aja, cabutnya pake BPJS! ;D

Well, sebagian orang yang nyebut asuransi itu mubazir atau cuman buang2 uang, mungkin karena emang mereka alhamdulillah-nya jarang pake tu asuransi, jadi kesannya cuman bayar bayar doang. Tapi kalo pas ada kasus kaya aku gini, aku ngerasa sangat dimudahkan sih. Hehe. 

Cuman, balik lagi, kalo mau ambil asuransi lewat telemarketing, emang musti tanya detail sih. Takutnya ujung2nya ngerasa “dibohongin” aja. 

Jadi, menurutmu Asuransi itu “Yay” atau “Nay”? Menurutku sih “Yay!” ;D 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2016 in such a simple life

 

Tag: , , , , ,