RSS

cerita malam…

18 Jan

Malam ini lagi-lagi aku diam sendiri di kamar,, hanya ditemani lantunan musik dari komputer. Sepi, tapi aku suka. Sunyi, tapi menarik. Paling tidak, buat aku, seorang yang tertutup, memang menjadi pilihan yang terbaik.

Hh,,, siang tadi banyak pikiran berkecamuk di benakku. Kuliah. Rencana penelitianku. Belum lagi laboran lab yang membuatku menunggu hampir 2 jam. “Fantastis, baru jadi laboran aja sudah melanglang buana ke negri antah berantah. Sulit ditemui…” pikirku. Yah, walau pada akhirnya dapat kutemui laboran lain, tapi rasa gondok masih  terbenam di hatiku. Ingin rasanya aku mengumpat. Tapi…, bukankah aku tak biasa mengumpat…?

Ah, entahlah… memang hari ini banyak kejadian yang membuatku kecewa, tapi sudahlah. Yang jelas saat ini aku di sini lagi, di kamar ku yang kecil, di mana barang-barang berserak di mana-mana, walau sudah kucoba membereskannya. Baju kotor di lantai. Tas di tempat tidur. Gelas kotor di atas lemari. Botol minum di atas CPU. Celana-celana bekas pakai tergantung di mana-mana. Sarung terburai di samping sajadahnya. Dus pembungkus headset yang baru kubeli terserak di mana-mana. Yah, beginilah… beginilah suasana kamaku yang berukuran 2 x 3 meter ini.

Ah, kenapa kupikirkan hal-hal itu. Toh semuanya sudah menjadi bagian dari kebiasaan ku, bagian dari hidupku. Mau tak mau aku harus bisa menerimanya. Entahlah, akhir-akhir ini aku lumayan betah di rumahku. Tak seperti biasanya, saat rumahku menjadi sebuah wisma tempatku menginap (karena memang tak layak rasanya bila dibilang sebagai hotel kelas melati sekalipun).Pergi pagi, pulang malam. Mandi. Pergi. Pulang malam. Cuci muka. Tidur. Pagi lagi. Mandi. Pergi. Pulang malam. Cuci muka. Tidur. Begitu seterusnya.

Sialan, lagu yang kudengarkan ini semakin lama semakin membosankan. Di shuffle ataupun enggak sama saja. Tak ada yang terlalu menarik buatku. Hanya lagu-lagu awal tadi yang paling tidak membuatku ikut berdendang, walaupun dengan suaraku yang seadanya. Yaks, lagu-lagu mello ini semakin membuaku muak. Apalagi sebenarnya suara mereka STD banget, modal tampang! Begitulah, kecenderungan sekarang orang jual tampang, bukan kemampuan. Lihat saja di tivi ataupun di manapun orang-orang terkenal itu berada. Terkenal karbitan. Besok lusa paling juga sudah hilang ketenarannya. Hei, buat apa aku ngurusi mereka! Toh aku juga nggak tenar.

Yah, tak banyak yang bisa kulakukan sekarang. Menikmati kesendirian ternyata membuatku jengah dengan semua rutinitas yang ada. Apapun itu. Walau mungkin saat pertanyaan itu dilontarkan padaku, “apa aku ada rencana baru untuk mengubahnya?”, jawabannya masih tetap sama, tidak. Aku ingin sesuatu yang baru. Hal yang membuatku bergairah. Tapi apa yang bisa kulakukan sekarang? Sama sekali tak terlintas di benakku untuk mencari hal itu. “Paling suatu saat juga akan kutemukan dengan sendirinya,” pikirku, “atau mungkin mereka yang menghampiriku”. Siapa tau bukan?

Ah, buat apa aku terlalu memusingkan semua hal itu…?! Lebih baik segera kuistirahatkan ragaku, walau entah kemana jiwaku akan berkelana malam ini. Ke bulan mungkin. Atau ke masa lalu saja. Atau… ada ide lain? Ah, biarlah alam bawah sadarku yang menentukannya. Toh kemanapun jiwaku pergi malam ini, kuharap esok dia akan kembali mengisi ragaku.

Ssstt… kau dengar detak jarum jam itu?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 18, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: