RSS

Cerita Tentangmu dan Hujan

09 Okt

Kuhirup sejenak secangkir teh hangat beraroma melati itu. Yah, keharumannya kini bersenyawa sempurna dengan aroma tanah basah di pekarangan rumahku. Lagi-lagi aroma teh melati dan aroma tanah basah itu mampu menggelitik indera penciumanku untuk mencumbunya lebih dalam.

Malam ini hujan kembali mengguyur kotaku. Tak seperti biasanya memang, karena kali ini ia datang tanpa kilat tanpa petir, namun kehadirannya justru semakin memperkuat rasa. Ketika tak sengaja kutatap butir halusnya melewati cahaya lampu, aku pun tersenyum. Tersenyum ketika malam yang dingin itu seakan terasa hangat seketika oleh sugesti yang tiba-tiba menyergap otakku. Suasana seperti itu seakan membawaku melayang ke negeri roman—yang segalanya tampak begitu indah, walau tanpa kehadiranmu di sampingku. Tapi entah kenapa kali ini sesuatu yang menyenangkan tiba-tiba membuncah di dada. Sejenak kuhela nafas pelan ketika tatapanku masih saja terpukau oleh efek pendar cahaya lampu yang melewati butir halus gerimis itu.

Sekelebat bayanganmu melintas. Membuatku tersenyum lebih lebar. Tapi senyum itu teredam seketika, ketika sekali lagi kusadari memang hadirmu semu. Hanya hujan ini yang membuatku merasa dekat saat kamu tak di sampingku. Ah, lebih baik kubuang segera rasa itu, karena ketika kutatap kembali titik halus gerimis yang mengenai cahaya lampu itu, senyuman kecil tersungging di sudut bibirku.

Kembali kuseruput teh hangat beraroma melati dalam cangkir kecil berwarna cokelat di atas meja bundar kecil di teras rumah. Entah kenapa ketika kugunakan cangkir cokelat itu, suasana ritual minum teh di malam yang basah seperti ini menjadi lebih hidup.

Aku masih ingat ketika pada akhirnya aku membeli cangkir keramik itu pada suatu senja di sebuah pasar seni. Ketika dengan manjanya kamu memintaku untuk membeli sepasang cangkir kecil berwarna cokelat itu. Kamu bilang untuk sekedar mengenangmu ketika aku dan kamu harus terpisah ruang dan waktu seperti sekarang ini.

Dan memang, setiap kali aku meminum teh hangat beraroma melati dari cangkir ini, aku merasakan kehadiranmu di sela-sela hening malamku. Tak jarang kulihat senyummu mengembang di antara bunga-bunga yang tumbuh subur di taman. Terkadang derai tawamu terdengar dari balik teras rumahku. Atau seperti sekarang, kehangatan mulai menjalari badanku, ketika kurasakan kehadiran jiwamu dalam setiap nafas yang kuhela.

Tiba-tiba sesuatu yang menyesakkan menyusup ke celah hatiku. Satu menit. Dua menit. Aku terdiam. Kupejamkan mata sejenak, berharap saat ini hadirmu akan terasa semakin nyata. Seketika seisi semesta ini bagaikan terdiam. Bahkan gerimis pun enggan bersuara. Mataku mulai basah. Hatiku tergetar. Kurasa alam sedang sependapat denganku. Tak perlu kuberteriak ke segala penjuru angkasa, karena langit telah menurunkan gerimis itu sebagai rasa empatinya padaku.

Ketika kuberanikan diri untuk membuka mata kembali, kudapati sosokmu tak ada di sana. Yang tertangkap oleh indera penglihatanku hanyalah titik-titik gerimis yang membasahi tanah dan rerumputan itu. Kembali kuhela nafas pendek. Tak kupungkiri, rasa kecewa mulai merasuki pikiranku. Namun pendaran cahaya lampu taman itu kembali membuatku tersenyum. Merasa nyaman. Merasa hangat. Seakan kamu sedang menemaniku di sini, menikmati hujan malam ini.

Ingin rasanya kuberlari keluar. Menyatu dengan hujan dan menyetubuhinya. Memberi jalan bagi tetes air itu meresap ke dalam kulitku. Hingga pada saatnya nanti, aku berlutut, lantas merebahkan diriku di rerumputan, membiarkan sang hujan menggumuliku dan larut dalam rasa rindu yang menghimpit. Rasa rindu akan hadirmu tentu saja.

Tak bisa kutampik, rasa rindu ini memang sangat menggebu. Dan memang hujan ini membuatnya lebih terasa. Hujan. Gerimis. Badai. Apapun namanya, satu hal yang kutahu pasti, suatu hari kutemukan hadirmu di dalamnya. Namun di masa yang lain, mereka memisahkan kita. Walau tak jarang sang hujan menyatukan kembali jiwa kita.

Aku tersadar dari lamunan ketika kurasakan sebuah tetes hangat bergulir dari sudut mataku dan membasahi pipi. Tidak. Aku harus tegar. Sejauh apapun kamu, aku tahu suatu saat nanti kebersamaan kita akan kembali mengubah sedih itu menjadi sebentuk kebahagiaan. Dan aku yakin itu.

Dan saat ini, aku ingin menyampaikan sebentuk ungkapan hati yang kutitipkan pada hujan. Aku sadar bahwa kisah kita memang tak sempurna. Tak akan pernah bisa sempurna. Namun rasa sesal itu seringkali datang dengan sangat terlambat. Ketika kucoba untuk mencintai kamu dengan cara yang sesempurna mungkin, hadirmu tak lagi dapat kuraih.

Dan kini, aku hanya bisa berharap semoga hujan ini akan membawa kedamaian dan ketenangan bagimu di alam baka sana.

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 9, 2008 in bermain dengan kata-kata, ungkapan hati

 

Tag: ,

7 responses to “Cerita Tentangmu dan Hujan

  1. Dimas

    Oktober 9, 2008 at 9:45 pm

    *membaca sambil minum coca-cola dan jakarta pun tak pernah hujan* Doh OOT komenku, hihi…

    KIP! : duh,, mas nya ya..???

     
  2. krisnaarimjaya

    Oktober 9, 2008 at 10:27 pm

    salam untuk dia yang didalam kenangan

    KIP! : hmm,, sebenarnya itu tak lebih dari sekedar fiksi kok..🙂

     
  3. tovicraharja

    Oktober 10, 2008 at 9:48 am

    dimas na kembali bercerpen,, bagus na
    mana hutangmu … si angin itu belum kuterima hahaha

    KIP! : hoh,, iya ya..?? maapkeun… doakan saja saya segera mendapatkan wangsit untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat ini.. *halah*

     
  4. reno_iguard

    Oktober 11, 2008 at 4:26 pm

    2 thumbs up…

    KIP! : haiah.. eniwei,, matur nuwun..🙂

     
  5. Hangga Fathana

    Oktober 12, 2008 at 8:59 pm

    cocok jadi pujangga… n pastinya, jadi sekretaris.

    KIP! : wkekeke,, emang nyambung gitu yak..??😀

     
  6. daniel

    Oktober 16, 2008 at 7:08 pm

    hmm.. cangkir tanah liat… hujan…
    ~ mengingatkanku pada suatu waktu yang belum lama berlalu…~

    KIP! : dududu,, gak usah GR deh, mas.. ini bukan cerita tentangmu kok.. huehe..

     
  7. samdputra

    September 9, 2010 at 1:55 am

    Terasa sekali kesepian dari orang itu… Good.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: