RSS

Pada Senja Yang Telah Menua,,

11 Nov

SENJA TELAH MENUA. Bilik rindu di hati telah penuh. Aku mulai rapuh.
Tak tersentuh. – 2 November 2010

Enam hari sejak kukenal dia, sms yang memenuhi hp ku tak lain tak bukan hanya dari seseorang dengan nama panggil “Bhi”. Ya, seseorang itu baru kukenal sejak aku menuliskan tentang keluhan hatiku yang terlihat galau di twitter. Dan dari sanalah, kami saling berbalas DM, dengan sedikit mention di sana sini.

“Bho”. Begitu dia memanggilku. “Bhi” dan “Bho” memang tampak seperti sepasang nama yang bertolak belakang tapi saling melengkapi. Ah, tapi mungkin itu hanya pemikiran ku yang terlalu positif dan penuh harap.

Suatu ketika di tempat kerjaku, tiba-tiba nama Bhi menyala-nyala di layar hpku, seakan berteriak padaku untuk segera menjawab panggilannya. Senyum mulai terkembang di kedua sudut bibirku, lengkap dengan binar mata ceria. Ternyata terlalu lama aku mendiamkan panggilan itu, hingga tiba-tiba layar hp ku kembali menghitam. Aku terhenyak. Sebegitu lamakah aku mendiamkan panggilan itu? Dengan penuh debar, kutunggu layar hp ku menampilkan namanya lagi. Satu menit. Tak ada. Dua menit. Masih gelap. Lima menit. Hanya hela nafas panjang yang bisa kukeluarkan. Sepuluh menit. Nama itu sekarang tempampang di layar hpku, di bagian Kontak. Haruskah kutelpon balik dirinya?

25 menit berlalu, layar hpku masih saja menampilkan nama “Bhi”, tetap di bagian Kontak. Aku mulai merutuk diriku sendiri kenapa bisa sebegitu bodoh mendiamkan panggilan Bhi, sedangkan hal itu adalah satu kesempatan di antara puluhan.

Beberapa hari setelah kejadian itu, dalam satu hari hanya ada dua atau tiga pesan darinya. Telpon? Ya, tadi kami sempat bertukar cerita lewat telpon, tapi di menit ketiga tiba2 telpon terputus dan tak ada lagi kabar darinya.

Sore menjelang, tak ada satupun DM atau sms ataupun telpon. Seharian tadi praktis aku hanya memegang hp, mengamati timeline, namun tetap tak ada satupun kabar dari Bhi.

Aku mulai resah, dan hatikupun tak kalah gelisah. Kerinduan mulai meluber dari ruang hatiku.

Tepat sebelum aku mengemasi barang-barang di meja kerjaku, kuintip timelinenya. Hatiku remuk. Badanku lemas. Timelinenya penuh dengan kata-kata makian. Dan yang lebih mencengangkan lagi, avatarnya. Ya, avatarnya. Wajah cerianya yang selama ini kukagumi berubah menjadi wajah penuh memar dengan leher nyaris putus.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2010 in bermain dengan kata-kata, fiksimini

 

4 responses to “Pada Senja Yang Telah Menua,,

  1. Dimas

    November 12, 2010 at 2:14 pm

    wuih kisah nyata?O_o nice writing, anyway๐Ÿ™‚


    KIP! : gak, mas,, murni fiksi..!! hehehe. makasih komennya..๐Ÿ™‚ #peyuk2 #eh? hehe.

     
  2. ais ariani

    November 13, 2010 at 12:05 am

    *menyimak*

    ohhhh….. lama gak update blog gara – gara itu tohh..
    *sok tahu*๐Ÿ˜€


    KIP! : hahaha,, gara-gara apa, Is..??๐Ÿ˜€

     
  3. supernopha

    November 19, 2010 at 4:51 am

    NICE biiii hihi serasa hanyut #eh

     
  4. raiz_blank

    Desember 5, 2010 at 1:48 am

    he….he….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: