RSS

Di Tanah Yang Basah Itu

11 Des

Flash fiction contest – Ubud Writers and Readers Festival
(edited by: @daprast)

Kusandarkan badan ke tanah basah di bawah pohon itu. Aku merasa sangat lelah, seperti tak bertenaga. Sama sekali tak bertenaga. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa tiba-tiba aku ada di sini.

Uhh, badanku terasa sangat pegal dan sedikit terasa perih. Mungkinkah sebelum aku terbaring di tanah ini aku mengalami kecelakaan kecil? Terjatuh dari pohonkah? Atau tergores rerimbunan semak itu? Atau.. Ah, entahlah! Kepalaku berat, seperti tak bisa berpikir. Ingin rasanya kusandarkan di tanah saja.

Ketika kucoba untuk melihat sekeliling, kepalaku terasa sangat berat untuk kugerakkan. Pandanganku masih sedikit kabur. Akhirnya, kusandarkan saja kepalaku ke tanah yang lembab ini.

Aku menghela nafas. Pendek. Kuhela kembali, kali ini kuhembuskan lebih keras. Seketika mataku terpejam tanpa ada bayangan apapun melintas di kepalaku. Dan nafaskupun terasa semakin teratur.

Sejenak kemudian, keheningan mulai terasa. Rasa hangatpun mulai menjalari seluruh tubuhku. Namun aku mulai terusik dengan suara dedaunan yang saling bergesekan. Aku merasa seperti ada yang mendekat, tapi entah kenapa aku tak ingin kunjung membuka mata. Bulu kudukku meremang. Aku tetap tak membuka mata, tapi aku mulai gelisah.

Tiba-tiba telingaku menangkap suara berat yang memanggil namaku. Segera kudorong diriku untuk membuka mata, siapa tau bisa membantuku keluar dari kegelisahan ini.

Kulihat sesosok lelaki berpakaian gamis putih di sebelah kiriku. Aku mulai mencoba untuk bangkit. Kutegakkan badanku dan kusandarkan ke pohon kamboja di belakangku. Aku mencoba mengamati sosok itu lebih detil. Mataku mengernyit, masih aku tak mengenali wajah itu. Wajah yang begitu bersinar, seperti sedang memancarkan cahaya yang lembut.

Ia tersenyum penuh makna. Aku mengangguk, mengerti. Segera kudekati ibuku, mengusap wajahnya. Sekali lagi, kulihat air matanya menetes. Kutinggalkan satu kecupan di dahinya, tanda perpisahan.

Aku melangkah menjauh, meninggalkan ibuku di hadapan gundukan tanah yang masih basah, dengan papan kayu bertuliskan namaku.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 11, 2010 in bermain dengan kata-kata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: