RSS

Lilinku Patah Jadi Dua, Bunda..

24 Jan

“Bunda, bunda, bacain cerita ini dong!” tutur Iffah polos, padaku. Malam itu aku baru saja sampai di rumah setelah seharian bekerja. Capek? Tentu saja. Aku harus menempuh dua jam perjalanan dengan motorku untuk sampai ke tempat kerja, dan begitu pula sebaliknya.

”Ayo, Bunda, bacain cerita ini,” masih dengan kepolosannya, Iffah kembali memintaku untuk membacakan cerita dari buku cerita yang kubelikan untuknya seminggu lalu. Tiba-tiba Iffah terdiam, ia menatapku dalam-dalam. ”Bunda capek yah? Iffah pijitin dulu yah?”.

Aku hanya tersenyum. Anak perempuanku yang sebentar lagi berumur tujuh tahun ini pintar sekali mengambil hatiku. ”Iya, Iffah. Bunda capek. Iffah mau pijitin Bunda? Nanti Bunda janji bacain buku cerita itu buat Iffah”.

”Asyik!” teriak Iffah girang bukan main. Iapun lantas memijatku dengan tangan-tangan mungilnya. ”Enak, Bunda?”.

”Enak banget! Iffah sudah makin pinter nih, bisa mijitin Bunda sekarang,” jawabku, mencoba memujinya. ”Siapa dulu bundanya?”.

Kami tertawa bersama. Rasa lelah kerja seharian seketika sirna, melihat senyum dan tawa bocah mungi nan cantikku itu.

”Bunda, besok ulang tahun Iffah jadi dirayakan di sekolah kan?” tanya Iffah di sela acara memijatnya. ”Iffah udah bilang ke temen-temen, besok pas Iffah ulang tahun Bunda sama Ayah dateng ke sekolah Iffah, bawa banyak balon sama makanan”.

”Insya Allah, Iffah. Bunda sama Ayah sudah pesan kue ulang tahun, badut, sama balon buat ulang tahun Iffah nanti. Iffah suka kan?” ujarku dengan masih tetap tersenyum.

”Asyik, makasih, Bunda!” kata Iffah kemudian, memelukku.

”Ya sudah, Bunda mandi dulu yah. Bau ni badan Bunda,” kataku sambil mengelus punggung Iffah.

Anakku hanya tersenyum dan mengangguk. Kulihat ia lantas memindah-mindah saluran televisi, sambil memainkan boneka barbienya.

***

Tampaknya cukup lama waktu yang kuhabiskan di kamar mandi tadi, karena ketika aku lewat depan ruang televisi, Iffah sudah tertidur dengan pulasnya sambil memeluk barbie. Aku jadi merasa bersalah, tidak dapat menuntaskan janjiku untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Segera kubopong anakku, dan kupindahkan ke kamarnya yang mungil, di sebelah kamarku.

Lantas aku masuk ke kamar, suamiku belum pulang. Sepertinya ia masih bermain badminton dengan bapak-bapak kompleks.

Kurebahkan badanku di ranjang, segera aku menutup mata, esok hari aku harus bangun lebih pagi. Aku harus datang ke kantor lebih awal, akan ada pertemuan regional di kantorku.

***

Keesokan harinya, ketika aku sedang menyiapkan sarapan untuk anak dan suamiku, tiba-tiba Iffah menghampiriku.

”Bunda, semalem Iffah kok mimpi lilin ulang tahunnya patah jadi dua ya?” tanyanya polos, sambil meminum susu yang kusajikan.

”Memangnya kenapa, Iffah? Iffah mainin ya? Atau ada temen Iffah yang jahil?” jawabku dengan nada setengah bercanda. Sebenarnya ada sedikit perasaan tidak enak terselip di jawabanku tadi.

”Iffah gak tau, Bunda, tiba-tiba lilinnya patah, padahal belum sempet Iffah tiup. Sebel!” gerutunya, masih dengan lagak kanak-kanaknya yang sungguh polos.

Aku menghampiri Iffah yang sudah menghadapi menu sarapan favoritnya, nasi goreng dan telur mata sapi buatanku. Aku lantas mengusap rambutnya, ”Lilinnya sudah bunda simpan baik-baik kok, jadi gak mungkin patah. Ya? Sekarang Iffah habisin nasi gorengnya, trus berangkat ke sekolah”.

”Iya, Bunda”.

***

Selama seharian bekerja, tidak bisa kupungkiri bahwa sedikit banyak aku kepikiran dengan apa yang Iffah katakan pagi tadi. Tentang mimpinya, mimpi seorang bocah kecil berumur tujuh tahun. Namun tampaknya kesibukan bekerjaku lebih menuntutku untuk terus berkonsentrasi dalam menyelesaikannya.

Ketika sampai di rumah, kudapati suasana rumah lengang. Ada satu pesan dari suamiku ternyata, ia mengajak Iffah menginap di rumah neneknya. Cukup jauh dari rumah kami. Aku lantas menelpon suamiku, untuk tidak terlambat mengantarkan Iffah ke sekolah esok hari, karena besok ulang tahunnya akan dirayakan di sekolah.

Setelah mengecek segala macam kebutuhan untuk perayaan ulang tahun Iffah esok hari, aku segera mengistirahatkan raga dan pikiranku.

***

Pagi ternyata telah menjelang. Tidurku semalam tidak terlalu nyenyak, mungkin karena terpikir beberapa penawaran tender yang sudah mendekati tenggat waktu.

Tanpa perlu banyak waktu, aku segera mandi, menelpon EO penyelenggara ulang tahun anakku, dan segera berangkat ke sekolah Iffah.

Sesampainya di sekolah, aku segera bertemu dengan guru kelas Iffah yang sangat ramah. Baru saja kami berbincang sebentar, Iffah dan suamiku datang. Kulihat wajah Iffah begitu ceria. Mungkin ini salah satu hari yang paling membahagiakan untuknya. Aku tersenyum menyambutnya.

”Tadi Iffah makan nasi goreng di tempat nenek, Bunda, tapi masih enak buatan bunda,” bisik Iffah di telingaku, ketika aku memeluknya. Lantas aku berjalan mendekati suamiku yang masih berdiri di dekat mobil, dan mencium tangan.

”Ayo, mas, masuk. Biar pestanya segera dimulai,” ajakku sambil menggamit tangan suamiku.

Dan, perayaan kecil-kecilan ulang tahun anakku pun dimulai. Sungguh membahagiakan melihat senyum putri kecilku. Wajahnya benar-benar ceria, tanpa ada beban yang menggelayuti wajahnya. Senyum dan tawa polos anak-anak.

Tiba-tiba aku didekati suamiku, ”Sudah jam 9 lebih”.

Aku kaget, dan baru teringat akan sesuatu. Lantas aku berpamitan dengan guru dan juga Iffah. Kembali, kulihat wajah ceria Iffah. Wajah yang sangat menenangkan.

”Makasih, Bunda. Makasih, Ayah. Iffah seneng banget!” katanya sambil memeluk kami.

Dan, yah, sekarang sudah jam 9 lebih, aku dan suamiku harus segera bergegas. Sidang pertama perceraian kami diagendakan hari ini, jam 10 tepat. 

 
44 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 24, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , ,

44 responses to “Lilinku Patah Jadi Dua, Bunda..

  1. naishakid

    Januari 24, 2011 at 6:18 pm

    Keren, Abi. Mengalir banget ceritanya.
    Gak nyangka penutupnya begitu. Dua jempol! ^^

    KIP! : hehe, makasih, Akid..🙂

     
  2. adelliarosa

    Januari 24, 2011 at 6:22 pm

    Err kupikir ada ledakan di akhirnya, tapi palingan akhirnya iffah yang kecelakaan, atau bundanya yang kecelakaan. Tapi memang salah perkiraanku, malah justru gak terjadi apa-apa. Jadi makna mimpi iffah ini apa?

    KIP! : hmm, kurang kena ya di kalimat terakhir..? hehehe. *mengais2 tanah* ;D

     
  3. ndigun

    Januari 24, 2011 at 6:24 pm

    Selamat untuk angka 100-nya.

    Ceritanya sederhana. Dituturkan dengan alur yang runut dan mudah cerna dengan akhir yang pas. Aku suka analogi lilin patahmu. Asik!

    Hanya saja, menurutku, judulnya kurang kuat🙂

    KIP! : hehe, judulnya kurang kuat yah..?😀 maafkan. Ada usul judul yang lebih baik?🙂 mm, itu sebenernya kisah nyata yang pernah kudengar. hiks.

     
  4. queenmhelone

    Januari 24, 2011 at 6:29 pm

    Astaga, aku pikir juga akan ada kecelakaan. Ternyata tidak. Gaya berceloteh ringan, tapi ada makna dari setiap kata-kata iffah. Kasihan, mungkin ini ulang tahun terakhirnya didampingi ayah bundanya.. *sesenggukan*😀

    KIP! : hihi, kurang yah..? *garuk2 kepala* Intinya sih pengen nunjukin bahwa kesannya di awal2 keluarga mereka harmonis, tapi ternyata lilin patah itu adalah pertanda perceraian orang tua Iffah..🙂

     
  5. @me_gaa

    Januari 24, 2011 at 6:33 pm

    Wow! Sad story abi :’)
    Perpisahan selalu menyakitkan.
    Jalan cerita yang bagus dan ide menarik..

    KIP! : dan ini adalah kisah nyata, Meg..😦 btw, makasih komennya..🙂

     
  6. aDitya

    Januari 24, 2011 at 6:42 pm

    Kirain ifahnya kenapa2, e gak taunya mamah papahnya yang kenapa-kenapa. pedih yang sederhana.🙂

    KIP! : hehehe, kenapa banyak yang mikir Iffah-nya kenapa2 yah? btw, makasih komennya..🙂

     
  7. diana

    Januari 24, 2011 at 6:42 pm

    lilin patah dan perceraian. hm. betul kata Andi, judulnya kurang nampol. hehe.
    eniwei,aku suka alur ceritanya yang indah.

    KIP! : hehe, judul sebelumnya Lilin Ulang Tahun, mbak..😀 *toeeng!!* Makasih masukan dan jejak katanya..🙂

     
  8. judith

    Januari 24, 2011 at 6:42 pm

    Nice story,menyentuh,dituliskan dgn bahasa yang sederhana,mudah dipahami dan membumi.Aku suka!Selamat buat postingan ke 100 ya!

    KIP! : Makasih, Bunda..🙂 #peyuk2.

     
  9. novitapoerwanto

    Januari 24, 2011 at 7:01 pm

    ledakan yang kamu mau kan pada mimpi Iffah yg ternyata adlh ‘perceraian kedua orang tua’nya? ide ceritanya menarik kok Ndra. tapi menurutku nih, sebagai pembaca, pertalian antara kalimat, juga paragraf ke paragraf berikutnya kurang rapat😉 Jadi pada saat bomnya km jatuhkan di akhir, twist nya kurang ‘dapet’

    KIP! : ini sebenarnya kisah nyata, bulik.. huhu. oh, berarti aku yang kurang bisa menyajikan dengan baik dalam bentuk cerita ya? hehe. Makasih atas masukannya..🙂

     
  10. aya

    Januari 24, 2011 at 7:04 pm

    actually i hate sad ending, but your story has awesome sad ending🙂
    congrats untuk angka 100-nya, semoga ga bikin jenuh berkarya🙂

    KIP! : Makasih untuk komentar yang ditinggalkan..🙂

     
  11. damay

    Januari 24, 2011 at 7:31 pm

    Mas..selamat untuk posting ke 100 nya…

    Aku mikirnya tadi ibu/ ayahnya kecelakaan mas..*horor ya*

    Ternyata cerai ya…ending yg ga disangka..*tepuk tangan*

    KIP! : hehehe, berarti ending perceraian kurang menohok ya..? pada bilang gitu juga sih. hihi. Makasih jejak katanya..🙂

     
  12. mumu

    Januari 24, 2011 at 7:42 pm

    Selamat utk postingan ke-100..

    Cerita yang mengalir, meski endingnya bisa di buat lebih dari itu. Tp tetep, bagus.

    KIP! : Makasih, Mumu..🙂 sebenernya itu adalah kisah nyata, yang kuceritakan apa adanya.. huhu. Makasih masukan dan komennya..🙂

     
  13. disatannos

    Januari 24, 2011 at 7:47 pm

    menurut aku perceraian itu hal yang cukup menohok kokkk. hehe. cuma emang agak kurang *jleb* gitu, mungkin kalimat-kalimatnya aja kali ya. tapi keren (:

    KIP! : hehee, makasih masukannya, Disa..🙂 harus belajar lebih giat lagi..😀 semangat..!!

     
  14. Hangga Fathana

    Januari 24, 2011 at 7:51 pm

    Endingnya dibungkus begitu cantik dan berkesan! Salut!

    KIP! :tapi sepertinya memang kurang nancep, mas.. hehe. btw, makasih sudah meninggalkan jejak..🙂

     
  15. CKw7

    Januari 24, 2011 at 8:10 pm

    Usul judul ‘Lilin Patah’ *lah sok2an ngasih usul segala*.
    Kyknya kalo kalimat terakhir dikembangkan jadi satu segmen cerita lagi mungkin akan lebih ‘jleb’
    Udah ah kebanyakan ngomong nih … *ditoyor abi*

    KIP! : hehee, ya justru yang dicari di sini masukan2 n usul je, oom, biar bisa berkarya dg lebih baik ke depannya..😀 Makasih masukannya..🙂

     
  16. Hangga Fathana

    Januari 24, 2011 at 8:14 pm

    Mas, my argument may at odds with the others.

    Menurutku, satu kalimat terakhir yang dinilai kurang nancep itu justru ‘membiarkan’ para pembaca untuk merasakan ironisnya pesta ulang tahun Iffah. Kalimat penutup yang begitu sederhana, pendek dan mengena! Sukses selalu Mas!

    KIP! : mungkin emosi yang kubangun kurang kuat, mas, jadi seakan2 kurang mempengaruhi pembaca. hehe. Makasih masukannya..🙂

     
  17. Topik Hidayah

    Januari 24, 2011 at 8:22 pm

    Wow.. Nice story Ndra, kalo masalah teknis mungkin teman2 lain lbh pandai komen. Tapi setidaknya km hebat dibandingkan aku yg ga prnah coba bikin cerpen.. Btw, mengenai ending, feelingku pas Iffah dibawa ke rumah nenek menyebutkan bhw orang tua Iffah pasti ada masalah, tebakan ku Bapake selingkuh karena emaknya kerja mulu.. Hehe, trnyata meleset.. Gud job, terus berkarya🙂

    KIP! : ayo, nulis, bang..!!🙂 oh, cukup jeli abang ini dapet “sinyal” kalo orang tua mereka ada masalah di saat bapak Iffah membawa Iffah ke tempat neneknya. hehe. Makasih komennya..🙂

     
  18. Rick

    Januari 24, 2011 at 8:57 pm

    gaya tulisannya asik. ringan dan mengalir. namun memang judulnya kurang nempel.

    mengenai ending,justru bukannya bagus lo bisa mengelabui pembaca?gua yakin,kalo lo bikin ending kecelakaan, semua bakal bilang, endingnya dh ketebaklah,apalah…🙂

    tp, memang, kejutan di endingnya,ga begitu mengejutkan. hanya sedikit menyentak saja…🙂

    KIP! : haha, aku emang selalu bermasalah dengan judul.. gak bisa bikin judul yang bagus buat suatu tulisan.. hiks. hehe, ternyata aku memang belum “pintar” menuangkan kisah nyata ke dalam fiksi. tapi, makasih masukannya..🙂

     
  19. Emiralda

    Januari 24, 2011 at 9:40 pm

    Yah, telat komen.

    Hmm, sama kayak yang lain, kirain Iffahnya yang kenapa-napa. Tapi saya malah lebih ‘berasa kena’, dengan ending perceraian. Lebih miris daripada kecelakaan. Lebih berasa sedihnya..

    Sisanya, ceritanya lumayan mengalir, kok. Indah🙂

    KIP! : hehhee, makasih komentarnya, mbak Emiralda..🙂 entah aku harus ngerasa seneng atau “gagal” dengan banyaknya anggapan bahwa di endingnya justru ada “apa2″ pada Iffah atau orang tuanya. hehe.

     
  20. RUDYrtw

    Januari 24, 2011 at 11:07 pm

    Meh nangis moco ending-e, Bro, hiks.

    KIP! : aku lebih nangis waktu denger cerita aslinya, mas..😦 makasih sudah mampir dan komen..

     
  21. Bunga

    Januari 24, 2011 at 11:16 pm

    Perpisahan. Hiks. Sedih.
    Nice story om b7ru alurnya dapet.
    Ada seneng ada sedih.
    Endingnya ga ketebak.
    Like it!😉

    KIP! : Makasih, Bunga..🙂

     
  22. choro

    Januari 24, 2011 at 11:23 pm

    hah kisah nyata?

    *shock di bagian kisah nyatanya*

    its so.. dramatical🙂

    KIP! : well, kita kan sedang memainkan peran kita masing-masing di panggung sandiwara ini.. #halah. hehee. makasih komennya..🙂

     
  23. Agam Hijrah

    Januari 24, 2011 at 11:36 pm

    Iya ya,aku udah tegang aja bacanya…ternyata akhirnya cerai,apa mungkin cerai ga terlalu ironis ya?apa mungkin udah sering lihat infotainment,ntahlah..tapi tulisannya bagus!ngalir.karena true story juga kali ya.aku maulah diceritain tentang diriku..ya.ya.ya..(Ngarep)

    KIP! : tapi menurutku, untuk sebagian orang, kata cerai masih jadi hal yang sangat menyakitkan.. huhu. terutama buat aku ketika mendengar cerita itu.. btw, mau dibuatin cerita..? boleh. sini kasih draftnya..😀 Makasih sudah komen..🙂

     
  24. zulazula

    Januari 24, 2011 at 11:52 pm

    Aku suka, tapi pada awalnya kupikir ada sesuatu hal yang menimpah sang anak. Seperti kecelakaan. ternyata orang tuanya bercerai. But i like it mas🙂

    KIP! : ini sebuah kegagalan yang tdk memenuhi ekspektasi pembaca atau justru keberhasilan mengelabui pembaca ya? aku sendiri jadi bingung. hehehe. Makasih sudah berkomentar..🙂

     
  25. oddie

    Januari 25, 2011 at 2:17 am

    Akhirnya aku menjejak di ke-100-mu.
    Bom yang kamu ledakkan di akhir, membuat pembaca percaya diri melepas duga yang klise: ada yang kecelakaan atau ‘kepergian’ yang memilukan.
    Input sudah banyak tuh di atas.
    Aku cuma mau bilang: tak ada tulisan yang tidak bagus, yang tidak bagus itu adalah menyimpan tulisan!
    Selamat ya!🙂

    KIP! : waaaa, mas Oddie hadir.. hehe. Makasih mas atas komentar dan masukannya..🙂

     
  26. aya

    Januari 25, 2011 at 7:30 am

    Aya setuju sama yang comment diatas aya, akhir cerita ini justru bikin kita terhenyak, karena ga biasa dan ga bisa ditebak. Well, setiap orang punya selera yang berbeda sih🙂

    KIP! : Sebenernya ini aku mencoba untuk menceritakan dengan sesederhana mungkin kisah ini, dengan bahasa yang tak rumit. Inti dari cerita ini sebenernya adalah kesannya keluarga mereka harmonis, tapi ternyata di balik itu, perceraian sudah menanti. huhu. Makasih komentarnya..🙂

     
  27. te

    Januari 25, 2011 at 8:33 am

    duuh… jika benar kisah nyata… *amit2* ….

    KIP! : sampai sejauh ini masih kisah nyata yang dibalut sedikit fiksi, mbak.. huhu.. Makasih telah berkomentar..🙂

     
  28. arie sisca

    Januari 25, 2011 at 8:34 am

    Congrats untuk postingan ke 100 Ndra.. Nice story, pembaca dibawa untuk berpikir akan kecelakaan dsb, gak nyangka kalau menjadi perceraian. Tapi pemilihan kata yg lebih tepat akan menjadikan ending yg lebih shocking.. Hehehe.. Terus berkarya ya..😉

    KIP! : Pemilihan kata-kata untuk endingnya..? okay, okay, mbak.. Makasih atas masukannya..🙂

     
  29. isyia ayu

    Januari 25, 2011 at 10:35 am

    Bagus mas.. Aku dah ngira klo akhirnya perceraian, tp kirain ayahnya yg selingkuh.
    Ternyata emang dua2nya mau pisah toh.. Keren!🙂
    Selamat ya buat postingan ke-100 nya ^-^

    KIP! : Sebenarnya bukan dua2nya yang mau pisah, tapi sepertinya memang keadaan yang memaksa demikian. Bunda Iffah masih sempat mencium tangan suaminya ketika bertemu di sekolah kok. hehe.

     
  30. lela herlambang

    Januari 25, 2011 at 10:37 am

    Ceritanya menggugah hati..saat membaca ttg mimpi lilin patah dikira akan ada kematian diakhir cerita,,tebakan Ɣªήğ salah ternyata,,bagus mas

    KIP! : hehe, sebenernya ini kisah nyata yang kutuangkan begitu saja dalam bentuk tulisan. Jadi ide mimpi lilin patah itu berasal dari cerita si anak kecil itu.

     
  31. commaditya

    Januari 25, 2011 at 10:56 am

    Memang di tengah agak bertele2, ide utk endingnya mantap.
    Memang kalimatnya kurang nendang, tapi hey, bukankah kekuatan tendangan setiap orang itu berbeda? Gimana caranya agar kuat? Ya dilatih!🙂
    gw bukan penulis dan kritikus yg bagus juga, tp gw tau mana yg enak mana yg ngga, at least bwt gw.🙂
    Bro, gw dukung proses elu menulis.
    Smoga tulisan ke 150 lebih baik dari ini.

    *salaman*

    KIP! : Berarti lebih enak kalo ceritanya berlangsung selama 2 hari saja ya? Malam dan keesokan harinya? mungkin akan terasa lebih padat. hehehe. Makasih dukungannya, Adit..🙂 #salaman

     
  32. dedaoengugur

    Januari 25, 2011 at 11:48 am

    yaaahh…sad ending…😦
    well anyway, congratz utk tulisan ke-100nya ndraaaa….🙂

     
  33. Herman Saksono

    Januari 25, 2011 at 1:13 pm

    Aaaaaaaaaaaaaaaaa. Kasian Iffah.

    KIP! : and this is a true story..😦

     
  34. kei

    Januari 25, 2011 at 1:19 pm

    wah, bagus. simpel, tapi akhirnya bikin terpana.
    btw, salam kenal ^^

    KIP! : makasih..🙂 salam kenal juga.. #salaman

     
  35. supernopha

    Januari 25, 2011 at 4:55 pm

    Abi. . . Sedih bacanya😥
    Kukira akan ada sesuatu yg menimpa Iffah. . Ah ternyata perceraian. . .

     
  36. Descha

    Januari 25, 2011 at 5:14 pm

    huwaaaaa….
    mas indra….
    kereen cerpennya… >.<
    aku kirain endingnya itu si Iffah kecelakaan sama papanya ato gimana…
    ternyataa…

    anyway, congrats yah buat posting ke-100 nya..😀
    terus berkarya!!😀

     
  37. aya

    Januari 26, 2011 at 12:31 pm

    Aya suka penulisan dan alur ceritanya mas, aya bisa rasain rasanya jadi tokoh iffah dan bunda sekaligus. Aya belum bisa bikin cerita kaya gini hehe😛

     
  38. ey_ic

    Januari 26, 2011 at 12:36 pm

    kirain cerita #saru..

    ternyata sedih ya..

    :((

     
  39. icharamlan

    Maret 19, 2011 at 6:28 pm

    ini kisah nyata ya…sedih banget..nangiss😥

    KIP! : iya, sayangnya kisah nyata..😦

     
  40. yuya16

    Maret 26, 2011 at 1:20 pm

    ini saya suka, sesuatu yg ringan, sangat umum dan sangat mungkin terjadi tapi tidak membosankan untuk diceritakan🙂

    KIP! : tapi sayangnya itu kisah nyata, Ya..😥

     
  41. almaskaramina

    Maret 29, 2011 at 12:16 pm

    Serius ini kisah nyata?? :(((
    Trus Iffah apa kabar sekarang?? T.T

     
  42. destiisnawati

    Juni 14, 2011 at 1:09 am

    awalnya kirain bakal ada yang kecelakaan, eh ternyata gada, sukurlaah.. tapi ga syukur juga itungannya, jadinya malah cerai😦 but nice bermain katanya..

    KIP! : hehehe, kenapa sebagian besar orang yang baca cerita ini mikir gtu ya..?😀 btw, makasih udah mau mampir..🙂

     
  43. Ayu

    Juni 22, 2011 at 2:06 am

    Bagus banget! #telat hehe

     
  44. Gerizal

    Januari 7, 2012 at 8:19 pm

    “Ya Allah, izinkanlah kami menjadi insan yang ‘luar biasa’ pada pandangan -Mu, hingga tiada mengharap pandangan selain dari diri-Mu,aamiin.”

    Seperti Ibunda Siti Khodijah yang bijaksana, Ibunda Maryam yang suci, Ibunda Asiyah yang teguh di jalan-Mu, juga Ibunda Siti Hajar yang besar kesabarannya, “subhanallah..”

    …Mengisi lembar kehidupan yg baru dg terus memperbaharui niat, memperbaiki diri, menajamkan semangat dan senantiasa membersihkan hati dari mataa’ul ghurur (kenikmatan yang memperdaya), takaatsur (saling berlomba memperbanyak harta benda), tafaakhur (saling membanggakan kemuliaan), ziinah (perhiasan), lahwun (senda gurau yang sia-sia), la’ibun (permainan)…

    Dan, setelah itu istiqomahkanlah aku di jalan-Mu….

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: