RSS

Kenangan yang Kembali Hadir

26 Mei

Di sinilah kami sekarang, di sebuah dapur kecil tempat ibu biasa membuat sarapan untuk kami. Aku, kedua adik lelakiku, dan ayah. Kami biasanya selalu menyempatkan waktu untuk sarapan pagi dan makan malam bersama di meja kecil yang terletak di sudut ruangan yang menyatu dengan dapur itu.

Beberapa hari ini ibu terlihat sangat murung. Sejak dikeluarkan dari tempat kerjanya karena dituduh mencuri uang kantor, tidak ada lagi senyum yang terkembang di wajah ibu. Sebagai anak tertua, aku merasa bertanggung jawab untuk selalu menemani ibu ketika aku sedang berada di rumah. Aku trenyuh melihat kondisi ibu yang semakin hari semakin bersedih. Terkadang aku yang membuatkan makan untuk keluarga, karena keahlian memasak ibu hanya menurun padaku.

Hari ini ayah dan kedua adikku terpaksa ke kampung halaman kami di Semarang, karena ibu dari ayah meninggal dunia. Ibuku tak bisa ikut karena kondisinya yang memang belum terlalu baik. Lagi-lagi, sebagai anak tertua, aku menawarkan diri untuk menemani ibu selama ayah dan kedua adikku ke Semarang.

Dari tadi kulihat ibu hanya mengaduk-aduk bubur yang sudah kusiapkan untuk makan malam. Pandangannya kosong. Sejenak ibu menatapku. Matanya tetap kosong, seperti tak ada kehidupan di sana. Tiba-tiba ibu berbalik, mengobrak-abrik seisi dapur, sambil berteriak-teriak histeris. Kuhampiri ibu segera. Kucoba memeluk ibu dan menenangkannya. Tiba-tiba ibu berbalik dan menusukkan sebilah pisau, tepat di perutku. Sekali. Dua kali. Tubuhku mulai bercucuran darah, kesadaranku pun mulai berkurang, hingga akhirnya aku rubuh.

Melihatku rubuh, ibu duduk di atas badanku, dan kembali menghujamkan pisau dapur itu berkali-kali. Aku semakin melemah, tak sanggup aku melawan. Ibu masih saja berteriak histeris. Aku terkapar, meregang nyawa, karena tindakan seorang wanita bernama Yayuk, ibuku sendiri.

**

”Lepaskan saya! Tolong! Tolong!” Aku berteriak, meronta sekuat tenaga.

”Diam kamu!” sahut lelaki berperawakan tinggi besar itu sambil menodongkan sebilah pisau ke leherku.

Aku hanya bisa terdiam, mencoba memberontak. Air mataku terus saja mengalir, terlebih ketika lelaki itu mulai menyobek daster dan melepas celana dalamku.

Meja dapur itu berantakan. Barang-barang yang semula tertata rapi di atas meja, sekarang berhamburan, bahkan beberapa piring terjatuh dan pecah.

”Yayuk, aku sudah lama ingin bersetubuh denganmu! Diam atau kamu mati!” ancam lelaki itu.

Aku hanya bisa pasrah mendapati tubuhku disetubuhi lelaki yang mengaku sebagai teman orang tuaku itu.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 26, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , ,

One response to “Kenangan yang Kembali Hadir

  1. supernopha

    Mei 26, 2011 at 7:31 pm

    Tragis. .😮

    KIP! : hehehehe.. makasih sudah mampir.. ;D

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: