RSS

Double Espresso

28 Mei

Setibanya di cafe ini, aku segera menempatkan diri di salah satu sudut dekat rak buku. Tempat ini adalah salah satu tempat favoritku di sini. Selain aku bisa sepuasnya membaca buku yang disediakan, tempat ini juga agak tertutup, sehingga privasiku tak akan terganggu. Biasanya aku menghabiskan banyak waktuku di sini, entah sekedar membaca buku, mengerjakan tugas kuliah, atau hanya duduk santai sambil menikmati minuman-minuman favoritku.

Pelayan cafe itu hafal betul pilihan menu yang biasanya kupesan. Sebelum aku bilang apa pesananku, beberapa dari mereka yang biasa melayaniku sudah mengucap, ”Frappuccino ekstra krim tanpa chocolate chips?”. Aku hanya tersenyum, lantas menggeleng kecil. Kali ini tebakan mereka salah. ”Double Espresso aja, mas. Makasih ya,” kataku masih sambil tersenyum.

Sudah menjadi kebiasaan, setiap Sabtu malam aku selalu ke cafe ini, sendirian. Bukan, aku bukan seorang jomblo. Aku punya pacar, hanya saja takdir yang mengharuskan kami menjalani hubungan jarak jauh. Jarak Jogja–Bandung sudah kami taklukkan kurang lebih dua tahun belakangan ini.

Sepeninggal pelayan cafe dari mejaku tadi, aku hanya memandang kosong pintu cafe yang terbuka dan tertutup berulang kali. Aku memelorotkan posisi dudukku di sofa ini, sambil memeluk bantal yang tersedia. Pandanganku masih saja tertuju pada pintu cafe yang sedari tadi dibuka oleh orang-orang yang sama sekali tak kukenal. Ya, memang aku bukan orang yang gaul, bahkan di kampusku sendiri. Wajar saja aku tidak terlalu mengenal orang-orang yang ada di cafe ini meskipun dia mungkin saja teman kuliahku.

Pandangan dan lamunanku buyar seketika saat pelayan cafe berbaju ungu itu menyajikan Double Espresso di mejaku. Sejenak kutatap wajahnya, sambil tersenyum kuucapkan ”Terima kasih”. Pelayan itu berlalu dan aku kembali larut dalam kesendirianku.

**

Aku tercengang melihat ia menindih Citra, sahabatku. Mereka saling mengadu nafsu di sofa ruang tengah paviliun Andro. Tampaknya ia lupa pernah menitipkan kunci cadangan kepadaku. Rencanaku memasak untuk memberinya kejutan sepulangnya dari Bandung gagal seketika.

**

Aku masih saja mengaduk-aduk kopi yang masih utuh di cangkir berwarna putih itu. Pandanganku masih saja tertuju pada pintu cafe. Entah, seakan aku berharap ada orang yang kukenal di sana.

Sejenak, kudengar suara Landon Pigg melantunkan lagu ”Falling In Love at a Coffee Shop” dari speaker yang menempel pada dinding cafe itu. Aku tersenyum getir mendengar lagu ini.

**

”Aku benernya gak terlalu suka kopi sih. Hmm, aku pesen teh aja ya. Strawberry Sparkling Tea ini kayaknya enak. Kamu pesen apa?” tanya Andro padaku di sebuah kesempatan.

”Biasalah, Frappuccino ekstra krim tanpa chocolate chips,” jawabku sambil tersenyum. ”Kamu, tumben minum yang ada strawberry-nya? Bukannya kamu gak suka?”.

”Aku pesen ini, karena aku,” katanya, berhenti sejenak, ”karena aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacarku? Aku pengen liat matamu berkilau waktu kamu bilang IYA dan setuju jadi pacarku.”

Aku terdiam, terpaku, terperangah. Malu-malu aku menunduk, sambil tersenyum simpul.

”Kok diem? Kamu mau gak jadi pacarku?” tanya Andro lagi, kali ini ia memegang tanganku.

Aku menatapnya, tersenyum, lantas mengangguk.

**

Aku masih saja mengaduk kopi hitam ini, memastikan semuanya sudah benar-benar larut.

**

”Sayang, besok aku harus berangkat ke Jakarta. Ada interview kerja. Doakan lulus ya,” kata Andro pelan sambil mengusap punggung tanganku.

Aku tersenyum, meski di dalam hati aku takut jauh dari sisinya.

**

Setelah yakin benar semuanya sudah larut, kuminum sekaligus kopi hitam dari cangkir itu.

**

”Sayang, aku bisa jelaskan!” teriak Andro sambil mengambil pakaiannya yang berhamburan di lantai dan segera mengenakan seadanya.

Aku hanya tersenyum kecut, melangkahkan kakiku secepatnya meninggalkan mereka. Dadaku bergemuruh, mataku basah.

**

Pengunjung cafe itu geger. Pelayan menemukanku kejang-kejang, terkapar di atas sofa.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , ,

3 responses to “Double Espresso

  1. heru

    Juni 8, 2011 at 1:52 pm

    aku pikir tadi ini fiksinya djenar mahesa atau seno gumira, keren.

    KIP! : hah, seriusan..??? gak segitu kerennya ah.. hehe. tapi makasih udah baca n komen..🙂

     
  2. aulsoemitro

    Juni 15, 2011 at 9:08 pm

    Gawaaaaaaaaat!!

    KIP! : hahahaha, gawat apane, Ul..??😀

     
  3. anin

    September 12, 2011 at 6:40 am

    Wew.. keren..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: