RSS

[fiksi] Aku Bahagia

11 Agu

Sudah sangat lama aku tidak bertatap muka langsung dengan kekasihku. Ya, sudah hampir satu tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya. Rindu yang kurasakan sudah benar-benar memuncak sepertinya. Dan duduk berdua di sebuah kursi kayu di pinggir danau seperti ini terasa sangat menyenangkan bagiku. Paling tidak, senyum ini tak pernah lepas dari wajahku—yang katanya—terlihat lebih berbinar.

Berada di sampingnya seperti saat ini memang hampir menjadi satu-satunya hal yang kuinginkan. Betapa tidak, hampir setahun aku tidak bertemu dengannya, bertemu seseorang yang benar-benar kusayang.

Namanya Rio. Kami saling mengenal sejak hari pertama masuk SMP. Saat itu ia yang pertama kalinya menyapaku ketika aku masuk ke kelas I B. Senyumnya benar-benar tak terlupakan. Sejak saat itu kami berteman baik, hingga akhirnya kami pacaran. Namun karena satu hal tak terduga, kami harus berpisah setelah kami lulus SMA. Katanya perpisahan itu hanya untuk sementara. Aku menangis? Tentu saja! Berpisah dengan seseorang yang sudah sangat dekat selama beberapa tahun itu tentu tidak mudah.

Dan di sinilah kami sekarang. Di pinggir danau yang indah, di bawah pohon yang teduh pula. Kami berbincang, kami bercanda, kami saling bercerita tentang hidup. Satu hal yang akan selamanya kuingat adalah, baru saja ia membuatkanku cincin dari bunga, dan ia pasangkan cincin itu ke jariku. Klise memang, tapi apa sih yang bisa membahagiakan wanita selain hal-hal romantis seperti ini?

Kami masih berbincang santai ketika akhirnya ia berkata, “Kembalilah, Dinda. Aku akan selalu menunggumu di sini. Aku berjanji. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Tapi saat ini, kembalilah. Aku mencintaimu, tapi aku yakin bahwa ayah dan ibumu jauh lebih mencintaimu. Aku berjanji, aku tak akan meninggalkanmu”.

Aku hanya bisa menangis, tanpa isak. Namun kata-katanya meyakinkanku bahwa pada saatnya nanti kami akan bersatu kembali.

**

Aku membuka mataku perlahan. Aku melihat kedua orang tuaku di sana. Mereka tampak sangat bahagia, bahkan ibu menangis.

“Alhamdulillah, Nak, kamu sudah sadar,” ucap ibuku berkali-kali sambil memelukku.

Aku melihat sekeliling. Tak ada danau, tak ada pohon rindang. Yang ada hanya sebentuk cincin bunga, melingkar di jari manisku. Aku tersenyum.

“Terima kasih, Tuhan,” batinku. Meskipun masih lemah, aku kembali tersenyum.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 11, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , ,

3 responses to “[fiksi] Aku Bahagia

  1. honeylizious

    Agustus 14, 2011 at 4:37 am

    pacarnya ke mana? meninggal dunia ya?

     
  2. medi_3003

    Agustus 15, 2011 at 5:00 pm

    Hiks…

     
  3. Nandini

    September 16, 2011 at 5:25 pm

    ini sebenernya kisah yang menyakitkan lho, ditinggal mati sama kekasih kaaan???😥😥

    tapi dengan kekuatan cinta Virgo bisaaaa aja mengemas dengan keren.. !!!
    bikin lagi donk yang kaya gini…:mrgreen:

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: