RSS

[fiksi] Anak Basket Itu..

06 Okt

By Anginbiru @B7RU

Sungguh, hingga kini terkadang aku masih tidak percaya telah menyandang status sebagai pacar seorang pemain basket yang cukup populer di sekolahku. Well, siapa sih aku? Aku hanya seorang anggota ekskul Kelompok Ilmiah Remaja—yang tidak terlalu diminati banyak siswa. Dan selama hampir dua tahun aku mengikuti ekskul ini, hanya orang-orang itu saja yang aktif di sana. Tak jarang kami juga dijuluki sebagai orang-orang nerd yang hanya memikirkan sekolah dan penelitian. Tak lebih! Tapi, buat apa kuceritakan panjang lebar tentang ekskul yang kuikuti, toh mungkin kamu pun juga tidak terlalu tertarik mendengarnya.

Oya, aku sudah berpacaran dengan anak basket ini sejak dua bulan yang lalu. Tepatnya, ia mengajakku kenalan setelah kami sama-sama menyerahkan piala kejuaraan kepada Kepala Sekolah. Dia menjadi wakil dari tim basketnya, sedangkan aku menyerahkan piala Juara 1 Lomba Penelitian Remaja yang kuikuti. Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat, dan pada akhirnya dia menyatakan cintanya padaku di kantin sekolah. Jujur saja, saat itu aku sangat malu. Bagaimana tidak? Aku yang biasanya dikenal sebagai anak kuper tiba-tiba ditembak seorang anak basket.

Sejak saat itu kehidupanku sedikit berubah. Aku mulai dikenalkan ke orang-orang yang tergabung di tim basketnya. Dan seperti biasa, aku lebih banyak diam ketika aku berada di sana. Sebenarnya aku tidak terlalu nyaman, tapi gimana lagi, mungkin ini yang dinamakan “Tuntutan peran”.

Buatku, Andri—nama pacarku—adalah orang yang cukup romantis. Hampir setiap hari ia menjemputku untuk berangkat ke sekolah bersama. Tak jarang, ia membawakan aku cokelat atau bunga ketika menjemput. Aku hanya bisa tersenyum dan berucap “Makasih”. Ah, mungkin ini yang dinamakan “Mimpi yang menjadi nyata”. Sama sekali tak pernah terpikirkan untuk menjadi pacar seorang pemain basket. Satu sisi, aku “bukan siapa-siapa” di sekolah. Di sisi lain, mereka adalah orang-orang populer yang tentunya punya banyak fans.  Tapi ya sudahlah, toh akhirnya aku jadi pacar salah satu dari mereka.

Malam ini rencananya ia akan mengajakku makan malam—untuk merayakan dua bulan ia mengenalku katanya. Sebenarnya bukan suatu hal yang penting, tapi entah kenapa aku hanya bisa tersipu mendengarnya. Sudah sejak sore aku mencoba memilih-milih baju mana yang akan kugunakan.

Baru saja aku akan beranjak mandi, aku mendapatkan sms darinya. Ia bilang makan malam kami terpaksa diundur, karena ada latihan basket tambahan di sekolah. Sepertinya memang mereka benar-benar serius mempersiapkan diri untuk lomba antar sekolah bulan depan. Ia bilang aku akan dijemput di rumah sekitar jam delapan malam, tapi kupikir tak ada salahnya aku datang ke sekolah, melihatnya berlatih. Yah, paling tidak, sekedar menyemangatinya dari kejauhan.

**

Dari kejauhan kulihat sekelompok anak basket sedang berlatih, namun sepertinya tak kulihat ada Andri di sana. “Jadi cadangan apa ya?” pikirku.

Aku berniat menghampiri mereka di lapangan, namun sebelumnya aku pergi ke toilet untuk sekedar merapikan dandanan. Baru saja aku masuk ke toilet cewek, tiba-tiba aku mendengar suara asing dari dalam. Ada suara erangan tertahan di sana, seperti orang kesakitan. Tiba-tiba kubatalkan saja niatku untuk merapikan dandanan. Aku segera keluar dan bergegas ke lapangan basket. Entah apapun itu yang terjadi di dalam toilet, kupikir sebaiknya aku berpura-pura untuk tidak mengetahuinya.

Sesampainya di dekat lapangan basket, aku lebih memilih untuk duduk di tangga parkiran daripada masuk ke lapangan.  Aku tak berani melihat dari dekat, karena aku masih belum terlalu nyaman berada di sekeliling mereka. Dari tempatku duduk ini aku bisa memandang ke banyak tempat. Lapangan basket, parkiran, pos satpam, toilet, dan ruang laboratorium. Pikiranku tiba-tiba membawaku kembali ke kejadian di toilet tadi. Aku bimbang. “Haruskah aku kembali ke sana?” pikirku. Seperti ada orang yang sedang disakiti di sana.  “Haruskah aku mencari bantuan untuk mengeceknya?”.

Memang, hampir tidak akan ada yang memakai toilet cewek malam-malam begini. Hanya anak basket cowok yang latihan hingga larut malam. “Jangan-jangan ada yang disakiti di dalam toilet tadi,” pikirku. Tapi ternyata nyaliku tak cukup besar untuk menjadi “pahlawan”. Akhirnya aku tetap duduk di tempatku berada saat ini dengan perasan gusar.

Setelah beberapa waktu aku terdiam, kuberanikan diri untuk kembali ke toilet tadi. Dadaku berdebar sangat kencang. Aku mengendap-endap, mencoba untuk tidak mengeluarkan sedikit pun suara. Sesampainya di sana, aku merasa heran. Erangan kesakitan tadi berubah jadi obrolan yang diselingi tawa kecil. Kuberanikan diri untuk semakin mendekat, tetap tanpa mengeluarkan suara. Belum juga sampai depan pintu, aku segera sembunyi karena sepertinya orang yang ada di dalam toilet itu akan keluar. Aku bersembunyi di balik papan pengumuman yang terpasang di dekat toilet.

Aku tetap mencoba untuk mengamati apa yang terjadi di sana. Dari celah papan pengumuman itu kulihat ada dua orang lelaki keluar dari toilet cewek. Aku berusaha keras menguping apa yang mereka bicarakan. Di sana, kulihat Andri membisikkan sesuatu sambil meraba celana bagian depan pelatih basketnya, yang lantas dibalas dengan ciuman singkat di bibir Andri. Aku lemas seketika.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

One response to “[fiksi] Anak Basket Itu..

  1. Riga

    Oktober 6, 2011 at 4:12 pm

    entahlah..dari awal aku udah punya firasat kalau cerita ini berhubungan dengan kisah ‘itu’. Memang sedikit melenceng dari dugaan, karena awalnya kupikir tokoh ‘aku’ juga seorang cowok. Sejak awal cerita, tak ada disebutkan tanda-tanda yang mengarah ke dugaan itu, entah itu berupa kalimat, perbuatan, atau ucapan orang lain ke tokoh Andri. dan tiba-tiba saja tokoh aku berhadapan dengan kenyataan bahwa pacarnya punya kecenderungan lain. Dan apa yang dilakukan ‘aku’ setelah dia tahu? Tak diceritakan. Marahkah dia? Mungkin. Minta putus? Bisa jadi. Atau mungkin ada penjelasan lain? Entahlah. Ceritanya nanggung, Dra. Di tengah kisah kurang ada penjelasan, di akhir kisah ga ada kejelasan.🙂 *komentar dari temen yang ga bisa bikin cerpen tapi bisanya komentar aja. Maafkan yaa.. hehe

    KIP! : Hehe, makasih udah kasih komen, Riga..🙂 Endingnya memang dibuat kaya gitu.. Pertama, karena takut kepanjangan.. Kedua, karena memang dengan yang seperti itu pun sudah bisa menutup cerita. Kenapa? Karena tokoh “aku” ini kan dia pendiam. hehee. Nah, kalo di tengah-tengah gak ada kejelasan, berarti itu kealpaanku sebagai penulis. hehehe. Makasih ya masukannya..🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: