RSS

[fiksi] Persis Seperti Yang Ibuku Pernah Bilang

24 Apr

Aku pernah berbicara suatu ketika dengan ibuku tentang pernikahan. Menurutnya, menjadi seorang pengantin adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan. “Kamu akan terlihat saaangat cantik,” ujarnya saat itu. Dan memang benar adanya. Hari ini aku terlihat menawan dengan busana yang kukenakan.

Aku kembali mematut diri di depan cermin, memastikan penampilanku kali ini benar-benar sempurna. Seperti putri raja, mungkin. Atau, bisa jadi seanggun ratu kecantikan di atas panggung. Ah, entahlah. Yang jelas aku ingin terlihat cantik hari ini, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Atau setidaknya, aku hanya ingin merasa cantik.

Aku melatih senyumku di depan cermin. Senyum simpul. Senyum manis. Senyum lebar. Semua sudah kucoba. Semoga fotografer yang bertugas akan menangkap senyum-senyum terindahku di pelaminan nanti.

Gaun yang kukenakan saat ini sebenarnya tak terlalu mewah, tapi entah kenapa aku merasa menjadi seorang wanita yang terlihat anggun ketika memakainya. Kebaya putih selutut dipadu dengan kain batik tulis berwarna coklat muda. Sangat simpel, tapi aku merasa istimewa.

Kudekapkan tanganku di dada, kurasakan detil bahan kebaya yang kupakai. Aku tersenyum. Sungguh cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Kuamati gaun itu dari kiri ke kanan, depan ke belakang. Kuputar perlahan badanku sambil mengamati bayanganku pada cermin besar di depanku. Punggungku telanjang, nyaris terlihat sempurna dikelilingi renda kebaya ini. Aku kembali tersenyum, membayangkan pujian tamu undangan yang hadir di pernikahanku nanti.

Pandanganku kembali tertuju pada cermin. Kudekatkan wajahku ke cermin itu, melihat-lihat kembali make up yang kupakai. “Cantik,” gumamku pendek. Kuraba pipiku. Terlihat sangat mulus. Bibirku yang merah terlihat mencolok tanpa kesan norak. Aku suka.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Ya, ini saatnya. Kembali kurapikan gaun itu, sambil terus tersenyum. Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Aku menoleh ke pintu, ternyata ia ada di sana, ibuku. Aku tersenyum kepadanya. Perlahan ia berjalan ke arah ranjang, kemudian duduk di atasnya.

“Seandainya ibu tahu yang sebenarnya, Nak,” ujarnya lirih.

Aku menggeleng, sambil berjalan menghampirinya.

“Seandainya ibu tahu siapa calon suamimu sesungguhnya”. Kali ini ia terisak.

Ingin rasanya aku memeluknya untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Aku berusaha mengusap air mata yang perlahan mulai menetes, tapi nihil. Air mata ibu semu bagiku, begitu pun hadirnya. Sekuat tenaga aku berusaha merengkuhnya, tetap nihil. Yang kulihat hanya sosok ibuku yang semakin terisak sambil memeluk kebayaku erat-erat.

“Ibu, lihat aku! Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang!” teriakku. Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang terbendung. “Ibu, lihat aku! Lihat aku!”

Aku berusaha mengguncang tubuh ibuku, tapi ia bergeming. Isaknya semakin menjadi.

Tiba-tiba kakakku masuk, menghambur memeluk ibuku. Ia tampak berusaha menahan tangis.

“Istighar, Bu! Istighfar!” kata kakakku sambil mempererat pelukannya ke ibuku yang masih saja terisak. “Istighfar, Bu. Ikhlaskan Mala. Relakan kepergiannya”.

Aku terhenyak. Tatapan mataku kosong.

“Relakan Mala, Bu. Dia sudah tenang di sisi-Nya,” kata kakakku lirih sambil terus memeluk ibu. “Ibu tabah ya”.

Aku melangkah mundur perlahan. Peristiwa yang kualami semalam ternyata bukan mimpi buruk. Perkosaan brutal yang dilakukan calon suamiku semalam bukanlah mimpi buruk. Semua adalah nyata, termasuk rasa sakit yang kurasakan. Tak tega melihat tangis ibu dan kakakku yang semakin hebat, aku berjalan menjauh dari mereka.

“Ibu, Tuhan telah menjawab doaku. Kini aku merasa sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang. Terima kasih untuk mimpi indah tentang pernikahan yang selalu ibu ceritakan padaku. Semoga Tuhan segera menggantikan kebahagian ibu yang terenggut hari ini.”

 

7 responses to “[fiksi] Persis Seperti Yang Ibuku Pernah Bilang

  1. irene wibowo

    April 24, 2012 at 9:36 pm

    apakah si cewek sebenarnya meninggal?🙂

    KIP! : Iya.. Itu tadi yg bercerita adalah “arwah”nya.. Hehe.

     
  2. andiana

    April 24, 2012 at 9:36 pm

    keyen ah… syukaaaa…. khas kamu yang dulu ituh…. kata siapa kaku? nih bagus lho ^_^ sepenggal cerita ini bisa jadi novel kalo kamu mau!

    KIP! : Khas aku yg gloomy kah? Hahahaaa. Btw, makasih, Mbak..🙂 Eh, jd spenggalan novel? Jadinya tentang apa yak?? Hehe.

     
  3. adelliarosa

    April 24, 2012 at 10:12 pm

    Uwoooo indra! Keren! Awalnya ngira dia cowok ahahak. Tapi kalimat “cantik. Seperti yang ibuku pernah bilang” terus diulang? Apa yang mau ditekankan?

    KIP! : Hiyaaaa, ada Adel.. *ngumpet* Makasih ya.. Hehe.. Eh, kok bisa malah kepikiran kalo dia ini cowok? Gara2 keseringan bikin twisted ending yak?😀 Oya, kalimat itu diulang2 karena dia pengen ngerasain jadi wanita cantik, wanita istimewa, seperti yg ibunya bilang dulu.. Saking pengennya jadi pengantin, dia “seakan-akan” gak nyadar kalo udah mati.. Masuk gak ya penjelasanku? Hehe..

     
  4. shufi

    April 24, 2012 at 10:42 pm

    Berbakat jadi penulis novel mas😀

    KIP! : Wuaaa, ada #AnakAhensi mampir ke blog-ku.. *buruan beres2*😄 Btw, makasih ya.. Hehe. Sedang mencoba meraih mimpi itu.. ;D

     
  5. Vira

    April 24, 2012 at 10:56 pm

    Hai, Indra. Nice! Tp twistednya terlalu awal. Akan lebih mencengangkan bila twistednya terletak di akhir paragraf. Ayo tulis lagi!😉

    KIP! : Hai, Vira..🙂 Thanks for the comment.. Akhirnya ada juga yang berpikiran sama denganku. Aku juga berpikir begitu.. Bukan twist-nya yang terlalu awal sih, tapi aku nutupnya kelamaan..😄

     
  6. riga

    April 24, 2012 at 10:56 pm

    i like it! *udah, mau bilang itu aja. he he

    KIP! : Makasih, Rigaaaa..🙂

     
  7. Okit Jr

    Mei 2, 2012 at 5:08 pm

    hmmm…, *manggut manggut*
    coba gw ya yang dicabuli di malam itu… #eh..? #gimana..?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: