RSS

[review] 3Sum

06 Feb

Baiklah, setelah seeeeeekian lama ndak bikin movie review, akhirnya aku “memberanikan” diri buat bikin review film 3Sum ini.. ;D

Jadi, langsung aja deh ke review-nya.. Hehe.

Kayaknya film omnibus tu masih jadi “trend” di kalangan filmmaker. Setelah kemaren ada Sinema Purnama, Dilema, dll, di awal tahun 2013 ini ada film 3Sum. Film 3Sum ini lebih kepada 3  film yang saling tidak berhubungan tentang cinta, kehidupan, dan kematian *merujuk pada sinopsis di 21 cineplex sih ;D* Ketiga film itu adalah Insomnights, Rawa Kucing, dan Impromptu.

Insomnights bercerita tentang seorang Morty (Winky Wiryawan) yang harus berhadapan dengan gangguan insomnia yang dideritanya. Segmen ini merupakan hasil kolaborasi antara Witra Asliga dan Andri Cung. Secara keseluruhan, film ini digarap dengan apik. Suspense-nya kerasa, bikin penonton penasaran plus terhenyak dengan twist yang diberikan di ending. Buat aku, segmen Insomnights ini pada awalnya bikin excited, tapi pas udah mulai muncul “makhluk2 itu” *yang sebenernya cuman ada di fantasi si Morty*, jadi bikin “males”. Bukan berarti segmen ini jelek dan mbosenin lho ya, tapi lebih ke akunya yang lagi males nonton film ber-“makhluk” gitu. Hehe.

Ending dari cerita ini sebenernya udah mulai ketebak di tengah segmen, tapi aku tetep nunggu sebenernya endingnya bakal gimana. Dan ternyata bener sih, endingnya sesuai dengan prediksiku. Hehe. Gimana hubungannya sama tunangannya, gimana dia musti menghadapi insomnia-nya yang terus berkelanjutan, dan apa yang ada di balik kejadian-kejadian aneh waktu dia mengalami insomnia, semua dijawab tuntas di endingnya. Mungkin bagi sebagian orang segmen ini agak terasa “bikin males”. Ada beberapa orang yang bilang alur maju-mundur di segmen Insomnights ini mbingungin dan musti mikir. Hehehe.

Next, segmen Rawa Kucing (Andri Cung) bercerita tentang kehidupan di Rawa Kucing pada tahun 1980an. Di segmen ini pemain-pemainnya berakting dengan apik menurutku *walau ada beberapa yang agak “kelebihan” dikit*. Ayin (Aline Adita) yang hobi foya-foya dan hura-hura musti menghadapi beberapa masalah pelik, yang ternyata pada akhirnya akan membawanya kepada cinta sejatinya, Willy (Natalius Chendana). Segmen ini selain menyuguhkan kisah percintaan, konflik keluarga, lengkap dengan unsur komedi di dalamnya. Penggambaran tahun 1980an pada segmen ini juga sangat kental, dilihat dari coloringnya, termasuk outfit dari pemain-pemainnya.

Acungan jempol patut diberikan buat Natalius Chendana. Meskipun dia berakting sebagai orang bisu yang terpaksa menjadi gigolo karena tuntutan ekonomi keluarga, karakternya cukup kuat di segmen ini. Begitu pula dengan Aline Adita. Atau bahkan semua pemain di segmen ini. Mereka bermain begitu pas dengan porsi masing-masing. Kesan drama dari segmen ini juga begitu terasa menurutku. Dan ada satu scene yang cukup mengena buatku, ketika Willy ngasih sandal jepitnya ke Ayin pas di pasar. Sederhana, tapi bikin, “Ooh”. Hehe.

Segmen terakhir, Impromptu (William Chandra). Segmen ini bercerita tentang dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argobie) dan Lina (Hannah Al-Rashid). Genre action yang diusung segmen ini cukup menarik. Satu, penggambaran sosok Amin dan Lina sebagai pembunuh bayaran yang baru terkuak di ending cerita. Dua, isu perampokan *dan pemerkosaan* oleh sekelompok orang yang mengaku polisi dengan modus razia narkoba diangkat secara gamblang.

Buatku, penggambaran cerita di segmen Impromptu ini cukup mengesankan. Satu hal yang agak disayangkan, entah kenapa bagian perkelahian di segmen ini kurang menggigit. Berasa ada yang kurang gitu. Mungkin salah satunya dikarenakan pergerakan kamera yang kurang dinamis. Jadi pas adegan perkelahian tu kurang mantep. Hehe. But overall, segmen ini berhasil menyuguhkan kisah pembunuh bayaran secara elegan dan berkelas. Pemilhan setting tempat juga cukup menyokong kekuatan cerita.

Secara keseluruhan, film 3Sum ini bisa dibilang menjadi salah satu film Indonesia yang layak ditonton. Tiga genre, tiga cerita berbeda, dalam satu film. Setidaknya, 3Sum menyiratkan semakin berkembangnya perfilman Indonesia yang bukan hanya dipegang orang-orang itu aja.

Oya, waktu aku nonton film 3Sum ini, tumben-tumbenan aku nggak terlalu perduli dengan dialog, quote, scoring, ataupun sinematografinya. *padahal biasanya sok-sokan mengkritisi, juga memuji, detail film-film yang kutonton. hehe* Udah terlalu fokus sama cerita yang disuguhkan..😀 Dan tentunya aku ndak ketiduran dong pas nonton film ini.. Hihi.

Well, film ini setidaknya bisa menjadi barometer semakin majunya perfilman Indonesia. Banyak filmmaker2 baru yang punya idealisme tinggi untuk “memperbaiki” citra perfilman Indonesia di negri sendiri. Buat kamu yang pada penasaran film 3Sum itu seperti apa, bisa liat trailer di bawah ini:

PS:
Abis nonton film ini, ada aja komen dari temen via twitter, “3Sum tu film apaan sih? Esek-esek yah?”. Otaknya perlu dicuci trus dikasih pemutih rasanya..😄

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: