RSS

Arsip Kategori: bermain dengan kata-kata

[fiksi200kata] Siapa Dia? -2

Entah mengapa malam ini aku merasa sangat bahagia. Pertemuan dengan seseorang tadi setidaknya bisa mengubah hariku yang sebelumnya terasa membosankan menjadi lebih menyenangkan. Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kami memutuskan untuk segera pulang. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahku, aku melenggang penuh suka cita dari restoran itu ke halte bis di dekatnya. Pertemuan yang singkat tadi benar-benar terasa mengesankan buatku. Dan semoga memang dia juga merasakan hal yang sama.

Sembari berjalan, kupasang headset di telingaku. Kuputar lagu-lagu cinta dari handphone-ku, sambil sesekali aku bergumam mengikuti si vokalis bernyanyi. Sampai suatu ketika aku merasa ada sesuatu yang aneh di belakangku. Aku tak menyadari bahwa mungkin sudah sejak tadi aku diikuti seseorang. Aku tak melihatnya, hanya saja ada suara langkah kaki yang terus saja mengikutiku.

Kupercepat langkahku untuk bisa segera sampai ke halte. Ada perasaan was-was yang tiba-tiba menyergapku. Aku harus bergegas!

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke halte. Setidaknya, di sini aku lebih merasa aman.

Kulihat, orang itu melintas di depanku. Ia tampak serius. Sesaat, mata kami beradu. Aku salah tingkah, segera kubuang pandanganku.

Dari kejauhan aku mengamati gerak-geriknya. Ketika akhirnya bisnya datang, aku sengaja menengok ke arahnya. Pandangan kami kembali bertemu, kali ini ia tersenyum.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2012 in bermain dengan kata-kata

 

[fiksi123kata] Siapa Dia?

By Anginbiru @B7RU

Mata kami sempat bersitatap sesaat. Aku tak tahu makna tatapannya, tapi kurasa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Kulempar seulas senyum yang sempat ia balas sebelum akhirnya ia alihkan pandangan kembali ke orang di sampingnya.

Dari kejauhan aku memperhatikannya. Senyumnya manis. Kulihat ia tampak asyik berbicara dengan temannya. Mungkin pacarnya. Atau adiknya? Aku tak perduli sebenarnya.

Aku memperhatikannya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Ia tersenyum. Manis sekali. Refleks, aku membuang muka, seolah-olah mata kami tak sengaja bertemu tadi. Sedetik, dua detik, aku tak tahan untuk tidak menoleh ke arahnya lagi. Ternyata ia masih memperhatikanku. Aku tersenyum sambil mengangguk. Mata kami bertatapan cukup lama, sampai akhirnya, “Kiri, Bang!”. Ia turun begitu saja dari bis sambil menganggukkan kepala ke arahku, tetap tersenyum. Siapa dia?

 
 

Tag: , , , , , ,

[fiksi] Persis Seperti Yang Ibuku Pernah Bilang

Aku pernah berbicara suatu ketika dengan ibuku tentang pernikahan. Menurutnya, menjadi seorang pengantin adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan. “Kamu akan terlihat saaangat cantik,” ujarnya saat itu. Dan memang benar adanya. Hari ini aku terlihat menawan dengan busana yang kukenakan.

Aku kembali mematut diri di depan cermin, memastikan penampilanku kali ini benar-benar sempurna. Seperti putri raja, mungkin. Atau, bisa jadi seanggun ratu kecantikan di atas panggung. Ah, entahlah. Yang jelas aku ingin terlihat cantik hari ini, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Atau setidaknya, aku hanya ingin merasa cantik.

Aku melatih senyumku di depan cermin. Senyum simpul. Senyum manis. Senyum lebar. Semua sudah kucoba. Semoga fotografer yang bertugas akan menangkap senyum-senyum terindahku di pelaminan nanti.

Gaun yang kukenakan saat ini sebenarnya tak terlalu mewah, tapi entah kenapa aku merasa menjadi seorang wanita yang terlihat anggun ketika memakainya. Kebaya putih selutut dipadu dengan kain batik tulis berwarna coklat muda. Sangat simpel, tapi aku merasa istimewa.

Kudekapkan tanganku di dada, kurasakan detil bahan kebaya yang kupakai. Aku tersenyum. Sungguh cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Kuamati gaun itu dari kiri ke kanan, depan ke belakang. Kuputar perlahan badanku sambil mengamati bayanganku pada cermin besar di depanku. Punggungku telanjang, nyaris terlihat sempurna dikelilingi renda kebaya ini. Aku kembali tersenyum, membayangkan pujian tamu undangan yang hadir di pernikahanku nanti.

Pandanganku kembali tertuju pada cermin. Kudekatkan wajahku ke cermin itu, melihat-lihat kembali make up yang kupakai. “Cantik,” gumamku pendek. Kuraba pipiku. Terlihat sangat mulus. Bibirku yang merah terlihat mencolok tanpa kesan norak. Aku suka.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Ya, ini saatnya. Kembali kurapikan gaun itu, sambil terus tersenyum. Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Aku menoleh ke pintu, ternyata ia ada di sana, ibuku. Aku tersenyum kepadanya. Perlahan ia berjalan ke arah ranjang, kemudian duduk di atasnya.

“Seandainya ibu tahu yang sebenarnya, Nak,” ujarnya lirih.

Aku menggeleng, sambil berjalan menghampirinya.

“Seandainya ibu tahu siapa calon suamimu sesungguhnya”. Kali ini ia terisak.

Ingin rasanya aku memeluknya untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Aku berusaha mengusap air mata yang perlahan mulai menetes, tapi nihil. Air mata ibu semu bagiku, begitu pun hadirnya. Sekuat tenaga aku berusaha merengkuhnya, tetap nihil. Yang kulihat hanya sosok ibuku yang semakin terisak sambil memeluk kebayaku erat-erat.

“Ibu, lihat aku! Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang!” teriakku. Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang terbendung. “Ibu, lihat aku! Lihat aku!”

Aku berusaha mengguncang tubuh ibuku, tapi ia bergeming. Isaknya semakin menjadi.

Tiba-tiba kakakku masuk, menghambur memeluk ibuku. Ia tampak berusaha menahan tangis.

“Istighar, Bu! Istighfar!” kata kakakku sambil mempererat pelukannya ke ibuku yang masih saja terisak. “Istighfar, Bu. Ikhlaskan Mala. Relakan kepergiannya”.

Aku terhenyak. Tatapan mataku kosong.

“Relakan Mala, Bu. Dia sudah tenang di sisi-Nya,” kata kakakku lirih sambil terus memeluk ibu. “Ibu tabah ya”.

Aku melangkah mundur perlahan. Peristiwa yang kualami semalam ternyata bukan mimpi buruk. Perkosaan brutal yang dilakukan calon suamiku semalam bukanlah mimpi buruk. Semua adalah nyata, termasuk rasa sakit yang kurasakan. Tak tega melihat tangis ibu dan kakakku yang semakin hebat, aku berjalan menjauh dari mereka.

“Ibu, Tuhan telah menjawab doaku. Kini aku merasa sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang. Terima kasih untuk mimpi indah tentang pernikahan yang selalu ibu ceritakan padaku. Semoga Tuhan segera menggantikan kebahagian ibu yang terenggut hari ini.”

 

[fiksi] CUT!

“Elo. Gue. End!!”

“Shin, tunggu dulu. Dengerin penjelasan gue!”

“Gak perlu! Gue gak sudi!”

“Tunggu.”

“Enggak!”

Wanita itu berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.

CUT! Good job, Dev! Good job!

“Ah, Abang, bisa aja. Devi kan cuman berusaha main maksimal. Apa sih yang enggak buat abang?”

“Hahaha, Devi, Devi. Udah jadi bini orang tetep aja gombal.”

“Ah, gombal mah udah jadi trademark Devi, Bang. Kalo gak gombal, bukan Devi namanya!”

“Sini deh, Dev!”

“Napa, Bang?”

“Bajunya kotor tuh,” kata si Abang sambil nunjuk ke dada Devi.

Devi menunduk. Tiba-tiba tangan si Abang nyolek dagu Devi.

“Kena deh!”

“Ah, abang ini. Siapa yang genit kalo gitu?”

“Katanya mau ngelakuin apa aja buat abang?”

“Dih!” katanya sambil berlalu.

**

Devi sedang bersiap ganti baju ketika tiba-tiba HP-nya berdering. Ia segera menjawab panggilan itu.

“Ya, Devi speaking.”

Hening.

Air muka Devi tiba-tiba berubah.

Bruk. Tiba-tiba Devi jatuh tersungkur.

Sendiri.

Suasana ruang ganti masih hening.

CUT!” kata Tuhan.

 

Tag: , , , , , , , ,

[fiksi] Pernikahan Kami

Malam ini adalah malam kelima kami resmi menikah.  Kami memang berbeda dari kebanyakan pasangan. Itulah kenapa, kami tak bisa menikah di institusi pernikahan resmi di kotaku. Untung aku punya seorang kenalan yang bisa menikahkan aku dengan pasanganku. Dan, di sinilah kami sekarang. Di rumah sewaan kecil yang terletak di pinggiran kota. Meskipun kecil, kami sama sekali tak merasa risih atau pun mengeluh. Sebisa mungkin kami menjalani rumah tangga kami dengan perasaan bahagia. Bukankah itu hakikat dari sebuah pernikahan? Membentuk sebuah rumah tangga yang dengan senang hati kami jalani bersama.

Ketika aku memutuskan untuk menikahinya, kedua orang tuaku sudah tiada. Ya, aku memang hidup sendiri di kota ini. Cukup lama, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan pasanganku. Kami tak butuh waktu lama untuk pada akhirnya memutuskan menikah. Mungkin seperti kebanyakan orang yang tergolong pemalu, ketika aku meminang pasanganku, dia hanya terdiam, tersipu. Justru itu yang aku suka darinya. Kepolosannya.

Beberapa orang terdekat mengatakan aku gila karena berniat menikahi pasanganku ini. Mereka bilang pernikahan yang kurencanakan ketika itu sangat tidak masuk akal, terutama di negaraku. Ya, mereka memang orang-orang konservatif, dan kuhargai itu sebagai sebuah bentuk kebebasan berpendapat. Tapi ini hidupku. Hanya aku yang bisa memutuskan apa yang terbaik bagi hidupku sendiri.

Malam ini adalah malam ke lima kami resmi menikah. Kami memang berbeda dari kebanyakan pasangan. Aku punya penis, dia tak memiliki vagina. Tapi hal itu tak menjadi masalah. Urusan ranjang bukan menjadi hal utama dalam pernikahan kami. Kami menikah atas dasar cinta. Kami menikah bukan karena paksaan. Dan kami menikah karena kami merasa memiliki hak yang sama dengan kebanyakan pasangan.

Perkenalkan, namanya Teddy. Dia adalah sebuah boneka beruang.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , ,

[fiksi] Cerita Absurd

“Kenapa di-delete? Males! Nah, gitu kan. Aku kan juga nggak tau harus gimana”.

“Nyebelin banget sih, mbak!”

“Nah itu dia, kamu aja bisa bilang gitu, apalagi dia!”

“Trus gimana?”

“Ya gitu, yang satu statusnya delete, yang satu ignore!”

“Kok gitu?”

“Entah!”

Kemudian wanita itu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.

“Emang kenapa, Mbak?” tanyaku.

“Biasa, masalah wanita.”

“Oh.”

Dan pikiranku kembali melayang ke kejadian yang pernah kualami sebulan yang lalu. Ketika itu…

“Kamu kenapa dari tadi diem aja?”

“Eng, nggak papa sih, cuman lagi gak gitu mood aja.”

“Lah, kenapa gitu? Bukannya kemarin kalian baru jadian?”

“Nah, itu dia. Aku juga nggak ngerti kok tiba-tiba bisa jadian sama dia. Berasa aneh aja gitu.”

“Aneh? Maksudnya?”

“Ya, aneh. Gimana ya? Ya gitu deh, aku sendiri juga nggak ngerti.”

“Aneh.”

“Hah, aneh kenapa?”

“Ya, kamunya aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Ya aneh aja.”

“Aneh gimana sih?”

“Ya gitu deh.”

Aku tersenyum. Absurd. Ya, memang absurd. Inilah hidupku.

 

Tag: , , , , , ,

[fiksi] Anak Basket Itu..

By Anginbiru @B7RU

Sungguh, hingga kini terkadang aku masih tidak percaya telah menyandang status sebagai pacar seorang pemain basket yang cukup populer di sekolahku. Well, siapa sih aku? Aku hanya seorang anggota ekskul Kelompok Ilmiah Remaja—yang tidak terlalu diminati banyak siswa. Dan selama hampir dua tahun aku mengikuti ekskul ini, hanya orang-orang itu saja yang aktif di sana. Tak jarang kami juga dijuluki sebagai orang-orang nerd yang hanya memikirkan sekolah dan penelitian. Tak lebih! Tapi, buat apa kuceritakan panjang lebar tentang ekskul yang kuikuti, toh mungkin kamu pun juga tidak terlalu tertarik mendengarnya.

Oya, aku sudah berpacaran dengan anak basket ini sejak dua bulan yang lalu. Tepatnya, ia mengajakku kenalan setelah kami sama-sama menyerahkan piala kejuaraan kepada Kepala Sekolah. Dia menjadi wakil dari tim basketnya, sedangkan aku menyerahkan piala Juara 1 Lomba Penelitian Remaja yang kuikuti. Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat, dan pada akhirnya dia menyatakan cintanya padaku di kantin sekolah. Jujur saja, saat itu aku sangat malu. Bagaimana tidak? Aku yang biasanya dikenal sebagai anak kuper tiba-tiba ditembak seorang anak basket.

Sejak saat itu kehidupanku sedikit berubah. Aku mulai dikenalkan ke orang-orang yang tergabung di tim basketnya. Dan seperti biasa, aku lebih banyak diam ketika aku berada di sana. Sebenarnya aku tidak terlalu nyaman, tapi gimana lagi, mungkin ini yang dinamakan “Tuntutan peran”.

Buatku, Andri—nama pacarku—adalah orang yang cukup romantis. Hampir setiap hari ia menjemputku untuk berangkat ke sekolah bersama. Tak jarang, ia membawakan aku cokelat atau bunga ketika menjemput. Aku hanya bisa tersenyum dan berucap “Makasih”. Ah, mungkin ini yang dinamakan “Mimpi yang menjadi nyata”. Sama sekali tak pernah terpikirkan untuk menjadi pacar seorang pemain basket. Satu sisi, aku “bukan siapa-siapa” di sekolah. Di sisi lain, mereka adalah orang-orang populer yang tentunya punya banyak fans.  Tapi ya sudahlah, toh akhirnya aku jadi pacar salah satu dari mereka.

Malam ini rencananya ia akan mengajakku makan malam—untuk merayakan dua bulan ia mengenalku katanya. Sebenarnya bukan suatu hal yang penting, tapi entah kenapa aku hanya bisa tersipu mendengarnya. Sudah sejak sore aku mencoba memilih-milih baju mana yang akan kugunakan.

Baru saja aku akan beranjak mandi, aku mendapatkan sms darinya. Ia bilang makan malam kami terpaksa diundur, karena ada latihan basket tambahan di sekolah. Sepertinya memang mereka benar-benar serius mempersiapkan diri untuk lomba antar sekolah bulan depan. Ia bilang aku akan dijemput di rumah sekitar jam delapan malam, tapi kupikir tak ada salahnya aku datang ke sekolah, melihatnya berlatih. Yah, paling tidak, sekedar menyemangatinya dari kejauhan.

**

Dari kejauhan kulihat sekelompok anak basket sedang berlatih, namun sepertinya tak kulihat ada Andri di sana. “Jadi cadangan apa ya?” pikirku.

Aku berniat menghampiri mereka di lapangan, namun sebelumnya aku pergi ke toilet untuk sekedar merapikan dandanan. Baru saja aku masuk ke toilet cewek, tiba-tiba aku mendengar suara asing dari dalam. Ada suara erangan tertahan di sana, seperti orang kesakitan. Tiba-tiba kubatalkan saja niatku untuk merapikan dandanan. Aku segera keluar dan bergegas ke lapangan basket. Entah apapun itu yang terjadi di dalam toilet, kupikir sebaiknya aku berpura-pura untuk tidak mengetahuinya.

Sesampainya di dekat lapangan basket, aku lebih memilih untuk duduk di tangga parkiran daripada masuk ke lapangan.  Aku tak berani melihat dari dekat, karena aku masih belum terlalu nyaman berada di sekeliling mereka. Dari tempatku duduk ini aku bisa memandang ke banyak tempat. Lapangan basket, parkiran, pos satpam, toilet, dan ruang laboratorium. Pikiranku tiba-tiba membawaku kembali ke kejadian di toilet tadi. Aku bimbang. “Haruskah aku kembali ke sana?” pikirku. Seperti ada orang yang sedang disakiti di sana.  “Haruskah aku mencari bantuan untuk mengeceknya?”.

Memang, hampir tidak akan ada yang memakai toilet cewek malam-malam begini. Hanya anak basket cowok yang latihan hingga larut malam. “Jangan-jangan ada yang disakiti di dalam toilet tadi,” pikirku. Tapi ternyata nyaliku tak cukup besar untuk menjadi “pahlawan”. Akhirnya aku tetap duduk di tempatku berada saat ini dengan perasan gusar.

Setelah beberapa waktu aku terdiam, kuberanikan diri untuk kembali ke toilet tadi. Dadaku berdebar sangat kencang. Aku mengendap-endap, mencoba untuk tidak mengeluarkan sedikit pun suara. Sesampainya di sana, aku merasa heran. Erangan kesakitan tadi berubah jadi obrolan yang diselingi tawa kecil. Kuberanikan diri untuk semakin mendekat, tetap tanpa mengeluarkan suara. Belum juga sampai depan pintu, aku segera sembunyi karena sepertinya orang yang ada di dalam toilet itu akan keluar. Aku bersembunyi di balik papan pengumuman yang terpasang di dekat toilet.

Aku tetap mencoba untuk mengamati apa yang terjadi di sana. Dari celah papan pengumuman itu kulihat ada dua orang lelaki keluar dari toilet cewek. Aku berusaha keras menguping apa yang mereka bicarakan. Di sana, kulihat Andri membisikkan sesuatu sambil meraba celana bagian depan pelatih basketnya, yang lantas dibalas dengan ciuman singkat di bibir Andri. Aku lemas seketika.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , , , , , , , , , , ,