RSS

Arsip Kategori: entertainment

[review] The Secret Life of Walter Mitty

Hari Kamis kemarin, sambil nunggu jalanan Jakarta sepi lagi, aku akhirnya mutusin buat nonton. Awalnya bingung, mau nonton Pukulan Maut apa Walter Mitty ini. Akhirnya, karena anginnya cukup gede, dan takut ujan, aku milih nonton Walter Mitty, yang cuman jalan kaki ke bioskopnya.. 😀

Jadi, film ini tu bercerita tentang seorang pegawai di sebuah majalah bernama “LIFE” yang terancam dipecat gara-gara perusahaan akan mengubah format majalah LIFE ini menjadi digital. Untuk lebih jelasnya, baca sinopsis dari 21cineplex.com di bawah ini ya: *bilang aja males ngetik. ahhahaa*

Sebagai seorang yang bekerja di sebuah majalah ternama Life, Walter Mitty (Ben Stiller) malah terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Walter tidak pernah melakukan petualangan sedikitpun dalam kehidupannya. Yang bisa dilakukannya hanyalah berimajinasi. 

Berawal dari sebuah foto lama milik Sean O’Connell (Sean Penn), Walter memutuskan untuk merubah hidupnya dengan melakukan petualangan ekstrim. Ia berusaha menemukan Sean O’Connell dan melakukan perjalanan yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya. Berhasilkah Walter menemukannya? lalu apakah petualangan itu nyata atau Walter kembali berimajinasi?

Film Walter Mitty ini adalah salah satu film yang bisa bikin aku melek dari awal sampai selesai. Secara, biasanya kan suka tiba-tiba ketiduran, atau ngantuk gara-gara filmnya agak-agak kurang menarik. Hehe. 

Salah satu yang aku inget dan menurutku sangat menarik dari film ini adalah motto dari Majalah LIFE itu sendiri:

To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.

Motto itu yang akhirnya jadi “panduan” buat si Walter Mitty untuk memperjuangkan pekerjaannya.

Menurutku, film ini ringan, menarik, dan inspiring. Dan yang pasti, ya itu tadi, ndak bikin ngantuk. Hehe. Selain itu, scene-scene yang ditampilkan di film ini juga bagus. Hampir ndak ada goofs yang ketangkep mataku. Bahkan, pas adegan di ruang “negatif foto” aja yang kupikir bakalan berpotensi ada goofs gara-gara nampilin jam dinding, ternyata endak. 😀 Well, goofs sih tetep ada, cuman ndak fatal-fatal amat lah.. Hehe. 

Beberapa adegan memang bikin penonton ketawa, terutama pas Walter Mitty-nya ngalamun. Emang dasar ya tu orang, ngalamunnya suka dahsyat. Hahaha. 

Sempet sih ada adegan yang bikin “Yaaahhh.. :(“, tapi ternyata endingnya kece! Bahkan sempet bikin aku ber-“Oohhh” ria.. 😀 So touching.. :’) 

Buat yang belum nonton, tonton deh sebelum ilang dari peredaran. Soalnya filmnya worthed buat ditonton. Durasinya pun cukup lama, 110an menit. 

Daftar pemainnya pun cukup kece. Selain Ben Stiller (yang jadi pemeran utama sekaligus sutradara), ada Sean Penn, Adam Scott, Paul Fitzgerald, sama Kristen Wiig juga. *Ini semua cuman googling. Padahal aslinya juga ndak gitu familiar sama film-film mereka.. XD*

Pokoknya, selagi filmnya masih diputer di bioskop, segerain nonton deh.. Dijamin ndak ada adegan aneh-aneh.. Hehe. 

Overall, aku kasih nilai 8/10 buat film ini. Ringan, lucu, ndak bosenin, dan tentunya inspiratif. 

Good job, Ben Stiller! 🙂

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 10, 2014 in entertainment

 

Tag: , , , , , , ,

[review] 3Sum

Baiklah, setelah seeeeeekian lama ndak bikin movie review, akhirnya aku “memberanikan” diri buat bikin review film 3Sum ini.. ;D

Jadi, langsung aja deh ke review-nya.. Hehe.

Kayaknya film omnibus tu masih jadi “trend” di kalangan filmmaker. Setelah kemaren ada Sinema Purnama, Dilema, dll, di awal tahun 2013 ini ada film 3Sum. Film 3Sum ini lebih kepada 3  film yang saling tidak berhubungan tentang cinta, kehidupan, dan kematian *merujuk pada sinopsis di 21 cineplex sih ;D* Ketiga film itu adalah Insomnights, Rawa Kucing, dan Impromptu.

Insomnights bercerita tentang seorang Morty (Winky Wiryawan) yang harus berhadapan dengan gangguan insomnia yang dideritanya. Segmen ini merupakan hasil kolaborasi antara Witra Asliga dan Andri Cung. Secara keseluruhan, film ini digarap dengan apik. Suspense-nya kerasa, bikin penonton penasaran plus terhenyak dengan twist yang diberikan di ending. Buat aku, segmen Insomnights ini pada awalnya bikin excited, tapi pas udah mulai muncul “makhluk2 itu” *yang sebenernya cuman ada di fantasi si Morty*, jadi bikin “males”. Bukan berarti segmen ini jelek dan mbosenin lho ya, tapi lebih ke akunya yang lagi males nonton film ber-“makhluk” gitu. Hehe.

Ending dari cerita ini sebenernya udah mulai ketebak di tengah segmen, tapi aku tetep nunggu sebenernya endingnya bakal gimana. Dan ternyata bener sih, endingnya sesuai dengan prediksiku. Hehe. Gimana hubungannya sama tunangannya, gimana dia musti menghadapi insomnia-nya yang terus berkelanjutan, dan apa yang ada di balik kejadian-kejadian aneh waktu dia mengalami insomnia, semua dijawab tuntas di endingnya. Mungkin bagi sebagian orang segmen ini agak terasa “bikin males”. Ada beberapa orang yang bilang alur maju-mundur di segmen Insomnights ini mbingungin dan musti mikir. Hehehe.

Next, segmen Rawa Kucing (Andri Cung) bercerita tentang kehidupan di Rawa Kucing pada tahun 1980an. Di segmen ini pemain-pemainnya berakting dengan apik menurutku *walau ada beberapa yang agak “kelebihan” dikit*. Ayin (Aline Adita) yang hobi foya-foya dan hura-hura musti menghadapi beberapa masalah pelik, yang ternyata pada akhirnya akan membawanya kepada cinta sejatinya, Willy (Natalius Chendana). Segmen ini selain menyuguhkan kisah percintaan, konflik keluarga, lengkap dengan unsur komedi di dalamnya. Penggambaran tahun 1980an pada segmen ini juga sangat kental, dilihat dari coloringnya, termasuk outfit dari pemain-pemainnya.

Acungan jempol patut diberikan buat Natalius Chendana. Meskipun dia berakting sebagai orang bisu yang terpaksa menjadi gigolo karena tuntutan ekonomi keluarga, karakternya cukup kuat di segmen ini. Begitu pula dengan Aline Adita. Atau bahkan semua pemain di segmen ini. Mereka bermain begitu pas dengan porsi masing-masing. Kesan drama dari segmen ini juga begitu terasa menurutku. Dan ada satu scene yang cukup mengena buatku, ketika Willy ngasih sandal jepitnya ke Ayin pas di pasar. Sederhana, tapi bikin, “Ooh”. Hehe.

Segmen terakhir, Impromptu (William Chandra). Segmen ini bercerita tentang dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argobie) dan Lina (Hannah Al-Rashid). Genre action yang diusung segmen ini cukup menarik. Satu, penggambaran sosok Amin dan Lina sebagai pembunuh bayaran yang baru terkuak di ending cerita. Dua, isu perampokan *dan pemerkosaan* oleh sekelompok orang yang mengaku polisi dengan modus razia narkoba diangkat secara gamblang.

Buatku, penggambaran cerita di segmen Impromptu ini cukup mengesankan. Satu hal yang agak disayangkan, entah kenapa bagian perkelahian di segmen ini kurang menggigit. Berasa ada yang kurang gitu. Mungkin salah satunya dikarenakan pergerakan kamera yang kurang dinamis. Jadi pas adegan perkelahian tu kurang mantep. Hehe. But overall, segmen ini berhasil menyuguhkan kisah pembunuh bayaran secara elegan dan berkelas. Pemilhan setting tempat juga cukup menyokong kekuatan cerita.

Secara keseluruhan, film 3Sum ini bisa dibilang menjadi salah satu film Indonesia yang layak ditonton. Tiga genre, tiga cerita berbeda, dalam satu film. Setidaknya, 3Sum menyiratkan semakin berkembangnya perfilman Indonesia yang bukan hanya dipegang orang-orang itu aja.

Oya, waktu aku nonton film 3Sum ini, tumben-tumbenan aku nggak terlalu perduli dengan dialog, quote, scoring, ataupun sinematografinya. *padahal biasanya sok-sokan mengkritisi, juga memuji, detail film-film yang kutonton. hehe* Udah terlalu fokus sama cerita yang disuguhkan.. 😀 Dan tentunya aku ndak ketiduran dong pas nonton film ini.. Hihi.

Well, film ini setidaknya bisa menjadi barometer semakin majunya perfilman Indonesia. Banyak filmmaker2 baru yang punya idealisme tinggi untuk “memperbaiki” citra perfilman Indonesia di negri sendiri. Buat kamu yang pada penasaran film 3Sum itu seperti apa, bisa liat trailer di bawah ini:

PS:
Abis nonton film ini, ada aja komen dari temen via twitter, “3Sum tu film apaan sih? Esek-esek yah?”. Otaknya perlu dicuci trus dikasih pemutih rasanya.. XD

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

(Cerita di Balik Nonton Film) Dredd

Setelah sekian lama vakum dari kegiatan nonton-menonton di bioskop, akhirnya kemaren Sabtu *secara ndak sengaja* aku nonton film Dredd ini. Awalnya sih sama sekali ndak kepikiran buat nonton tu film, secara ndak gitu tertarik juga. Eh, tiba2 si @sidhancrut kontak kalo dia lagi di Kuningan City sama @dbrahmantyo juga, mau midnite nonton film ini. Waktu itu aku lagi nonton konser Mozart Night di Aula Simfonia, yang notabene baru kelar sekitar jam 10 an.

Akhirnya, mungkin juga karena sifat impulsif yang kadang-kadang berlebihan, aku langsung nyusul ke Kuningan City buat ikutan nonton midnite. Dan ternyata, sampe sana, udah ada @defickry juga, sama temen2 yang lain.. Lumayan lah, ikutan nonton sekali, dapet temennya banyak kali.. XD

Dan akhirnya jam 23.50 kami bersembilan mulai nonton Dredd. Aku sih berharapnya cuman satu, ndak ketiduran selama nonton film ini, secara sebelumnya udah sangaaaat ngantuk. Hehee.

Kalo di 21cineplex sih sinopsisnya begini:

Masa depan, dunia berubah menjadi gurun. Di pantai timur terletak satu kota mega metropolis dimana para penjahat menguasai jalan-jalan. Satu-satunya keadilan dikenal sebagai ’Judges.’ Mereka memegang seluruh kekuasaan hakim, juri dan algojo

Hakim Dredd (Karl Urban) adalah tim elit penegak hukum Amerika. Ia terkenal dan ditakuti di seluruh kota dimana ia harus menyingkirkan kejahatan setiap harinya. Kali ini, sebuah epidemi obat berbahaya, SLO-MO, menyebarluas. Untuk menghentikan kelompok-kelompok yang terlibat jual beli obat tersebut, Dredd bekerjasama dengan Cassandra Anderson (Olivia Thirlby), seorang cenayang handal. Mereka menemukan bahwa Ma-Ma (Lena Headey) – sang penyalur obat terlarang – mengendalikan klan kejam dan mereka harus menghentikannya. Perang antara Ma-Ma klan dan Judges pun tidak dapat dihindari

Awal nonton, emang seru.. Kejar-kejaran penjahat, dan segala macemnya. Di awal sih ada beberapa scene yang awalnya bikin agak bingung, kenapa ada adegan kejar-kejaran yang di slow motion-kan plus ada efek-efek sparkling gitu. Ternyata efek itu tu karena obat terlarang bernama Slo-Mo yang diedarkan sama klan Ma-Ma. Kata beberapa temen sih emang efeknya kayaknya bakalan bagus kalo ditonton versi 3D-nya. Hehe.

Nah, mulai pertengahan, ada kejanggalan yang kerasa banget. Bukan cuman aku aja yang ngerasain, tapi temen-temen yang lain juga. Komentarnya sama, “Kok jadi berasa The Raid banget ya?”. Dan emang, film ini tu alur cerita dan premis-nya mirip banget sama The Raid. Ceritanya tentang pemberantas kejahatan *aelah* yang masuk ke gedung tinggi penuh mafia. Dia harus naik ke lantai-lantai yang di situ udah nunggu penjahat-penjahat yang bakal menghalangi jalannya buat sampai ke otak mafia, si Ma-Ma itu tadi. Trus akhirnya malah pada bilang, “Oh, mungkin saking mirip ceritanya, jadi judulnya juga mirip, Dredd – Dered *The Raid*:. Hehe. Tapi emang kok, kalo udah pernah nonton The Raid trus nonton Dredd, langsung berasa kemiripannya.. ;D

Overall sih film ini layak buat ditonton.. Seru! Tapiii, buat orang yang ndak terlalu suka film-film brutal, mending mikir dua kali deh buat nonton film ini. Hehe. Soalnya ya emang sadis dan brutal. Darah ada di mana-mana, kepala pecah, otak berhamburan, manusia dikuliti, dll. Sampe dengan kasiannya, si @rudibachtiar jadi korban, dipukulin @fabulou5i gara-gara filmnya sadis. Hihi. Etapinyalagi, walaupun film ini seru dan banyak action di mana-mana, tetep aja aku sempet ketiduran di tengah2 film.. -________-” *my bad*

Buat aku sih filmnya lumayan oke.. 7,5 / 10 lah. Yang agak “mengganggu” ya cuman kemiripan cerita antara Dredd sama The Raid sih. Hehe. Kalo untuk detail filmnya, aku kebetulan kurang merhatiin, secara ngantuk gitu juga.. Hehe.

Yang jelas, bagian yang lebih seru tu ya abis filmnya kelar, kita pada lanjut makan di Nasi Uduk Gaul, belakang Mega Kuningan.. Hahaha. Jam 1an gitu masih aja rame, pun makanannya juga enak, murah. Tapi ya itu, masa malem2 gitu makan nasi uduk, trus apa kabar perutku..?? Hmm..

Kalo penasaran ama filmnya, coba cek dulu trailernya di bawah ini.. 🙂

 

[review] Lovely Man

Tema LGBT kayaknya lagi banyak diangkat sama sineas2 Indonesia. Setelah sebelumya ada film omnibus Sanubari Jakarta, tanggal 10 Mei ini ada film Lovely Man. Dan beruntungnya aku bisa ikutan nonton Gala Premier-nya kemaren Selasa. Hehehe. *thanks to @film_indonesia n’ @MovieGoersID*.

Nah, kalo Sanubari Jakarta itu ceritanya komplit—Lesbian, Gay, Biseksual, sama Transgender—, film Lovely Man ini lebih terfokus ke Transgender. Peran Ipuy, sebagai tokoh sentral di film ini, diperankan dengan sangat apik sama Donny Damara. Luwes banget. Hehe. Mulai dari caranya “jualan”, flirting ke pelanggannya, dll. Jadi, cerita inti dari film ini tu tentang anak yang terpisahkan dari bapaknya, Cahaya (Raihaanun). Nah, si Cahaya ini nekat ke Jakarta cuman buat ketemu sama bapaknya, yang identitasnya sangat-sangat dirahasiakan sama si ibu. Ibunya cuman pengen si Cahaya nggak kecewa waktu tau identitas si bapak yang sebenarnya. Cerita lanjutannya gimana? Tonton sendiri aja ya, takut jadi spoiler di sini.. Hehe.

Yang jelas, Teddy Soeriaatmadja berhasil menyutradarai film ini dengan sangat baik. Sepanjang nonton film, aku sama sekali nggak ngerasa bosen sama sekali. Yang ada, aku bener-bener mantengin film ini dari awal sampe selesai. Dan itu salah satunya karena pengarah kamera film ini tu si Ical Tanjung. Aku mulai suka sama karyanya Ical Tanjung sejak aku nonton film Heart. Abis itu, tiap ada film baru yang DoP-nya Ical, aku berasa harus nonton aja gitu. Hehe. Awalnya aku nggak tau kalo film Lovely Man ini DoP-nya Ical Tanjung. Begitu baca ada nama dia di poster, ekspektasiku sama film ini semakin tinggi. Dan apa yang terjadi? Mataku bener2 dimanjain sama framing-framing dia yang mantep! Hehe. Zipper tas, zipper dibuka trus nunjukin si Cahaya baca kartu pos, tangan menyusuri pembatas jalan, air keluar dari shower, dll. Love it!! 🙂

Oya, kalo ngomong soal kontinuitas, scene-scene yang disajikan di film ini cukup terjaga kontinuitasnya. Antara satu scene dan scene lainnya itu berasa nyambung terus, sampe pada akhirnya aku nemu kejanggalan di scene Warung Padang.. 😦 Padahal dari awal enak banget diliatnya.. Jadi, di scene Warung Padang itu, ada perbedaan cara megang rokoknya si Ipuy pas di-shoot dari depan dan dari belakang.. Sebenernya gak ngganggu banget sih, cuman terasa janggal aja, apalagi perpindahan shot-nya cukup sering.. Tapi walaupun ada “gangguan” itu, tetep aja nggak mengurangi “nilai” keseluruhan film.. Hehe. *ini pendapat orang sotoy lho ya! ;D*

Eh iya, ada dua quote yang kucatet dari film ini, yang kupikir cukup keren! Hehe. Dua-duanya dari dialog Bapak – Anak..

Semakin deket sama orang, semakin cepet lo sakit hati! Udahlah, kenal sama orang seadanya aja!

Apapun yang dilakukan dalam hidup bukan masalah benar atau salah, tapi masalah pilihan hidup.. *bener banget nih! Hehe*

Salah satu yang kusukai dari film ini tu adegan kekerasannya di-blur-in. Jadi penonton nggak disuguhi orang dipukul-pukulin secara gamblang.. Hoho.

Menurutku, film Lovely Man ini jadi salah satu film Indonesia yang layak tonton.. Temanya tidak biasa *tapi memang ada di sekitar kita*, penggarapannya apik, penokohannya pas, semacam paket komplit lah.. Banyak juga yang bilang kalo film ini menyentuh. Dan menurutku sih emang iya.. Gimana perasaan seorang anak yang terpisah sama bapaknya selama kurang lebih 15 tahun, pun pas akhirnya ketemu malah kondisi bapaknya jadi waria.. Buatku, nilai film Lovely Man ini 8,5 dari 10, terutama dari segi sinematografi.. 😀

Gimana ending dari cerita ini? Atau penasaran sama akting Donny Damara yang kubilang total banget itu? Tonton aja filmnya mulai hari ini, tanggal 10 Mei 2012!! Kabarnya Donny Damara ngalahin Andy Lau sebagai Best Actor di Festival Film Asia Ke- lho! *info didapat dari blognya Dido*

Jadi, tunggu apa lagi..?? Luangkan waktumu buat nonton film ini ya…!! 🙂

 

Tag: , , , , , , , , ,

[Review] Sanubari Jakarta

Yak, setelah ketunda hampir seminggu, akhirnya aku nonton film ini.. Jujur, dari awal aku punya keinginan buat nonton film ini, aku sama sekali nggak tau film ini bercerita tentang apa.. Jadi, dari awal ya aku taunya film Sanubari Jakarta ini cuman film omnibus.. Aku gak baca sinopsisnya, aku gak baca reviewnya, dan aku pun juga gak liat trailernya..

Beberapa menit sebelum nonton, pas lagi di Trans Jakarta tuh, ada temen yang bilang kalo film Sanubari Jakarta ini bercerita tentang banyak orientasi seksual.. Oke lah, nggak masalah, yang penting emang dari awal *bahkan sebelum tau ceritanya tentang apa* aku pengen nonton film ini.

Dan bener deh, waktu udah masuk dan nonton filmnya, ternyata emang bener, filmnya tentang LGBT. Jadi, kalo disimpulkan, ada 10 cerita dengan tokoh dan sutradara yang berbeda-beda pula.. Dan kesepuluh cerita itu berkaitan dengan “dunia” LGBT, kaya seorang gay yang berkepribadian ganda, seorang bapak2 yang terpaksa menjadi waria demi menghidupi keluarganya di kampung, seorang wanita yang ternyata dulunya seorang bocah laki-laki, seorang ibu rumah tangga yang jatuh cinta dengan guru TK anaknya yang juga perempuan, sepasang gay yang mencoba untuk menutupi “identitas” mereka, dll. Kubilang sih ceritanya cukup menarik, atau bahkan mungkin bisa dibilang sangat menarik..

Satu hal yang sempet jadi pertanyaan setelah aku nonton film ini adalah, kenapa judulnya Sanubari Jakarta. Abis ngobrol ama temen2, menurut pendapat dia sih kenapa judulnya Sanubari Jakarta, karena memang itulah yang terjadi di Jakarta.. Salah satu hal yang mungkin “disembunyikan”, karena mungkin masih banyak yang berfikir bahwa menjadi seorang L/G/B/T masih belum diterima masyarakat. Kalo kupikir2, ada benernya juga itu film dikasih judul Sanubari Jakarta dengan alasan yang dibilang temenku itu tadi.. Well, maklum, secara aku emang lemah dalam penjudulan tiap kali aku nulis cerita.. XD

Hmm, sebenernya aku bingung sih mau ngreview gimana tentang film ini, soalnya kan ada 10 cerita tuh.. Menurutku sih hampir semua ceritanya menarik, baik dari segi cerita maupun visualisasinya.. Kalo boleh milih, aku paling suka cerita pertama tentang seorang cowok berkepribadian ganda, seorang ibu rumah tangga yang jatuh cinta sama guru TK anaknya, dan film bisu tentang pekerja pabrik. Dan kalo boleh nyebut, cerita yang gak terlalu aku suka tu yang tentang Srikandi dan cerita monolog. Tentunya aku punya alasan dong kenapa suka dan nggak suka. Mau tau..?? Lanjut baca yuk! XD

Cerita pertama yang aku suka itu tentang cowok berkepribadian ganda.. Jadi, ada sepasang, entah pasangan gay entah sahabatan, salah satunya punya dua kepribadian. Taruhlah, si A dan si B.. Nah, si B ini, dia punya dua kepribadian. Visualisasi dari dua kepribadian ini tu bener2 dibikin smoooth banget.. Scene-nya dibikin kalo si A bareng si B dalam “kondisi” cowok, si A biasa2 aja.. Giliran si A bareng sama si B dalam “kondisi” cewek, si A bener2 ngerasa enjoy banget.. Trus ada scene di ruang tertutup yang nunjukin si B cewek dengan background merah yang suka main musik dan masak, dan si B cowok yang cuman suka nonton film. Dua scene ini bener2 dibikin sangat kontras.. Dan mungkin buat penonton “awam” akan merasa bahwa si B cowok dan si B cewek ini orang yang berbeda. Bener2 paket komplit cerita yang pertama ini.. Udah ceritanya keren, framingnya juga mantap, plus coloring dari cerita ini enak banget diliat, ala-ala lomo gitu.. Hehe.

Ada juga film bisu yang nyeritain tentang pekerja pabrik yang suka sama rekan kerjanya, yang juga sama-sama cowok.. Film ini emang sengaja dibikin item putih dan tanpa dialog.. Ceritanya berawal dari si C yang papasan sama si D di pabrik. Trus si C tiba2 ngerasa “terpesona”.. Nah, waktu si C pulang, tiba2 liat si D lagi nunggu angkot di lampu merah.. Disamperin deh si D ama si C, trus ditawarin tebengan.. Eh, trus mereka akhirnya jadian, tinggal bareng serumah deh.. Berasa idup mereka tu bahagiaaa banget.. Sampe pada akhirnya si C nunggu di traffic light lagi, sendiri.. Dan ternyata itu tadi semua cuman khayalan sambil nunggu lampu merah berubah jadi ijo.. Hohoho..

Trus kenapa aku gak gitu suka cerita yang Srikandi dan cerita monolog? Pertama, kalau yang cerita Srikandi itu, kesannya jadi berasa “biasa” dibandingkan cerita-cerita lainnya. Aku gak bilang cerita Srikandi ini jelek lho, tapi kesannya jadi berasa timpang dibandingkan cerita lainnya. Trus kedua, kenapa aku gak suka yang cerita monolog? Sebenernya lebih karena aku gak gitu ngerti apa yang diceritain. Menurut temenku sih itu tentang transgender juga yang sebenernya dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.. Sekali lagi, aku gak gitu suka dengan kedua cerita ini bukan karena apa-apa, tapi karena cerita-cerita lainnya lebih terasa “menohok” buatku. Hehe.

Overall, kesepuluh cerita yang ada di Sanubari Jakarta ini menarik buat ditonton.. Dari yang serius, mikir, sampe yang kocak juga ada.. Kalau dikasih nilai, tiap ceritanya beda-beda sih, tapi rata-rata 7,5 lah, soalnya ada yang bagus banget, tapi ada yang biasa-biasa aja.. Hehe.

Kalo mau tau cerita apa aja yang disajikan di film Sanubari Jakarta ini, kamu bisa baca di sini..

Penasaran gimana film omnibus tentang drama LGBT ini? Buruan tonton di bioskop2 terdekat..!! Keburu ilang dari peredaran lho.. Hehehe.


PS:

Waktu nonton film ini tu berasa nonton sekumpulan film fiksimini dijadiin satu dan diputer di bioskop.. XD *termasuk dengan twisted ending di beberapa cerita* Hohoho..

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Negeri 5 Menara!

Demi bisa nonton Sampai Ujung Dunia, maka mau nggak mau aku harus ngelarin review Negeri 5 Menara, hari ini juga. Hehe.

Sebenernya aku udah lama pengen nonton film ini, bahkan sejak film ini belum dirilis. Alasannya satu, kata banyak orang sih bukunya bagus, dan sampe review ini kubuat, aku belum baca buku karya Ahmad Fuadi ini, sama sekali. Hehehe. Kalau mau baca sinopsisnya, mampir ke sini aja ya.. Aku cuman mau bahas opiniku tentang film ini.. ;D

Well, lagi-lagi karena alasan kerjaan, aku telat dateng ke bioskop sampe sekitar 10 menitan.. T.T Dan yang pertama menarik perhatianku adalah latar musiknya. Kubilang sih oke, asyik didengernya. Nggak terlalu berat, tapi masuk ke scene-scenenya. Hehe. Di akhir film aku baru tau kalo Sound Designer-nya Khikmawan Santosa dan Music Scoring-nya dibikin sama Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro. Aku nggak terlalu familiar dengan nama-nama itu sih, tapi karya mereka TOP BGT!

Daaaan, seperti biasa, aku selalu tertarik untuk mengamati kualitas gambar dan cara framing scene-scene di hampir setiap film-film Indonesia. Begitu juga dengan film Negeri 5 Menara ini. Beberapa menit aku nonton film ini, aku langsung penasaran sama DoP-nya. Aku suka sama framing scene-scene di film ini. Gambarnya pun juga cerah. Salah satu scene yang aku suka adalah pas scene tangan David Chalik ngelap gunting di asrama pesantren. Cool! Pas udah kelar filmnya, aku baru tau kalo DoP-nya Roy Rolang. Dan entah akunya yang gak gitu “gaul” atau gimana, nama ini *sekali lagi* gak terlalu familiar di telingaku, tapi aku suka ama framing2 dia di film ini.

Oya, masih soal teknis kamera, film Negeri 5 Menara ini banyak memakai teknik panning. Dan salah satu yang aku suka adalah scene yang tadinya cuman berisi satu guru di depan kelas, tiba-tiba kamera bergerak dan menunjukkan seisi aula *yang ternyata luas*. Dan emang sih, semakin ke sini, semakin terperangah *halah* sama scene-scene yang dikasih. Well, ini karena aku suka framing yang gak terlalu biasa sih. Hehe.

Eh, eh, Donny Alamsyah kan biasanya main di film action kan ya.. Nah, tiba-tiba liat dia jadi ustadz di film Negeri 5 Menara ini kok agak gimana gitu.. Berasa beda..

Oya, ada satu quote yang aku suka dari film ini *yang juga jadi benang merahnya*.

Ingat, bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh. Man Jadda, Wa Jadda.. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Dan, scene ini bener-bener bikin merinding! Pas Ustadz Salman dan murid-murid bilang “Man Jadda, Wa Jadda” berulang-ulang. Dari yang satu dua orang aja yang ngomong, pelan-pelan semakin banyak murid yang ngomong “slogan” ini. Ditambah lagi latar musik yang awalnya pelan, lama-lama makin keras, dan situasinya juga naik.. KEREN!

Oya, ada beberapa quote lagi yang aku suka dari film ini:

Orang besar itu adalah mereka yang lulus dan keluar dari pesantren ini dan kemudian dengan ikhlas mengajarkan ilmunya sampai ke pelosok desa.

Kamu bs merubah dunia dg kata2. *Ini menohok! Secara aku yang sebenernya suka nulis, tapi ndak terlalu memanfaatkan itu. Huhu*

Film ini berdurasi sekitar dua jam lebih, tapi sama sekali nggak pengen terlewat sedikit pun. Bahkan kemaren, waktu aku nonton, sempet ngerasa kebelet pipis, tapi bener-bener kutahan demi nggak mau kelewat satu scene-pun dari film ini. Hehe.

Hmm, kayaknya aku emang bener2 suka sama DoP-nya.. Ada satu scene yang juga aku suka, pas Alif, Sarah, ama anaknya ustadz lagi di taman.. Kamera ngambil dari kejauhan, trus di depan kamera ada bunga-bunga gitu, dan bunga-bunga itu dibikin blur. Hasilnya? Luar biasa! Bunga-bunga yang sengaja di-blur-in itu jadi kaya semacam foreground dari scene itu. Jadi kaya ada frame gitu di scene ini. Hoho.

Dan memang, film Negeri 5 Menara ini bener-bener tepat memasangkan Roy Rolang (sebagai DoP) dengan Sound Designer plus Music Scoring-nya. Hasil perpaduan karya mereka bener-bener jenius! Ada satu scene yang antara gambar dan musiknya tu nge-blend dan keren banget, pas adegan Alif dkk ngangkut es kering pake becak di tengah sawah. It’s superb! Two thumbs up for them! Hehe.

Overall, aku berani ngasih nilai 8,5 dari 10 untuk film ini. Ada sih beberapa kekurangan di film ini *terutama di bagian ending yang terkesan agak maksa*, tapi secara keseluruhan film ini sangat layak ditonton!! 🙂

Good job!! 🙂

Bravo film Indonesia!! ;D

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 17, 2012 in entertainment, sebuah pembelajaran...

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Sedikit opini tentang film DILEMA!

Baiklah, setelah tujuh hari ketunda gara2 kesibukan kerja yang membuatku harus bertahan di kantor sampai jam 19.30 – 21.00 setiap harinya *kok malah curhat??*, akhirnya mau gak mau hari ini aku mengharuskan diri untuk membuat review film Dilema yang udah kutonton beberapa hari yang lalu..

Well, sebenernya emang dari awal aku liat ada film Dilema ini, aku emang bener2 berniat untuk nonton film ini. Satu, karena aku emang udah lama ndak nonton film Indonesia; dua, karena tiba2 aku teracuni buat bikin review film yang dulu suka aku lakukan kalo abis nonton film Indonesia. *thanks to @Josep_Xavier & @asliga yang udah bikin aku begini* XD

Dan, jadilah, kemaren Senin sepulang kantor aku langsung buru2 ngejar waktu buat ke Hollywood XXI buat nonton film Dilema. Agak telat sekitar 5 menit sih, tapi tak apa lah. Hehe..

Oke, film dibuka dengan adegan demo organisasi yang mengatasnamakan agama, trus akhirnya terjadi konflik. Cukup berani untuk satu film yang langsung mengetengahkan konflik di awal cerita. Biasanya sih intro berjalan dengan teratur, karena emang kadang kalo naruh konflik di awal menurutku agak rawan sih.. Ya kalo berhasil dan langsung ngena ke cerita, kalo enggak? Tapi sejauh beberapa menit aku nonton kemaren, konflik di awal udah bikin aku ngeh ke filmnya.

Satu hal “utama” yang selalu kulihat dari film Indonesia *juga film2 lainnya sih benernya* adalah kualitas gambar dan sinematografinya. Buatku, film Dilema ini gambar dan framingnya lumayan enak dilihat. Gambarnya sih beda sama gambar di beberapa film baru lainnya yang bener2 cerah dan bening, kaya di film Arisan. Gambar di film Dilema ini lebih berasa ala-ala Lomo, tapi justru mungkin itu yang emang sengaja diangkat sama sinematografernya untuk lebih menonjolkan cerita dari film ini.

Sambil berjalannya film, aku baru ngeh kalo ternyata film ini tu “bertabur” bintang.. Gak main2, ada Jajang C. Noer, Tio Pakusodewo, Ario Bayu, Wulan Guritno, Ray Sahetapy, Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Pevita Pearce, Roy Marten, Baim Wong, DJ Winky, dll. Cukup berani untuk menggandeng banyak artis papan atas itu untuk bermain dalam satu film. Mungkin konsepnya sih semacam New Year’s Eve, Valentine’s Day, atau LOVE, tapi dengan cerita yang berbeda.

Jadi film ini tu mengisahkan tentang beberapa karakter yang mempunyai masalah masing2, terkait dengan kehidupan mereka di Jakarta. Ada pejudi berat, polisi yang mencoba untuk bertahan dengan idealisme dan permainan “bersih”-nya tapi disandingkan dengan polisi yang suka main kotor, ada jg perempuan yang sering dikecewain laki-laki sampai akhirnya memutuskan untuk jadi lesbian, seorang abg yang udah pernah lepas dari jeratan narkoba tapi akhirnya terjerumus lagi karena gak dapet kasih sayang orang tua, dll. Buat aku sih penyunting film ini terbilang berhasil menyatukan banyak cerita itu ke dalam satu film utuh. Nggak kerasa ada cerita yang kepotong2. Well, kalaupun ada, itu nggak terlalu mengganggu. Dan sepanjang film, aku nggak ngeliat adanya bloopers yang mencolok, kaya di film Pupus.

Meskipun sebenernya cerita film ini kuat, dan visualisasi dari DoP-nya udah ngena, tapi sayangnya ada beberapa *mungkin malah banyak* bagian yang terasa kurang kuat atau kurang terasa dramatis. Seakan-akan hanya lewat gitu aja. Kaya contohnya waktu si Rima (Wulan Guritno) yang tiba2 khilaf nyium Dian (Pevita Pearce), harusnya adegan “roman” yang pada akhirnya membuat Rima nyium Dian tu lebih didramatisir. Dan lagi, setelah Rima nyadar bahwa dia khilaf, “penyesalan” yang dilakukan terasa hambar, kaya berasa sebatas membaca naskah. Lain lagi waktu organisasi berbasis agama membubarkan tontonan Dangdut Dorong (DangDor). Hampir sama sekali nggak kerasa adanya konflik di sini. Satu, karena orangnya kurang banyak, sehingga kericuhannya kurang kerasa; dua, karena pemain di scene ini kurang total. Seandainya scene ini lebih diperkuat, pasti akan ngena ke penonton. Mungkin ini salah satu kekurangan dari film Dilema ini, kurangnya dramatisasi dari scene2 tertentu. Emang penata musik, sutradara, sama DoP harus bener2 bekerja sama buat bisa bikin apa yang pengen disampaikan ke penonton bener2 bisa ngena. Btw, sotoy banget yak opiniku? Hehehe.

Oya, sepanjang film aku nyatet beberapa quote dari film ini. Beberapa sih menurutku bagus..

Tuhan gak perlu dibela! Tidak seperti umat-Nya yang selalu haus akan kekuasaan!  ~ *Scene konflik antara Ibnu (Baim Wong) dengan Said (DJ Winky)*.

Mencari surga tidak harus dengan kekerasan. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. ~ *Scene Ibnu (Baim Wong) di-“ceramahi” ustadz*.

Kalau mau menang 150 juta, bakalan rugi LEBIH dari itu! ~ *Scene Sigit (Slamet Rahardjo) pas mau minjem uang ke Lukman Sardi*.

Btw, ada yang tau gak ya pengambilan gambar pas Pevita Pearce mencoba bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di laut itu di pantai mana? Itu pantainya keren banget! Meskipun suasana scene itu sendu, tapi birunya laut dan langitnya bener2 bikin amazed! Hehehe.

Hmm, apa lagi yak yang mau dibahas dari film ini? Keseluruhan sih oke menurutku.. Cuman ya itu tadi, akan sangat jauh lebih kece kalo dramatisasi dari scene2 yang dari segi cerita udah kuat perlu ditambah lagi.. Sayang banget kalo ceritanya udah kuat tapi aplikasi ke film jadinya agak lemah. Hehee.

Oya, satu lagi..!! Baru tau kalo DoP film ini tu Yudi Datau, yang aku kenal emang framing gambarnya asyik! Pantesan sepanjang film aku berasa “kenal” dengan gaya framing ini. Bukannya sok tau sih, tapi tiap kali nonton film, kalo framing dan sinematografinya bisa kubilang bagus, pasti aku nunggu credit title-nya untuk tau siapa DoP-nya. Dan memang, Yudi Datau ini salah satu DoP favoritku. Hehehe.

Well, ini sih opini pribadiku tentang film Dilema ini. Ada yang setuju atau tidak, itu masalah biasa. Yang penting, kita harus sama2 mendukung film Indonesia untuk bisa lebih maju dan jadi tuan rumah di negri sendiri.. 🙂

See ya on the next review..!! Hihi. .

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,