RSS

Arsip Kategori: Iseng aja gitu nulis di kantor! XD

Sampah, tulisan beneran, cerpen, pokoknya semua yang ditulis di kantor aja gitu.. XD

[review] 3Sum

Baiklah, setelah seeeeeekian lama ndak bikin movie review, akhirnya aku “memberanikan” diri buat bikin review film 3Sum ini.. ;D

Jadi, langsung aja deh ke review-nya.. Hehe.

Kayaknya film omnibus tu masih jadi “trend” di kalangan filmmaker. Setelah kemaren ada Sinema Purnama, Dilema, dll, di awal tahun 2013 ini ada film 3Sum. Film 3Sum ini lebih kepada 3  film yang saling tidak berhubungan tentang cinta, kehidupan, dan kematian *merujuk pada sinopsis di 21 cineplex sih ;D* Ketiga film itu adalah Insomnights, Rawa Kucing, dan Impromptu.

Insomnights bercerita tentang seorang Morty (Winky Wiryawan) yang harus berhadapan dengan gangguan insomnia yang dideritanya. Segmen ini merupakan hasil kolaborasi antara Witra Asliga dan Andri Cung. Secara keseluruhan, film ini digarap dengan apik. Suspense-nya kerasa, bikin penonton penasaran plus terhenyak dengan twist yang diberikan di ending. Buat aku, segmen Insomnights ini pada awalnya bikin excited, tapi pas udah mulai muncul “makhluk2 itu” *yang sebenernya cuman ada di fantasi si Morty*, jadi bikin “males”. Bukan berarti segmen ini jelek dan mbosenin lho ya, tapi lebih ke akunya yang lagi males nonton film ber-“makhluk” gitu. Hehe.

Ending dari cerita ini sebenernya udah mulai ketebak di tengah segmen, tapi aku tetep nunggu sebenernya endingnya bakal gimana. Dan ternyata bener sih, endingnya sesuai dengan prediksiku. Hehe. Gimana hubungannya sama tunangannya, gimana dia musti menghadapi insomnia-nya yang terus berkelanjutan, dan apa yang ada di balik kejadian-kejadian aneh waktu dia mengalami insomnia, semua dijawab tuntas di endingnya. Mungkin bagi sebagian orang segmen ini agak terasa “bikin males”. Ada beberapa orang yang bilang alur maju-mundur di segmen Insomnights ini mbingungin dan musti mikir. Hehehe.

Next, segmen Rawa Kucing (Andri Cung) bercerita tentang kehidupan di Rawa Kucing pada tahun 1980an. Di segmen ini pemain-pemainnya berakting dengan apik menurutku *walau ada beberapa yang agak “kelebihan” dikit*. Ayin (Aline Adita) yang hobi foya-foya dan hura-hura musti menghadapi beberapa masalah pelik, yang ternyata pada akhirnya akan membawanya kepada cinta sejatinya, Willy (Natalius Chendana). Segmen ini selain menyuguhkan kisah percintaan, konflik keluarga, lengkap dengan unsur komedi di dalamnya. Penggambaran tahun 1980an pada segmen ini juga sangat kental, dilihat dari coloringnya, termasuk outfit dari pemain-pemainnya.

Acungan jempol patut diberikan buat Natalius Chendana. Meskipun dia berakting sebagai orang bisu yang terpaksa menjadi gigolo karena tuntutan ekonomi keluarga, karakternya cukup kuat di segmen ini. Begitu pula dengan Aline Adita. Atau bahkan semua pemain di segmen ini. Mereka bermain begitu pas dengan porsi masing-masing. Kesan drama dari segmen ini juga begitu terasa menurutku. Dan ada satu scene yang cukup mengena buatku, ketika Willy ngasih sandal jepitnya ke Ayin pas di pasar. Sederhana, tapi bikin, “Ooh”. Hehe.

Segmen terakhir, Impromptu (William Chandra). Segmen ini bercerita tentang dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argobie) dan Lina (Hannah Al-Rashid). Genre action yang diusung segmen ini cukup menarik. Satu, penggambaran sosok Amin dan Lina sebagai pembunuh bayaran yang baru terkuak di ending cerita. Dua, isu perampokan *dan pemerkosaan* oleh sekelompok orang yang mengaku polisi dengan modus razia narkoba diangkat secara gamblang.

Buatku, penggambaran cerita di segmen Impromptu ini cukup mengesankan. Satu hal yang agak disayangkan, entah kenapa bagian perkelahian di segmen ini kurang menggigit. Berasa ada yang kurang gitu. Mungkin salah satunya dikarenakan pergerakan kamera yang kurang dinamis. Jadi pas adegan perkelahian tu kurang mantep. Hehe. But overall, segmen ini berhasil menyuguhkan kisah pembunuh bayaran secara elegan dan berkelas. Pemilhan setting tempat juga cukup menyokong kekuatan cerita.

Secara keseluruhan, film 3Sum ini bisa dibilang menjadi salah satu film Indonesia yang layak ditonton. Tiga genre, tiga cerita berbeda, dalam satu film. Setidaknya, 3Sum menyiratkan semakin berkembangnya perfilman Indonesia yang bukan hanya dipegang orang-orang itu aja.

Oya, waktu aku nonton film 3Sum ini, tumben-tumbenan aku nggak terlalu perduli dengan dialog, quote, scoring, ataupun sinematografinya. *padahal biasanya sok-sokan mengkritisi, juga memuji, detail film-film yang kutonton. hehe* Udah terlalu fokus sama cerita yang disuguhkan.. 😀 Dan tentunya aku ndak ketiduran dong pas nonton film ini.. Hihi.

Well, film ini setidaknya bisa menjadi barometer semakin majunya perfilman Indonesia. Banyak filmmaker2 baru yang punya idealisme tinggi untuk “memperbaiki” citra perfilman Indonesia di negri sendiri. Buat kamu yang pada penasaran film 3Sum itu seperti apa, bisa liat trailer di bawah ini:

PS:
Abis nonton film ini, ada aja komen dari temen via twitter, “3Sum tu film apaan sih? Esek-esek yah?”. Otaknya perlu dicuci trus dikasih pemutih rasanya.. XD

Iklan
 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

(Cerita di Balik Nonton Film) Dredd

Setelah sekian lama vakum dari kegiatan nonton-menonton di bioskop, akhirnya kemaren Sabtu *secara ndak sengaja* aku nonton film Dredd ini. Awalnya sih sama sekali ndak kepikiran buat nonton tu film, secara ndak gitu tertarik juga. Eh, tiba2 si @sidhancrut kontak kalo dia lagi di Kuningan City sama @dbrahmantyo juga, mau midnite nonton film ini. Waktu itu aku lagi nonton konser Mozart Night di Aula Simfonia, yang notabene baru kelar sekitar jam 10 an.

Akhirnya, mungkin juga karena sifat impulsif yang kadang-kadang berlebihan, aku langsung nyusul ke Kuningan City buat ikutan nonton midnite. Dan ternyata, sampe sana, udah ada @defickry juga, sama temen2 yang lain.. Lumayan lah, ikutan nonton sekali, dapet temennya banyak kali.. XD

Dan akhirnya jam 23.50 kami bersembilan mulai nonton Dredd. Aku sih berharapnya cuman satu, ndak ketiduran selama nonton film ini, secara sebelumnya udah sangaaaat ngantuk. Hehee.

Kalo di 21cineplex sih sinopsisnya begini:

Masa depan, dunia berubah menjadi gurun. Di pantai timur terletak satu kota mega metropolis dimana para penjahat menguasai jalan-jalan. Satu-satunya keadilan dikenal sebagai ’Judges.’ Mereka memegang seluruh kekuasaan hakim, juri dan algojo

Hakim Dredd (Karl Urban) adalah tim elit penegak hukum Amerika. Ia terkenal dan ditakuti di seluruh kota dimana ia harus menyingkirkan kejahatan setiap harinya. Kali ini, sebuah epidemi obat berbahaya, SLO-MO, menyebarluas. Untuk menghentikan kelompok-kelompok yang terlibat jual beli obat tersebut, Dredd bekerjasama dengan Cassandra Anderson (Olivia Thirlby), seorang cenayang handal. Mereka menemukan bahwa Ma-Ma (Lena Headey) – sang penyalur obat terlarang – mengendalikan klan kejam dan mereka harus menghentikannya. Perang antara Ma-Ma klan dan Judges pun tidak dapat dihindari

Awal nonton, emang seru.. Kejar-kejaran penjahat, dan segala macemnya. Di awal sih ada beberapa scene yang awalnya bikin agak bingung, kenapa ada adegan kejar-kejaran yang di slow motion-kan plus ada efek-efek sparkling gitu. Ternyata efek itu tu karena obat terlarang bernama Slo-Mo yang diedarkan sama klan Ma-Ma. Kata beberapa temen sih emang efeknya kayaknya bakalan bagus kalo ditonton versi 3D-nya. Hehe.

Nah, mulai pertengahan, ada kejanggalan yang kerasa banget. Bukan cuman aku aja yang ngerasain, tapi temen-temen yang lain juga. Komentarnya sama, “Kok jadi berasa The Raid banget ya?”. Dan emang, film ini tu alur cerita dan premis-nya mirip banget sama The Raid. Ceritanya tentang pemberantas kejahatan *aelah* yang masuk ke gedung tinggi penuh mafia. Dia harus naik ke lantai-lantai yang di situ udah nunggu penjahat-penjahat yang bakal menghalangi jalannya buat sampai ke otak mafia, si Ma-Ma itu tadi. Trus akhirnya malah pada bilang, “Oh, mungkin saking mirip ceritanya, jadi judulnya juga mirip, Dredd – Dered *The Raid*:. Hehe. Tapi emang kok, kalo udah pernah nonton The Raid trus nonton Dredd, langsung berasa kemiripannya.. ;D

Overall sih film ini layak buat ditonton.. Seru! Tapiii, buat orang yang ndak terlalu suka film-film brutal, mending mikir dua kali deh buat nonton film ini. Hehe. Soalnya ya emang sadis dan brutal. Darah ada di mana-mana, kepala pecah, otak berhamburan, manusia dikuliti, dll. Sampe dengan kasiannya, si @rudibachtiar jadi korban, dipukulin @fabulou5i gara-gara filmnya sadis. Hihi. Etapinyalagi, walaupun film ini seru dan banyak action di mana-mana, tetep aja aku sempet ketiduran di tengah2 film.. -________-” *my bad*

Buat aku sih filmnya lumayan oke.. 7,5 / 10 lah. Yang agak “mengganggu” ya cuman kemiripan cerita antara Dredd sama The Raid sih. Hehe. Kalo untuk detail filmnya, aku kebetulan kurang merhatiin, secara ngantuk gitu juga.. Hehe.

Yang jelas, bagian yang lebih seru tu ya abis filmnya kelar, kita pada lanjut makan di Nasi Uduk Gaul, belakang Mega Kuningan.. Hahaha. Jam 1an gitu masih aja rame, pun makanannya juga enak, murah. Tapi ya itu, masa malem2 gitu makan nasi uduk, trus apa kabar perutku..?? Hmm..

Kalo penasaran ama filmnya, coba cek dulu trailernya di bawah ini.. 🙂

 

[review] Lovely Man

Tema LGBT kayaknya lagi banyak diangkat sama sineas2 Indonesia. Setelah sebelumya ada film omnibus Sanubari Jakarta, tanggal 10 Mei ini ada film Lovely Man. Dan beruntungnya aku bisa ikutan nonton Gala Premier-nya kemaren Selasa. Hehehe. *thanks to @film_indonesia n’ @MovieGoersID*.

Nah, kalo Sanubari Jakarta itu ceritanya komplit—Lesbian, Gay, Biseksual, sama Transgender—, film Lovely Man ini lebih terfokus ke Transgender. Peran Ipuy, sebagai tokoh sentral di film ini, diperankan dengan sangat apik sama Donny Damara. Luwes banget. Hehe. Mulai dari caranya “jualan”, flirting ke pelanggannya, dll. Jadi, cerita inti dari film ini tu tentang anak yang terpisahkan dari bapaknya, Cahaya (Raihaanun). Nah, si Cahaya ini nekat ke Jakarta cuman buat ketemu sama bapaknya, yang identitasnya sangat-sangat dirahasiakan sama si ibu. Ibunya cuman pengen si Cahaya nggak kecewa waktu tau identitas si bapak yang sebenarnya. Cerita lanjutannya gimana? Tonton sendiri aja ya, takut jadi spoiler di sini.. Hehe.

Yang jelas, Teddy Soeriaatmadja berhasil menyutradarai film ini dengan sangat baik. Sepanjang nonton film, aku sama sekali nggak ngerasa bosen sama sekali. Yang ada, aku bener-bener mantengin film ini dari awal sampe selesai. Dan itu salah satunya karena pengarah kamera film ini tu si Ical Tanjung. Aku mulai suka sama karyanya Ical Tanjung sejak aku nonton film Heart. Abis itu, tiap ada film baru yang DoP-nya Ical, aku berasa harus nonton aja gitu. Hehe. Awalnya aku nggak tau kalo film Lovely Man ini DoP-nya Ical Tanjung. Begitu baca ada nama dia di poster, ekspektasiku sama film ini semakin tinggi. Dan apa yang terjadi? Mataku bener2 dimanjain sama framing-framing dia yang mantep! Hehe. Zipper tas, zipper dibuka trus nunjukin si Cahaya baca kartu pos, tangan menyusuri pembatas jalan, air keluar dari shower, dll. Love it!! 🙂

Oya, kalo ngomong soal kontinuitas, scene-scene yang disajikan di film ini cukup terjaga kontinuitasnya. Antara satu scene dan scene lainnya itu berasa nyambung terus, sampe pada akhirnya aku nemu kejanggalan di scene Warung Padang.. 😦 Padahal dari awal enak banget diliatnya.. Jadi, di scene Warung Padang itu, ada perbedaan cara megang rokoknya si Ipuy pas di-shoot dari depan dan dari belakang.. Sebenernya gak ngganggu banget sih, cuman terasa janggal aja, apalagi perpindahan shot-nya cukup sering.. Tapi walaupun ada “gangguan” itu, tetep aja nggak mengurangi “nilai” keseluruhan film.. Hehe. *ini pendapat orang sotoy lho ya! ;D*

Eh iya, ada dua quote yang kucatet dari film ini, yang kupikir cukup keren! Hehe. Dua-duanya dari dialog Bapak – Anak..

Semakin deket sama orang, semakin cepet lo sakit hati! Udahlah, kenal sama orang seadanya aja!

Apapun yang dilakukan dalam hidup bukan masalah benar atau salah, tapi masalah pilihan hidup.. *bener banget nih! Hehe*

Salah satu yang kusukai dari film ini tu adegan kekerasannya di-blur-in. Jadi penonton nggak disuguhi orang dipukul-pukulin secara gamblang.. Hoho.

Menurutku, film Lovely Man ini jadi salah satu film Indonesia yang layak tonton.. Temanya tidak biasa *tapi memang ada di sekitar kita*, penggarapannya apik, penokohannya pas, semacam paket komplit lah.. Banyak juga yang bilang kalo film ini menyentuh. Dan menurutku sih emang iya.. Gimana perasaan seorang anak yang terpisah sama bapaknya selama kurang lebih 15 tahun, pun pas akhirnya ketemu malah kondisi bapaknya jadi waria.. Buatku, nilai film Lovely Man ini 8,5 dari 10, terutama dari segi sinematografi.. 😀

Gimana ending dari cerita ini? Atau penasaran sama akting Donny Damara yang kubilang total banget itu? Tonton aja filmnya mulai hari ini, tanggal 10 Mei 2012!! Kabarnya Donny Damara ngalahin Andy Lau sebagai Best Actor di Festival Film Asia Ke- lho! *info didapat dari blognya Dido*

Jadi, tunggu apa lagi..?? Luangkan waktumu buat nonton film ini ya…!! 🙂

 

Tag: , , , , , , , , ,

[fiksi] Persis Seperti Yang Ibuku Pernah Bilang

Aku pernah berbicara suatu ketika dengan ibuku tentang pernikahan. Menurutnya, menjadi seorang pengantin adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan. “Kamu akan terlihat saaangat cantik,” ujarnya saat itu. Dan memang benar adanya. Hari ini aku terlihat menawan dengan busana yang kukenakan.

Aku kembali mematut diri di depan cermin, memastikan penampilanku kali ini benar-benar sempurna. Seperti putri raja, mungkin. Atau, bisa jadi seanggun ratu kecantikan di atas panggung. Ah, entahlah. Yang jelas aku ingin terlihat cantik hari ini, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Atau setidaknya, aku hanya ingin merasa cantik.

Aku melatih senyumku di depan cermin. Senyum simpul. Senyum manis. Senyum lebar. Semua sudah kucoba. Semoga fotografer yang bertugas akan menangkap senyum-senyum terindahku di pelaminan nanti.

Gaun yang kukenakan saat ini sebenarnya tak terlalu mewah, tapi entah kenapa aku merasa menjadi seorang wanita yang terlihat anggun ketika memakainya. Kebaya putih selutut dipadu dengan kain batik tulis berwarna coklat muda. Sangat simpel, tapi aku merasa istimewa.

Kudekapkan tanganku di dada, kurasakan detil bahan kebaya yang kupakai. Aku tersenyum. Sungguh cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Kuamati gaun itu dari kiri ke kanan, depan ke belakang. Kuputar perlahan badanku sambil mengamati bayanganku pada cermin besar di depanku. Punggungku telanjang, nyaris terlihat sempurna dikelilingi renda kebaya ini. Aku kembali tersenyum, membayangkan pujian tamu undangan yang hadir di pernikahanku nanti.

Pandanganku kembali tertuju pada cermin. Kudekatkan wajahku ke cermin itu, melihat-lihat kembali make up yang kupakai. “Cantik,” gumamku pendek. Kuraba pipiku. Terlihat sangat mulus. Bibirku yang merah terlihat mencolok tanpa kesan norak. Aku suka.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Ya, ini saatnya. Kembali kurapikan gaun itu, sambil terus tersenyum. Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Aku menoleh ke pintu, ternyata ia ada di sana, ibuku. Aku tersenyum kepadanya. Perlahan ia berjalan ke arah ranjang, kemudian duduk di atasnya.

“Seandainya ibu tahu yang sebenarnya, Nak,” ujarnya lirih.

Aku menggeleng, sambil berjalan menghampirinya.

“Seandainya ibu tahu siapa calon suamimu sesungguhnya”. Kali ini ia terisak.

Ingin rasanya aku memeluknya untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Aku berusaha mengusap air mata yang perlahan mulai menetes, tapi nihil. Air mata ibu semu bagiku, begitu pun hadirnya. Sekuat tenaga aku berusaha merengkuhnya, tetap nihil. Yang kulihat hanya sosok ibuku yang semakin terisak sambil memeluk kebayaku erat-erat.

“Ibu, lihat aku! Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang!” teriakku. Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang terbendung. “Ibu, lihat aku! Lihat aku!”

Aku berusaha mengguncang tubuh ibuku, tapi ia bergeming. Isaknya semakin menjadi.

Tiba-tiba kakakku masuk, menghambur memeluk ibuku. Ia tampak berusaha menahan tangis.

“Istighar, Bu! Istighfar!” kata kakakku sambil mempererat pelukannya ke ibuku yang masih saja terisak. “Istighfar, Bu. Ikhlaskan Mala. Relakan kepergiannya”.

Aku terhenyak. Tatapan mataku kosong.

“Relakan Mala, Bu. Dia sudah tenang di sisi-Nya,” kata kakakku lirih sambil terus memeluk ibu. “Ibu tabah ya”.

Aku melangkah mundur perlahan. Peristiwa yang kualami semalam ternyata bukan mimpi buruk. Perkosaan brutal yang dilakukan calon suamiku semalam bukanlah mimpi buruk. Semua adalah nyata, termasuk rasa sakit yang kurasakan. Tak tega melihat tangis ibu dan kakakku yang semakin hebat, aku berjalan menjauh dari mereka.

“Ibu, Tuhan telah menjawab doaku. Kini aku merasa sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang. Terima kasih untuk mimpi indah tentang pernikahan yang selalu ibu ceritakan padaku. Semoga Tuhan segera menggantikan kebahagian ibu yang terenggut hari ini.”

 

[Review] Sanubari Jakarta

Yak, setelah ketunda hampir seminggu, akhirnya aku nonton film ini.. Jujur, dari awal aku punya keinginan buat nonton film ini, aku sama sekali nggak tau film ini bercerita tentang apa.. Jadi, dari awal ya aku taunya film Sanubari Jakarta ini cuman film omnibus.. Aku gak baca sinopsisnya, aku gak baca reviewnya, dan aku pun juga gak liat trailernya..

Beberapa menit sebelum nonton, pas lagi di Trans Jakarta tuh, ada temen yang bilang kalo film Sanubari Jakarta ini bercerita tentang banyak orientasi seksual.. Oke lah, nggak masalah, yang penting emang dari awal *bahkan sebelum tau ceritanya tentang apa* aku pengen nonton film ini.

Dan bener deh, waktu udah masuk dan nonton filmnya, ternyata emang bener, filmnya tentang LGBT. Jadi, kalo disimpulkan, ada 10 cerita dengan tokoh dan sutradara yang berbeda-beda pula.. Dan kesepuluh cerita itu berkaitan dengan “dunia” LGBT, kaya seorang gay yang berkepribadian ganda, seorang bapak2 yang terpaksa menjadi waria demi menghidupi keluarganya di kampung, seorang wanita yang ternyata dulunya seorang bocah laki-laki, seorang ibu rumah tangga yang jatuh cinta dengan guru TK anaknya yang juga perempuan, sepasang gay yang mencoba untuk menutupi “identitas” mereka, dll. Kubilang sih ceritanya cukup menarik, atau bahkan mungkin bisa dibilang sangat menarik..

Satu hal yang sempet jadi pertanyaan setelah aku nonton film ini adalah, kenapa judulnya Sanubari Jakarta. Abis ngobrol ama temen2, menurut pendapat dia sih kenapa judulnya Sanubari Jakarta, karena memang itulah yang terjadi di Jakarta.. Salah satu hal yang mungkin “disembunyikan”, karena mungkin masih banyak yang berfikir bahwa menjadi seorang L/G/B/T masih belum diterima masyarakat. Kalo kupikir2, ada benernya juga itu film dikasih judul Sanubari Jakarta dengan alasan yang dibilang temenku itu tadi.. Well, maklum, secara aku emang lemah dalam penjudulan tiap kali aku nulis cerita.. XD

Hmm, sebenernya aku bingung sih mau ngreview gimana tentang film ini, soalnya kan ada 10 cerita tuh.. Menurutku sih hampir semua ceritanya menarik, baik dari segi cerita maupun visualisasinya.. Kalo boleh milih, aku paling suka cerita pertama tentang seorang cowok berkepribadian ganda, seorang ibu rumah tangga yang jatuh cinta sama guru TK anaknya, dan film bisu tentang pekerja pabrik. Dan kalo boleh nyebut, cerita yang gak terlalu aku suka tu yang tentang Srikandi dan cerita monolog. Tentunya aku punya alasan dong kenapa suka dan nggak suka. Mau tau..?? Lanjut baca yuk! XD

Cerita pertama yang aku suka itu tentang cowok berkepribadian ganda.. Jadi, ada sepasang, entah pasangan gay entah sahabatan, salah satunya punya dua kepribadian. Taruhlah, si A dan si B.. Nah, si B ini, dia punya dua kepribadian. Visualisasi dari dua kepribadian ini tu bener2 dibikin smoooth banget.. Scene-nya dibikin kalo si A bareng si B dalam “kondisi” cowok, si A biasa2 aja.. Giliran si A bareng sama si B dalam “kondisi” cewek, si A bener2 ngerasa enjoy banget.. Trus ada scene di ruang tertutup yang nunjukin si B cewek dengan background merah yang suka main musik dan masak, dan si B cowok yang cuman suka nonton film. Dua scene ini bener2 dibikin sangat kontras.. Dan mungkin buat penonton “awam” akan merasa bahwa si B cowok dan si B cewek ini orang yang berbeda. Bener2 paket komplit cerita yang pertama ini.. Udah ceritanya keren, framingnya juga mantap, plus coloring dari cerita ini enak banget diliat, ala-ala lomo gitu.. Hehe.

Ada juga film bisu yang nyeritain tentang pekerja pabrik yang suka sama rekan kerjanya, yang juga sama-sama cowok.. Film ini emang sengaja dibikin item putih dan tanpa dialog.. Ceritanya berawal dari si C yang papasan sama si D di pabrik. Trus si C tiba2 ngerasa “terpesona”.. Nah, waktu si C pulang, tiba2 liat si D lagi nunggu angkot di lampu merah.. Disamperin deh si D ama si C, trus ditawarin tebengan.. Eh, trus mereka akhirnya jadian, tinggal bareng serumah deh.. Berasa idup mereka tu bahagiaaa banget.. Sampe pada akhirnya si C nunggu di traffic light lagi, sendiri.. Dan ternyata itu tadi semua cuman khayalan sambil nunggu lampu merah berubah jadi ijo.. Hohoho..

Trus kenapa aku gak gitu suka cerita yang Srikandi dan cerita monolog? Pertama, kalau yang cerita Srikandi itu, kesannya jadi berasa “biasa” dibandingkan cerita-cerita lainnya. Aku gak bilang cerita Srikandi ini jelek lho, tapi kesannya jadi berasa timpang dibandingkan cerita lainnya. Trus kedua, kenapa aku gak suka yang cerita monolog? Sebenernya lebih karena aku gak gitu ngerti apa yang diceritain. Menurut temenku sih itu tentang transgender juga yang sebenernya dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.. Sekali lagi, aku gak gitu suka dengan kedua cerita ini bukan karena apa-apa, tapi karena cerita-cerita lainnya lebih terasa “menohok” buatku. Hehe.

Overall, kesepuluh cerita yang ada di Sanubari Jakarta ini menarik buat ditonton.. Dari yang serius, mikir, sampe yang kocak juga ada.. Kalau dikasih nilai, tiap ceritanya beda-beda sih, tapi rata-rata 7,5 lah, soalnya ada yang bagus banget, tapi ada yang biasa-biasa aja.. Hehe.

Kalo mau tau cerita apa aja yang disajikan di film Sanubari Jakarta ini, kamu bisa baca di sini..

Penasaran gimana film omnibus tentang drama LGBT ini? Buruan tonton di bioskop2 terdekat..!! Keburu ilang dari peredaran lho.. Hehehe.


PS:

Waktu nonton film ini tu berasa nonton sekumpulan film fiksimini dijadiin satu dan diputer di bioskop.. XD *termasuk dengan twisted ending di beberapa cerita* Hohoho..

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Kopaja, Oh Kopaja..

Well, beberapa hari ini aku emang lagi sering naik Kopaja buat ke kantor, secara ndak tau kenapa akhir2 ini sering aja gitu bangunnya mepet.. Hehe. Padahal dulunya jaman awal2 kerja tu bisa bangun lebih awal, jadinya waktu untuk persiapan plus jalan ke kantor tu masih banyak.. ;D

Dan, beginilah penampakan bis itu.. Hehe.

Jadi biasanya kalo dari kos2an, aku tinggal keluar gang, trus nunggu di jalan yang super duper macet itu.. XD Yah, kalo jam berangkat dan pulang kantor emang jalan raya di daerah kos2an ku macet banget.. Mungkin bisa dibilang jalanan itu jadi cobaan buat penggunanya.. Nggak mobil, motor, bis, bahkan busway.. Hehe.

Sebenernya hari ini tu aku pengennya jalan lagi ke kantor, tapi apalah daya, bangunnya kembali mepet.. Alhasil dari rumah aku udah pake kemeja dan celana kerja *walau pake sandal jepit juga*.. ;D

Dan, apa yang terjadi sodara-sodara? Berhubung hari ini kan Senin ya, hari pertama orang2 pada kerja setelah libur satu atau dua hari, mungkin pada agak kesiangan juga kali ya.. Jadi jam setengah 8 aku keluar dari kos, jalanan tu macetnya minta ampun.. Tapi tetep, mau nggak mau aku harus naik bis biar sampe kantor tinggal ngadem bentar, trus pake sepatu, udah siap deh buat kerja.. Hehe. Nah, waktu aku naik, ternyata bisnya udah penuh, dan akhirnya aku dapet tempat di depan pintu. Udah di tangga paling bawah tuh..

Belum ada lima menit jalan, tiba2 ada calon penumpang lain mau naik.. Di dalem bis yang udah penuh sesak gitu, kami2 yang di tangga masih harus naik lagi.. Dan yang terjadi, bis udah berasa kaya tempat sauna.. Hahahaa. Well, karena emang udah diniatin naik bis, ya ndak boleh ngeluh.. Emang kaya gitu kondisinya.. Hehe. Tapi ni ya, yang agak toeng tu waktu lagi2 si kondektur maksain buat nambah penumpang terus.. Aku yang tadinya di depan pintu, bisa diselipin aja gitu di deket tempat duduk depan pintu.. Tentunya dengan kondisi yang seadanya, berdiri cuman bertumpu satu kaki, dan siap2 berasa mau jatuh kalo bisnya lagi ngerem.. ;D

Yah, begitulah Jakarta.. Macet udah jadi sarapan sehari-hari orang sini. Mau nggak mau emang kaya gitu kondisinya.. Dibawa enjoy aja.. Lha kalo dibawa ngeluh malah capek to jadinya? Hehe.

Mungkin emang bener kata orang, idup di Jakarta tu berasa bakalan tua di jalan.. Yah, itu kalo emang dibawa stress.. Kalo dibawa enjoy kayaknya ya bakalan baik-baik aja kok.. *sok wise* ;D

Jadi, kapan transportasi umum di Jakarta bisa dibilang layak? Kita tunggu saja.. Hohoho..

 

Tag: , , , , , ,

Sedikit opini tentang film DILEMA!

Baiklah, setelah tujuh hari ketunda gara2 kesibukan kerja yang membuatku harus bertahan di kantor sampai jam 19.30 – 21.00 setiap harinya *kok malah curhat??*, akhirnya mau gak mau hari ini aku mengharuskan diri untuk membuat review film Dilema yang udah kutonton beberapa hari yang lalu..

Well, sebenernya emang dari awal aku liat ada film Dilema ini, aku emang bener2 berniat untuk nonton film ini. Satu, karena aku emang udah lama ndak nonton film Indonesia; dua, karena tiba2 aku teracuni buat bikin review film yang dulu suka aku lakukan kalo abis nonton film Indonesia. *thanks to @Josep_Xavier & @asliga yang udah bikin aku begini* XD

Dan, jadilah, kemaren Senin sepulang kantor aku langsung buru2 ngejar waktu buat ke Hollywood XXI buat nonton film Dilema. Agak telat sekitar 5 menit sih, tapi tak apa lah. Hehe..

Oke, film dibuka dengan adegan demo organisasi yang mengatasnamakan agama, trus akhirnya terjadi konflik. Cukup berani untuk satu film yang langsung mengetengahkan konflik di awal cerita. Biasanya sih intro berjalan dengan teratur, karena emang kadang kalo naruh konflik di awal menurutku agak rawan sih.. Ya kalo berhasil dan langsung ngena ke cerita, kalo enggak? Tapi sejauh beberapa menit aku nonton kemaren, konflik di awal udah bikin aku ngeh ke filmnya.

Satu hal “utama” yang selalu kulihat dari film Indonesia *juga film2 lainnya sih benernya* adalah kualitas gambar dan sinematografinya. Buatku, film Dilema ini gambar dan framingnya lumayan enak dilihat. Gambarnya sih beda sama gambar di beberapa film baru lainnya yang bener2 cerah dan bening, kaya di film Arisan. Gambar di film Dilema ini lebih berasa ala-ala Lomo, tapi justru mungkin itu yang emang sengaja diangkat sama sinematografernya untuk lebih menonjolkan cerita dari film ini.

Sambil berjalannya film, aku baru ngeh kalo ternyata film ini tu “bertabur” bintang.. Gak main2, ada Jajang C. Noer, Tio Pakusodewo, Ario Bayu, Wulan Guritno, Ray Sahetapy, Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Pevita Pearce, Roy Marten, Baim Wong, DJ Winky, dll. Cukup berani untuk menggandeng banyak artis papan atas itu untuk bermain dalam satu film. Mungkin konsepnya sih semacam New Year’s Eve, Valentine’s Day, atau LOVE, tapi dengan cerita yang berbeda.

Jadi film ini tu mengisahkan tentang beberapa karakter yang mempunyai masalah masing2, terkait dengan kehidupan mereka di Jakarta. Ada pejudi berat, polisi yang mencoba untuk bertahan dengan idealisme dan permainan “bersih”-nya tapi disandingkan dengan polisi yang suka main kotor, ada jg perempuan yang sering dikecewain laki-laki sampai akhirnya memutuskan untuk jadi lesbian, seorang abg yang udah pernah lepas dari jeratan narkoba tapi akhirnya terjerumus lagi karena gak dapet kasih sayang orang tua, dll. Buat aku sih penyunting film ini terbilang berhasil menyatukan banyak cerita itu ke dalam satu film utuh. Nggak kerasa ada cerita yang kepotong2. Well, kalaupun ada, itu nggak terlalu mengganggu. Dan sepanjang film, aku nggak ngeliat adanya bloopers yang mencolok, kaya di film Pupus.

Meskipun sebenernya cerita film ini kuat, dan visualisasi dari DoP-nya udah ngena, tapi sayangnya ada beberapa *mungkin malah banyak* bagian yang terasa kurang kuat atau kurang terasa dramatis. Seakan-akan hanya lewat gitu aja. Kaya contohnya waktu si Rima (Wulan Guritno) yang tiba2 khilaf nyium Dian (Pevita Pearce), harusnya adegan “roman” yang pada akhirnya membuat Rima nyium Dian tu lebih didramatisir. Dan lagi, setelah Rima nyadar bahwa dia khilaf, “penyesalan” yang dilakukan terasa hambar, kaya berasa sebatas membaca naskah. Lain lagi waktu organisasi berbasis agama membubarkan tontonan Dangdut Dorong (DangDor). Hampir sama sekali nggak kerasa adanya konflik di sini. Satu, karena orangnya kurang banyak, sehingga kericuhannya kurang kerasa; dua, karena pemain di scene ini kurang total. Seandainya scene ini lebih diperkuat, pasti akan ngena ke penonton. Mungkin ini salah satu kekurangan dari film Dilema ini, kurangnya dramatisasi dari scene2 tertentu. Emang penata musik, sutradara, sama DoP harus bener2 bekerja sama buat bisa bikin apa yang pengen disampaikan ke penonton bener2 bisa ngena. Btw, sotoy banget yak opiniku? Hehehe.

Oya, sepanjang film aku nyatet beberapa quote dari film ini. Beberapa sih menurutku bagus..

Tuhan gak perlu dibela! Tidak seperti umat-Nya yang selalu haus akan kekuasaan!  ~ *Scene konflik antara Ibnu (Baim Wong) dengan Said (DJ Winky)*.

Mencari surga tidak harus dengan kekerasan. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. ~ *Scene Ibnu (Baim Wong) di-“ceramahi” ustadz*.

Kalau mau menang 150 juta, bakalan rugi LEBIH dari itu! ~ *Scene Sigit (Slamet Rahardjo) pas mau minjem uang ke Lukman Sardi*.

Btw, ada yang tau gak ya pengambilan gambar pas Pevita Pearce mencoba bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di laut itu di pantai mana? Itu pantainya keren banget! Meskipun suasana scene itu sendu, tapi birunya laut dan langitnya bener2 bikin amazed! Hehehe.

Hmm, apa lagi yak yang mau dibahas dari film ini? Keseluruhan sih oke menurutku.. Cuman ya itu tadi, akan sangat jauh lebih kece kalo dramatisasi dari scene2 yang dari segi cerita udah kuat perlu ditambah lagi.. Sayang banget kalo ceritanya udah kuat tapi aplikasi ke film jadinya agak lemah. Hehee.

Oya, satu lagi..!! Baru tau kalo DoP film ini tu Yudi Datau, yang aku kenal emang framing gambarnya asyik! Pantesan sepanjang film aku berasa “kenal” dengan gaya framing ini. Bukannya sok tau sih, tapi tiap kali nonton film, kalo framing dan sinematografinya bisa kubilang bagus, pasti aku nunggu credit title-nya untuk tau siapa DoP-nya. Dan memang, Yudi Datau ini salah satu DoP favoritku. Hehehe.

Well, ini sih opini pribadiku tentang film Dilema ini. Ada yang setuju atau tidak, itu masalah biasa. Yang penting, kita harus sama2 mendukung film Indonesia untuk bisa lebih maju dan jadi tuan rumah di negri sendiri.. 🙂

See ya on the next review..!! Hihi. .

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,