RSS

[review] 3Sum

Baiklah, setelah seeeeeekian lama ndak bikin movie review, akhirnya aku “memberanikan” diri buat bikin review film 3Sum ini.. ;D

Jadi, langsung aja deh ke review-nya.. Hehe.

Kayaknya film omnibus tu masih jadi “trend” di kalangan filmmaker. Setelah kemaren ada Sinema Purnama, Dilema, dll, di awal tahun 2013 ini ada film 3Sum. Film 3Sum ini lebih kepada 3  film yang saling tidak berhubungan tentang cinta, kehidupan, dan kematian *merujuk pada sinopsis di 21 cineplex sih ;D* Ketiga film itu adalah Insomnights, Rawa Kucing, dan Impromptu.

Insomnights bercerita tentang seorang Morty (Winky Wiryawan) yang harus berhadapan dengan gangguan insomnia yang dideritanya. Segmen ini merupakan hasil kolaborasi antara Witra Asliga dan Andri Cung. Secara keseluruhan, film ini digarap dengan apik. Suspense-nya kerasa, bikin penonton penasaran plus terhenyak dengan twist yang diberikan di ending. Buat aku, segmen Insomnights ini pada awalnya bikin excited, tapi pas udah mulai muncul “makhluk2 itu” *yang sebenernya cuman ada di fantasi si Morty*, jadi bikin “males”. Bukan berarti segmen ini jelek dan mbosenin lho ya, tapi lebih ke akunya yang lagi males nonton film ber-“makhluk” gitu. Hehe.

Ending dari cerita ini sebenernya udah mulai ketebak di tengah segmen, tapi aku tetep nunggu sebenernya endingnya bakal gimana. Dan ternyata bener sih, endingnya sesuai dengan prediksiku. Hehe. Gimana hubungannya sama tunangannya, gimana dia musti menghadapi insomnia-nya yang terus berkelanjutan, dan apa yang ada di balik kejadian-kejadian aneh waktu dia mengalami insomnia, semua dijawab tuntas di endingnya. Mungkin bagi sebagian orang segmen ini agak terasa “bikin males”. Ada beberapa orang yang bilang alur maju-mundur di segmen Insomnights ini mbingungin dan musti mikir. Hehehe.

Next, segmen Rawa Kucing (Andri Cung) bercerita tentang kehidupan di Rawa Kucing pada tahun 1980an. Di segmen ini pemain-pemainnya berakting dengan apik menurutku *walau ada beberapa yang agak “kelebihan” dikit*. Ayin (Aline Adita) yang hobi foya-foya dan hura-hura musti menghadapi beberapa masalah pelik, yang ternyata pada akhirnya akan membawanya kepada cinta sejatinya, Willy (Natalius Chendana). Segmen ini selain menyuguhkan kisah percintaan, konflik keluarga, lengkap dengan unsur komedi di dalamnya. Penggambaran tahun 1980an pada segmen ini juga sangat kental, dilihat dari coloringnya, termasuk outfit dari pemain-pemainnya.

Acungan jempol patut diberikan buat Natalius Chendana. Meskipun dia berakting sebagai orang bisu yang terpaksa menjadi gigolo karena tuntutan ekonomi keluarga, karakternya cukup kuat di segmen ini. Begitu pula dengan Aline Adita. Atau bahkan semua pemain di segmen ini. Mereka bermain begitu pas dengan porsi masing-masing. Kesan drama dari segmen ini juga begitu terasa menurutku. Dan ada satu scene yang cukup mengena buatku, ketika Willy ngasih sandal jepitnya ke Ayin pas di pasar. Sederhana, tapi bikin, “Ooh”. Hehe.

Segmen terakhir, Impromptu (William Chandra). Segmen ini bercerita tentang dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argobie) dan Lina (Hannah Al-Rashid). Genre action yang diusung segmen ini cukup menarik. Satu, penggambaran sosok Amin dan Lina sebagai pembunuh bayaran yang baru terkuak di ending cerita. Dua, isu perampokan *dan pemerkosaan* oleh sekelompok orang yang mengaku polisi dengan modus razia narkoba diangkat secara gamblang.

Buatku, penggambaran cerita di segmen Impromptu ini cukup mengesankan. Satu hal yang agak disayangkan, entah kenapa bagian perkelahian di segmen ini kurang menggigit. Berasa ada yang kurang gitu. Mungkin salah satunya dikarenakan pergerakan kamera yang kurang dinamis. Jadi pas adegan perkelahian tu kurang mantep. Hehe. But overall, segmen ini berhasil menyuguhkan kisah pembunuh bayaran secara elegan dan berkelas. Pemilhan setting tempat juga cukup menyokong kekuatan cerita.

Secara keseluruhan, film 3Sum ini bisa dibilang menjadi salah satu film Indonesia yang layak ditonton. Tiga genre, tiga cerita berbeda, dalam satu film. Setidaknya, 3Sum menyiratkan semakin berkembangnya perfilman Indonesia yang bukan hanya dipegang orang-orang itu aja.

Oya, waktu aku nonton film 3Sum ini, tumben-tumbenan aku nggak terlalu perduli dengan dialog, quote, scoring, ataupun sinematografinya. *padahal biasanya sok-sokan mengkritisi, juga memuji, detail film-film yang kutonton. hehe* Udah terlalu fokus sama cerita yang disuguhkan.. 😀 Dan tentunya aku ndak ketiduran dong pas nonton film ini.. Hihi.

Well, film ini setidaknya bisa menjadi barometer semakin majunya perfilman Indonesia. Banyak filmmaker2 baru yang punya idealisme tinggi untuk “memperbaiki” citra perfilman Indonesia di negri sendiri. Buat kamu yang pada penasaran film 3Sum itu seperti apa, bisa liat trailer di bawah ini:

PS:
Abis nonton film ini, ada aja komen dari temen via twitter, “3Sum tu film apaan sih? Esek-esek yah?”. Otaknya perlu dicuci trus dikasih pemutih rasanya.. XD

Iklan
 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

(Cerita di Balik Nonton Film) Dredd

Setelah sekian lama vakum dari kegiatan nonton-menonton di bioskop, akhirnya kemaren Sabtu *secara ndak sengaja* aku nonton film Dredd ini. Awalnya sih sama sekali ndak kepikiran buat nonton tu film, secara ndak gitu tertarik juga. Eh, tiba2 si @sidhancrut kontak kalo dia lagi di Kuningan City sama @dbrahmantyo juga, mau midnite nonton film ini. Waktu itu aku lagi nonton konser Mozart Night di Aula Simfonia, yang notabene baru kelar sekitar jam 10 an.

Akhirnya, mungkin juga karena sifat impulsif yang kadang-kadang berlebihan, aku langsung nyusul ke Kuningan City buat ikutan nonton midnite. Dan ternyata, sampe sana, udah ada @defickry juga, sama temen2 yang lain.. Lumayan lah, ikutan nonton sekali, dapet temennya banyak kali.. XD

Dan akhirnya jam 23.50 kami bersembilan mulai nonton Dredd. Aku sih berharapnya cuman satu, ndak ketiduran selama nonton film ini, secara sebelumnya udah sangaaaat ngantuk. Hehee.

Kalo di 21cineplex sih sinopsisnya begini:

Masa depan, dunia berubah menjadi gurun. Di pantai timur terletak satu kota mega metropolis dimana para penjahat menguasai jalan-jalan. Satu-satunya keadilan dikenal sebagai ’Judges.’ Mereka memegang seluruh kekuasaan hakim, juri dan algojo

Hakim Dredd (Karl Urban) adalah tim elit penegak hukum Amerika. Ia terkenal dan ditakuti di seluruh kota dimana ia harus menyingkirkan kejahatan setiap harinya. Kali ini, sebuah epidemi obat berbahaya, SLO-MO, menyebarluas. Untuk menghentikan kelompok-kelompok yang terlibat jual beli obat tersebut, Dredd bekerjasama dengan Cassandra Anderson (Olivia Thirlby), seorang cenayang handal. Mereka menemukan bahwa Ma-Ma (Lena Headey) – sang penyalur obat terlarang – mengendalikan klan kejam dan mereka harus menghentikannya. Perang antara Ma-Ma klan dan Judges pun tidak dapat dihindari

Awal nonton, emang seru.. Kejar-kejaran penjahat, dan segala macemnya. Di awal sih ada beberapa scene yang awalnya bikin agak bingung, kenapa ada adegan kejar-kejaran yang di slow motion-kan plus ada efek-efek sparkling gitu. Ternyata efek itu tu karena obat terlarang bernama Slo-Mo yang diedarkan sama klan Ma-Ma. Kata beberapa temen sih emang efeknya kayaknya bakalan bagus kalo ditonton versi 3D-nya. Hehe.

Nah, mulai pertengahan, ada kejanggalan yang kerasa banget. Bukan cuman aku aja yang ngerasain, tapi temen-temen yang lain juga. Komentarnya sama, “Kok jadi berasa The Raid banget ya?”. Dan emang, film ini tu alur cerita dan premis-nya mirip banget sama The Raid. Ceritanya tentang pemberantas kejahatan *aelah* yang masuk ke gedung tinggi penuh mafia. Dia harus naik ke lantai-lantai yang di situ udah nunggu penjahat-penjahat yang bakal menghalangi jalannya buat sampai ke otak mafia, si Ma-Ma itu tadi. Trus akhirnya malah pada bilang, “Oh, mungkin saking mirip ceritanya, jadi judulnya juga mirip, Dredd – Dered *The Raid*:. Hehe. Tapi emang kok, kalo udah pernah nonton The Raid trus nonton Dredd, langsung berasa kemiripannya.. ;D

Overall sih film ini layak buat ditonton.. Seru! Tapiii, buat orang yang ndak terlalu suka film-film brutal, mending mikir dua kali deh buat nonton film ini. Hehe. Soalnya ya emang sadis dan brutal. Darah ada di mana-mana, kepala pecah, otak berhamburan, manusia dikuliti, dll. Sampe dengan kasiannya, si @rudibachtiar jadi korban, dipukulin @fabulou5i gara-gara filmnya sadis. Hihi. Etapinyalagi, walaupun film ini seru dan banyak action di mana-mana, tetep aja aku sempet ketiduran di tengah2 film.. -________-” *my bad*

Buat aku sih filmnya lumayan oke.. 7,5 / 10 lah. Yang agak “mengganggu” ya cuman kemiripan cerita antara Dredd sama The Raid sih. Hehe. Kalo untuk detail filmnya, aku kebetulan kurang merhatiin, secara ngantuk gitu juga.. Hehe.

Yang jelas, bagian yang lebih seru tu ya abis filmnya kelar, kita pada lanjut makan di Nasi Uduk Gaul, belakang Mega Kuningan.. Hahaha. Jam 1an gitu masih aja rame, pun makanannya juga enak, murah. Tapi ya itu, masa malem2 gitu makan nasi uduk, trus apa kabar perutku..?? Hmm..

Kalo penasaran ama filmnya, coba cek dulu trailernya di bawah ini.. 🙂

 

[fiksi200kata] Siapa Dia? -2

Entah mengapa malam ini aku merasa sangat bahagia. Pertemuan dengan seseorang tadi setidaknya bisa mengubah hariku yang sebelumnya terasa membosankan menjadi lebih menyenangkan. Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kami memutuskan untuk segera pulang. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahku, aku melenggang penuh suka cita dari restoran itu ke halte bis di dekatnya. Pertemuan yang singkat tadi benar-benar terasa mengesankan buatku. Dan semoga memang dia juga merasakan hal yang sama.

Sembari berjalan, kupasang headset di telingaku. Kuputar lagu-lagu cinta dari handphone-ku, sambil sesekali aku bergumam mengikuti si vokalis bernyanyi. Sampai suatu ketika aku merasa ada sesuatu yang aneh di belakangku. Aku tak menyadari bahwa mungkin sudah sejak tadi aku diikuti seseorang. Aku tak melihatnya, hanya saja ada suara langkah kaki yang terus saja mengikutiku.

Kupercepat langkahku untuk bisa segera sampai ke halte. Ada perasaan was-was yang tiba-tiba menyergapku. Aku harus bergegas!

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke halte. Setidaknya, di sini aku lebih merasa aman.

Kulihat, orang itu melintas di depanku. Ia tampak serius. Sesaat, mata kami beradu. Aku salah tingkah, segera kubuang pandanganku.

Dari kejauhan aku mengamati gerak-geriknya. Ketika akhirnya bisnya datang, aku sengaja menengok ke arahnya. Pandangan kami kembali bertemu, kali ini ia tersenyum.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2012 in bermain dengan kata-kata

 

Bahagia Itu Sederhana

Kalimat ini mungkin udah sering kebaca di timeline twitter kamu.. Biasanya sih kalimat singkat ini dijadiin hestek semacam #GalauItuSederhana, #BegoAdalah, dll.. *kalo hestek terakhir sih biasanya aku yang pake gara2 kebodohan diri sendiri. Hahaha*

Well, balik ke judul tadi, kenapa tiba2 pengen nulis tentang #BahagiaItuSederhana? Bukannya mau sok bijak ya, tapi ada satu kejadian yang tadi kualami, yang bikin aku senyum, dan bilang “Bahagia itu sederhana”. Hehe.

Yah, tadi sehabis sholat Taraweh, aku jalan ke supermarket bentar buat belanja sedikit keperluan harian. Pas mau nyebrang *lewat jembatan penyebrangan*, aku jalan di belakang seorang ibu-ibu tua dan seorang anak kecil, entah itu anak atau cucunya. Aku emang sengaja jalan pelan2 di belakang mereka, tanpa ada maksud untuk mendahului. Aku melihat mereka tampak asyik jalan sambil ngobrol, entah membicarakan apa.

Oya, ibu-ibu tadi memakai pakaian yang sederhana, dengan jilbab berlogo partai pemberian caleg semasa kampanye. Sedangkan si anak kecil *yang kutaksir berumur sekitar 7 tahun* memakai semacam seragam olahraga, jilbab warna oranye, dan membawa karung beras.. Ya, si anak kecil tadi, didampingi ibu atau neneknya, sepertinya memang berniat memulung malam ini.. Sebenernya aku trenyuh melihat mereka, melihat si anak kecil yang seharusnya masih menikmati masa kecilnya tapi udah harus ikut memulung buat bantu-bantu keluarganya.. :’)

Dan, kenapa judul postingan ini “Bahagia Itu Sederhana”? Tak lain adalah karena aku melihat betapa bahagianya si anak kecil ketika menemukan barang-barang terbuang yang bisa ia pungut. Dua kali aku melihat ia memungut, bungkus rokok dan botol plastik. Senyum dan tawanya begitu tulus, bahkan hanya dengan menemukan barang-barang yang sudah dibuang dan dianggap nggak berguna buat orang lain pun ia sebegitu merasa senangnya. Waktu si anak kecil nemu botol plastik, ia memungut botol itu sambil bersorak, seakan-akan dia nemu sesuatu yang sangat berharga. Dan mungkin memang bahkan satu botol plastik pun bisa menjadi barang yang sangat berharga untuk si anak kecil itu tadi.

Sejenak aku berpikir, betapa sederhananya hal yang bisa membuat anak kecil itu tadi merasa bahagia. Mustinya, kita sebagai orang yang lebih dewasa, mempunyai lebih banyak alasan untuk merasa bahagia kan? Kuncinya sih menurutku cuman satu, bersyukur.. Ketika kita merasa bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang, kita akan merasa baik-baik saja dengan itu, dan tanpa mengeluhkan banyak hal, kebahagiaan akan datang begitu saja dalam hidup kita.. *sok bijak* Hihi..

Ngomong-ngomong masalah syukur, jadi inget Surat Ar-Rahman yang mengulang-ulang ayat “Fa bi ayyii ‘ala irabbikumaa tukadzibaan” yang berarti “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Ayat itu simpel, tapi sungguh mengena. Tuhan udah kasih kita banyak hal untuk disyukuri, tapi kadang kita lupa. Padahal, dengan bersyukur dan menerima apa yang ada, hidup kita bakal terasa sangat jauh lebih menyenangkan. Well, aku ngomong gini bukan karena aku juga udah pandai bersyukur atau lebih (sok) tau dari orang lain, cuman pengen ngingetin diri sendiri juga untuk lebih banyak bersyukur.

Jadi, tunggu apa lagi? Belajar bareng-bareng untuk lebih banyak bersyukur yuk! 🙂

 

Tag: , , , , , , ,

Culture Shock??

Bulan ini adalah bulan ketujuh aku tinggal dan kerja di Jakarta. Selama 26 tahun sebelumnya, aku tinggal bareng ortu di Jogja. Dan selama itu pula aku masih tergantung sama orang tua, termasuk tiap bulan Ramadhan. Aku ndak perlu mikirin cari makan sahur di mana, ndak perlu mikirin takut telat bangun sahur, karena ya selama itu pula ada orang tua yang nyiapin sahur, bangunin, dll. Dan berhubung tujuh bulan terakhir ini aku udah cabut dari Jogja buat kerja di Jakarta, mau ndak mau aku harus belajar mandiri, termasuk di bulan Ramadhan kali ini.

Ramadhan ini adalah bulan puasa pertama aku sendiri, di luar Jogja.. Tanpa orang tua yang nyiapin sahur, bangunin sahur, dll. Ramadhan kali ini aku harus nyiapin makan sahur sendiri, harus bisa bangun sahur sendiri *walau masih aja dibangunin sama ortu via telpon sih. Hehehe*.

Well, kenapa judul dari tulisan ini “Culture Shock”? Perbedaan kultur sehari-hari antara Jakarta sama Jogja emang udah kupersiapkan dari awal, jadi sebenernya ndak terlalu jadi masalah buatku. Jadi, apa dong yang kumaksud dengan Culture Shock di sini? Sebenernya bukan culture shock yang gimana-gimana gitu sih. Hehehe. Cuman, ya ada beberapa perbedaan antara suasana puasa di sini sama di Jogja..

Hal pertama yang bikin aku kaget adalah bahwa di Jakarta, terutama di deket kosku, ndak ada pengingat Imsak dari masjid.. Secara biasanya kalo di Kauman Jogja kan pas Imsak pasti ada yang ngingetin dari masjid, jadinya bisa siap2 untuk menyudahi makan dll. Lha di sini, meskipun udah tau waktu imsak itu jam berapa, tapi tetep aja was-was, kalo2 ternyata jamku beda sama jam masjid. Hehe. Dan setelah kutanya ke beberapa temen, ternyata emang di Jakarta jarang banget ada peringatan Imsak dari masjid.. Jadi, katanya, waktu Imsak cuman diketahui dari jam atau dari tivi.. *mringis* *belom punya tivi* ;D

Itu tadi perbedaan masalah “peringatan” Imsak.. Ada lagi yang kedua, masalah itungan rakaat taraweh.. Biasanya, kalo di Jogja, sebelum taraweh ada ceramah dulu, dan sebelum sholat taraweh, disebutin, berapa rakaat tarawehnya dan dibagi menjadi berapa kali. Kalo di masjid deket kosku, abis sholat Isya cuman ada semacam pengantar dari takmir masjidnya tentang jumlah infaq dll, abis itu langsung lanjut Taraweh.. Kukira awalnya di sini juga cuman 8 rakaat yang dibagi menjadi 4 sholat (per 2 rakaat), ternyata 18 rakaat.. Pantesan kok lumayan cepet sholatnya. Dan yang bikin heran, abis rakaat kedelapan, banyak jamaah yang pulang. Ya udah, kupikir waktu itu emang cuman delapan rakaat, trus yang lain ndak ikutan sholat witir.. Ternyata..?? Deng deeeenng.. Masih lanjut taraweh!! Dan berhubung aku ndak tau, akhirnya niat yang diucapkan sebelum sholat jadi amburadul.. Lanjutan sholat Taraweh kuniatin sholat Witir.. T.T

Suasana Ramadhan di sini emang agak beda sama suasana Ramadhan di Jogja, terutama di Kauman.. tapi walau bagaimanapun, yang penting niat untuk berpuasa dan cari pahala sebanyak-banyaknya sih.. hehe. Dan jujur aja, godaan buat ndak sholat Taraweh di sini sangaaaaat gede..!! Huhu. Musti dikuat-kuatin imannya biar kalo endak sholat Taraweh di masjid, setidaknya masih tetep semangat buat sholat Taraweh di kos.. *amiiinn*
Pokoknya, harus selalu semangat..!! Bismillah, puasa pertama jauh dari ortu bakalan lancar dan baik-baik saja.. Amin amin amin.. 🙂

 

Tag: , , , , , , , , , ,

[fiksi123kata] Siapa Dia?

By Anginbiru @B7RU

Mata kami sempat bersitatap sesaat. Aku tak tahu makna tatapannya, tapi kurasa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Kulempar seulas senyum yang sempat ia balas sebelum akhirnya ia alihkan pandangan kembali ke orang di sampingnya.

Dari kejauhan aku memperhatikannya. Senyumnya manis. Kulihat ia tampak asyik berbicara dengan temannya. Mungkin pacarnya. Atau adiknya? Aku tak perduli sebenarnya.

Aku memperhatikannya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Ia tersenyum. Manis sekali. Refleks, aku membuang muka, seolah-olah mata kami tak sengaja bertemu tadi. Sedetik, dua detik, aku tak tahan untuk tidak menoleh ke arahnya lagi. Ternyata ia masih memperhatikanku. Aku tersenyum sambil mengangguk. Mata kami bertatapan cukup lama, sampai akhirnya, “Kiri, Bang!”. Ia turun begitu saja dari bis sambil menganggukkan kepala ke arahku, tetap tersenyum. Siapa dia?

 
 

Tag: , , , , , ,

[review] Lovely Man

Tema LGBT kayaknya lagi banyak diangkat sama sineas2 Indonesia. Setelah sebelumya ada film omnibus Sanubari Jakarta, tanggal 10 Mei ini ada film Lovely Man. Dan beruntungnya aku bisa ikutan nonton Gala Premier-nya kemaren Selasa. Hehehe. *thanks to @film_indonesia n’ @MovieGoersID*.

Nah, kalo Sanubari Jakarta itu ceritanya komplit—Lesbian, Gay, Biseksual, sama Transgender—, film Lovely Man ini lebih terfokus ke Transgender. Peran Ipuy, sebagai tokoh sentral di film ini, diperankan dengan sangat apik sama Donny Damara. Luwes banget. Hehe. Mulai dari caranya “jualan”, flirting ke pelanggannya, dll. Jadi, cerita inti dari film ini tu tentang anak yang terpisahkan dari bapaknya, Cahaya (Raihaanun). Nah, si Cahaya ini nekat ke Jakarta cuman buat ketemu sama bapaknya, yang identitasnya sangat-sangat dirahasiakan sama si ibu. Ibunya cuman pengen si Cahaya nggak kecewa waktu tau identitas si bapak yang sebenarnya. Cerita lanjutannya gimana? Tonton sendiri aja ya, takut jadi spoiler di sini.. Hehe.

Yang jelas, Teddy Soeriaatmadja berhasil menyutradarai film ini dengan sangat baik. Sepanjang nonton film, aku sama sekali nggak ngerasa bosen sama sekali. Yang ada, aku bener-bener mantengin film ini dari awal sampe selesai. Dan itu salah satunya karena pengarah kamera film ini tu si Ical Tanjung. Aku mulai suka sama karyanya Ical Tanjung sejak aku nonton film Heart. Abis itu, tiap ada film baru yang DoP-nya Ical, aku berasa harus nonton aja gitu. Hehe. Awalnya aku nggak tau kalo film Lovely Man ini DoP-nya Ical Tanjung. Begitu baca ada nama dia di poster, ekspektasiku sama film ini semakin tinggi. Dan apa yang terjadi? Mataku bener2 dimanjain sama framing-framing dia yang mantep! Hehe. Zipper tas, zipper dibuka trus nunjukin si Cahaya baca kartu pos, tangan menyusuri pembatas jalan, air keluar dari shower, dll. Love it!! 🙂

Oya, kalo ngomong soal kontinuitas, scene-scene yang disajikan di film ini cukup terjaga kontinuitasnya. Antara satu scene dan scene lainnya itu berasa nyambung terus, sampe pada akhirnya aku nemu kejanggalan di scene Warung Padang.. 😦 Padahal dari awal enak banget diliatnya.. Jadi, di scene Warung Padang itu, ada perbedaan cara megang rokoknya si Ipuy pas di-shoot dari depan dan dari belakang.. Sebenernya gak ngganggu banget sih, cuman terasa janggal aja, apalagi perpindahan shot-nya cukup sering.. Tapi walaupun ada “gangguan” itu, tetep aja nggak mengurangi “nilai” keseluruhan film.. Hehe. *ini pendapat orang sotoy lho ya! ;D*

Eh iya, ada dua quote yang kucatet dari film ini, yang kupikir cukup keren! Hehe. Dua-duanya dari dialog Bapak – Anak..

Semakin deket sama orang, semakin cepet lo sakit hati! Udahlah, kenal sama orang seadanya aja!

Apapun yang dilakukan dalam hidup bukan masalah benar atau salah, tapi masalah pilihan hidup.. *bener banget nih! Hehe*

Salah satu yang kusukai dari film ini tu adegan kekerasannya di-blur-in. Jadi penonton nggak disuguhi orang dipukul-pukulin secara gamblang.. Hoho.

Menurutku, film Lovely Man ini jadi salah satu film Indonesia yang layak tonton.. Temanya tidak biasa *tapi memang ada di sekitar kita*, penggarapannya apik, penokohannya pas, semacam paket komplit lah.. Banyak juga yang bilang kalo film ini menyentuh. Dan menurutku sih emang iya.. Gimana perasaan seorang anak yang terpisah sama bapaknya selama kurang lebih 15 tahun, pun pas akhirnya ketemu malah kondisi bapaknya jadi waria.. Buatku, nilai film Lovely Man ini 8,5 dari 10, terutama dari segi sinematografi.. 😀

Gimana ending dari cerita ini? Atau penasaran sama akting Donny Damara yang kubilang total banget itu? Tonton aja filmnya mulai hari ini, tanggal 10 Mei 2012!! Kabarnya Donny Damara ngalahin Andy Lau sebagai Best Actor di Festival Film Asia Ke- lho! *info didapat dari blognya Dido*

Jadi, tunggu apa lagi..?? Luangkan waktumu buat nonton film ini ya…!! 🙂

 

Tag: , , , , , , , , ,