RSS

Arsip Tag: ulang tahun

Lilinku Patah Jadi Dua, Bunda..

“Bunda, bunda, bacain cerita ini dong!” tutur Iffah polos, padaku. Malam itu aku baru saja sampai di rumah setelah seharian bekerja. Capek? Tentu saja. Aku harus menempuh dua jam perjalanan dengan motorku untuk sampai ke tempat kerja, dan begitu pula sebaliknya.

”Ayo, Bunda, bacain cerita ini,” masih dengan kepolosannya, Iffah kembali memintaku untuk membacakan cerita dari buku cerita yang kubelikan untuknya seminggu lalu. Tiba-tiba Iffah terdiam, ia menatapku dalam-dalam. ”Bunda capek yah? Iffah pijitin dulu yah?”.

Aku hanya tersenyum. Anak perempuanku yang sebentar lagi berumur tujuh tahun ini pintar sekali mengambil hatiku. ”Iya, Iffah. Bunda capek. Iffah mau pijitin Bunda? Nanti Bunda janji bacain buku cerita itu buat Iffah”.

”Asyik!” teriak Iffah girang bukan main. Iapun lantas memijatku dengan tangan-tangan mungilnya. ”Enak, Bunda?”.

”Enak banget! Iffah sudah makin pinter nih, bisa mijitin Bunda sekarang,” jawabku, mencoba memujinya. ”Siapa dulu bundanya?”.

Kami tertawa bersama. Rasa lelah kerja seharian seketika sirna, melihat senyum dan tawa bocah mungi nan cantikku itu.

”Bunda, besok ulang tahun Iffah jadi dirayakan di sekolah kan?” tanya Iffah di sela acara memijatnya. ”Iffah udah bilang ke temen-temen, besok pas Iffah ulang tahun Bunda sama Ayah dateng ke sekolah Iffah, bawa banyak balon sama makanan”.

”Insya Allah, Iffah. Bunda sama Ayah sudah pesan kue ulang tahun, badut, sama balon buat ulang tahun Iffah nanti. Iffah suka kan?” ujarku dengan masih tetap tersenyum.

”Asyik, makasih, Bunda!” kata Iffah kemudian, memelukku.

”Ya sudah, Bunda mandi dulu yah. Bau ni badan Bunda,” kataku sambil mengelus punggung Iffah.

Anakku hanya tersenyum dan mengangguk. Kulihat ia lantas memindah-mindah saluran televisi, sambil memainkan boneka barbienya.

***

Tampaknya cukup lama waktu yang kuhabiskan di kamar mandi tadi, karena ketika aku lewat depan ruang televisi, Iffah sudah tertidur dengan pulasnya sambil memeluk barbie. Aku jadi merasa bersalah, tidak dapat menuntaskan janjiku untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Segera kubopong anakku, dan kupindahkan ke kamarnya yang mungil, di sebelah kamarku.

Lantas aku masuk ke kamar, suamiku belum pulang. Sepertinya ia masih bermain badminton dengan bapak-bapak kompleks.

Kurebahkan badanku di ranjang, segera aku menutup mata, esok hari aku harus bangun lebih pagi. Aku harus datang ke kantor lebih awal, akan ada pertemuan regional di kantorku.

***

Keesokan harinya, ketika aku sedang menyiapkan sarapan untuk anak dan suamiku, tiba-tiba Iffah menghampiriku.

”Bunda, semalem Iffah kok mimpi lilin ulang tahunnya patah jadi dua ya?” tanyanya polos, sambil meminum susu yang kusajikan.

”Memangnya kenapa, Iffah? Iffah mainin ya? Atau ada temen Iffah yang jahil?” jawabku dengan nada setengah bercanda. Sebenarnya ada sedikit perasaan tidak enak terselip di jawabanku tadi.

”Iffah gak tau, Bunda, tiba-tiba lilinnya patah, padahal belum sempet Iffah tiup. Sebel!” gerutunya, masih dengan lagak kanak-kanaknya yang sungguh polos.

Aku menghampiri Iffah yang sudah menghadapi menu sarapan favoritnya, nasi goreng dan telur mata sapi buatanku. Aku lantas mengusap rambutnya, ”Lilinnya sudah bunda simpan baik-baik kok, jadi gak mungkin patah. Ya? Sekarang Iffah habisin nasi gorengnya, trus berangkat ke sekolah”.

”Iya, Bunda”.

***

Selama seharian bekerja, tidak bisa kupungkiri bahwa sedikit banyak aku kepikiran dengan apa yang Iffah katakan pagi tadi. Tentang mimpinya, mimpi seorang bocah kecil berumur tujuh tahun. Namun tampaknya kesibukan bekerjaku lebih menuntutku untuk terus berkonsentrasi dalam menyelesaikannya.

Ketika sampai di rumah, kudapati suasana rumah lengang. Ada satu pesan dari suamiku ternyata, ia mengajak Iffah menginap di rumah neneknya. Cukup jauh dari rumah kami. Aku lantas menelpon suamiku, untuk tidak terlambat mengantarkan Iffah ke sekolah esok hari, karena besok ulang tahunnya akan dirayakan di sekolah.

Setelah mengecek segala macam kebutuhan untuk perayaan ulang tahun Iffah esok hari, aku segera mengistirahatkan raga dan pikiranku.

***

Pagi ternyata telah menjelang. Tidurku semalam tidak terlalu nyenyak, mungkin karena terpikir beberapa penawaran tender yang sudah mendekati tenggat waktu.

Tanpa perlu banyak waktu, aku segera mandi, menelpon EO penyelenggara ulang tahun anakku, dan segera berangkat ke sekolah Iffah.

Sesampainya di sekolah, aku segera bertemu dengan guru kelas Iffah yang sangat ramah. Baru saja kami berbincang sebentar, Iffah dan suamiku datang. Kulihat wajah Iffah begitu ceria. Mungkin ini salah satu hari yang paling membahagiakan untuknya. Aku tersenyum menyambutnya.

”Tadi Iffah makan nasi goreng di tempat nenek, Bunda, tapi masih enak buatan bunda,” bisik Iffah di telingaku, ketika aku memeluknya. Lantas aku berjalan mendekati suamiku yang masih berdiri di dekat mobil, dan mencium tangan.

”Ayo, mas, masuk. Biar pestanya segera dimulai,” ajakku sambil menggamit tangan suamiku.

Dan, perayaan kecil-kecilan ulang tahun anakku pun dimulai. Sungguh membahagiakan melihat senyum putri kecilku. Wajahnya benar-benar ceria, tanpa ada beban yang menggelayuti wajahnya. Senyum dan tawa polos anak-anak.

Tiba-tiba aku didekati suamiku, ”Sudah jam 9 lebih”.

Aku kaget, dan baru teringat akan sesuatu. Lantas aku berpamitan dengan guru dan juga Iffah. Kembali, kulihat wajah ceria Iffah. Wajah yang sangat menenangkan.

”Makasih, Bunda. Makasih, Ayah. Iffah seneng banget!” katanya sambil memeluk kami.

Dan, yah, sekarang sudah jam 9 lebih, aku dan suamiku harus segera bergegas. Sidang pertama perceraian kami diagendakan hari ini, jam 10 tepat. 

Iklan
 
44 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 24, 2011 in bermain dengan kata-kata

 

Tag: , ,